{"id":12281,"date":"2026-06-04T14:53:18","date_gmt":"2026-06-04T07:53:18","guid":{"rendered":"https:\/\/www.catrawarta.com\/?p=12281"},"modified":"2026-06-04T14:53:18","modified_gmt":"2026-06-04T07:53:18","slug":"perahu-sandeq-jejak-kejeniusan-teknologi-maritim-suku-mandar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/berita-perahu-sandeq-jejak-kejeniusan-teknologi-maritim-suku-mandar-12281","title":{"rendered":"Perahu Sandeq, Jejak Kejeniusan Teknologi Maritim Suku Mandar"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perahu <em>sandeq<\/em> sangat identik dengan masyarakat suku Mandar di Sulawesi Barat. Perahu tradisional bercadik ini dikenal sebagai salah satu perahu tanpa mesin tercepat di dunia karena sepenuhnya mengandalkan tenaga angin dan keahlian pelaut dalam mengendalikan layar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perahu <em>sandeq<\/em> mampu melaju hingga 20-30 knot atau sekitar 50 kilometer per jam. Kecepatan itu menjadikannya simbol ketangguhan sekaligus kecerdasan maritim masyarakat Mandar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejumlah tokoh asal Mandar juga dikenal luas di Indonesia, di antaranya almarhum Baharuddin Lopa yang pernah menjabat Jaksa Agung, pakar hukum tata negara Zainal Arifin Mochtar, hingga pedangdut Cici Paramida.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peneliti, jurnalis, sejarawan, dan budayawan maritim Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin, mengatakan perahu sandeq merupakan simbol kejayaan pelaut Mandar yang diwariskan turun-temurun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMasyarakat Mandar menyebutnya <em>lopi sandeq <\/em>atau perahu <em>sandeq<\/em>,\u201d kata Ridwan, Kamis (4\/6\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam buku <em>The Bugis<\/em>, antropolog Christian Pelras menyebut orang Mandar sebagai pelaut ulung. Ridwan mengutip pernyataan Pelras yang pernah dimuat di Harian Kompas bahwa orang Bugis sejatinya dikenal sebagai pedagang, sementara masyarakat Mandar dianggap lebih tepat disebut pelaut tangguh.<br>\u201cKalau mau menyebut pelaut ulung adalah orang Mandar,\u201d ujar Ridwan mengutip Pelras.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Pelras, keunggulan masyarakat Mandar bukan berasal dari teknologi modern, melainkan kemampuan mereka menciptakan teknologi perikanan lokal seperti <em>rumpon<\/em> atau <em>roppong<\/em> serta perahu <em>sandeq<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perahu <em>sandeq<\/em> sendiri merupakan perahu bercadik. Dalam bahasa Mandar, kata <em>\u201csandeq\u201d<\/em> berarti runcing. Bentuknya yang ramping membuat perahu ini mampu membelah ombak dengan cepat.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Whatsapp-image-2026-06-04-at-14%2019%2048-1-1024x766.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-12286\" style=\"width:572px;height:auto\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><sub>Peneliti, jurnalis, sejarawan, dan budayawan maritim Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin (Dok. Alimuddin)<\/sub><\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ridwan menjelaskan, antropolog asal Jerman dan pakar kemaritiman Nusantara, Horst H. Leibner, bahkan menyebut <em>sandeq<\/em> sebagai puncak evolusi perahu bercadik tradisional Austronesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Leibner, desain <em>sandeq<\/em> sangat memenuhi prinsip hidrodinamika karena bentuknya pipih, ringan, dan ramping sehingga meminimalkan gaya gesek air dan tetap stabil meski diterpa angin kencang serta gelombang tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPerahu <em>sandeq<\/em> digunakan masyarakat maritim Mandar untuk mencari ikan sekaligus menjual hasil tangkapan ke pasar-pasar tempat mereka berlabuh. Jalur pelayarannya menjelajah hingga Selat Malaka, Pulau Jawa, Laut Sulu, dan Papua,\u201d terang Ridwan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahkan di Malaysia ada diaspora Mandar yang sudah turun temurun selain bekerja sebagai nelayan juga ada yang berkebun di perkebunan sawit. Ia menambahkan, perahu bercadik ini awalnya menggunakan layar segi empat yang disebut layar <em>tanjaq<\/em>. Bentuk layar tersebut mirip dengan layar perahu tradisional yang terpahat pada relief Candi Borobudur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cLayar <em>tanjaq<\/em> adalah desain layar khas Austronesia yang memanfaatkan tenaga angin secara optimal,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ridwan mengatakan, para pelaut Mandar belajar dari berbagai bentuk kapal yang mereka lihat di banyak dermaga saat berlayar ke berbagai wilayah. Dari pengalaman itulah lahir inovasi desain perahu <em>sandeq<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perahu <em>sandeq<\/em> merupakan evolusi dari perahu pendahulunya bernama <em>pakur<\/em> yang menggunakan layar segi empat seperti di relief Borobudur. Dalam perkembangannya, layar <em>tanjaq<\/em> kemudian berubah menjadi layar segitiga agar lebih adaptif terhadap kondisi angin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cLayar <em>tanjaq<\/em> merupakan bukti kejeniusan pelaut Nusantara selama ribuan tahun,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Ridwan, evolusi desain <em>sandeq<\/em> menunjukkan karakter masyarakat Mandar yang dinamis, terbuka terhadap perubahan, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Saat ini, sekitar 90 persen perahu <em>sandeq<\/em> telah menggunakan mesin untuk menyesuaikan kebutuhan nelayan modern. Meski demikian, perahu <em>sandeq<\/em> klasik masih tetap dipertahankan.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Whatsapp-image-2026-06-04-at-14%2021%2025-1-1024x1022.jpeg\" alt=\"Perahu Sandeq saat melakukan perburuan telur ikan terbang di  Selat Makassar\" class=\"wp-image-12285\" style=\"aspect-ratio:1.0019798361304864;width:572px;height:auto\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><sub>Perahu Sandeq saat melakukan perburuan telur ikan terbang di Selat Makassar. <\/sub><br><sub>(Dok. Muhammad Ridwan Alimuddin)<\/sub><\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSejak Agustus 1995 digelar lomba perahu <em>sandeq<\/em> tradisional untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI. Momentum ini juga menjadi daya tarik wisata olahraga,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis buku Sandeq: Perahu Tercepat di Nusantara itu mengakui jumlah perahu <em>sandeq<\/em> tradisional kini tinggal sekitar selusin unit karena tergerus perkembangan kapal motor. Bagi masyarakat Mandar, <em>sandeq<\/em> bukan sekadar alat transportasi atau sarana mencari ikan. Perahu ini dianggap memiliki nilai sakral dan \u201cbernyawa\u201d sehingga harus dirawat secara spiritual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, masyarakat Mandar mengenal ritual Kuliwa atau Makkuliwa, yakni doa selamatan yang dilakukan sebelum melaut atau saat membuat perahu <em>sandeq<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ritual tersebut digelar di atas perahu dengan pembacaan doa barzanji dan puji-pujian oleh tokoh adat serta masyarakat nelayan sebagai bentuk permohonan keselamatan, kesehatan, dan rezeki selama mengarungi lautan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk perahu baru, ritual juga disertai pemasangan posiq atau lubang kecil di dasar perahu yang dipercaya sebagai titik pusat kekuatan dan \u201cjiwa\u201d perahu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam aktivitas melaut, nelayan Mandar sangat bergantung pada perubahan musim angin. Saat angin musim timur, mereka berburu telur ikan terbang, sedangkan musim barat dimanfaatkan untuk menangkap tuna.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para nelayan bisa berbulan-bulan berada di laut. Karena ukuran perahu <em>sandeq<\/em> kecil dan hanya mampu menampung tiga orang, mereka tidak dapat memasak selama pelayaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai bekal utama, nelayan membawa <em>jepa<\/em>, makanan tradisional khas Mandar berbahan dasar singkong dan parutan kelapa yang dipipihkan menyerupai pizza. <em>Jepa<\/em> dimasak dengan cara dipanggang di atas wadah tanah liat. Makanan ini biasanya disantap bersama gula aren atau lauk ikan kuah kuning.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSaat ini jepa sudah didaftarkan sebagai kekayaan intelektual komunal. Sedangkan perahu <em>sandeq<\/em> telah resmi tercatat dan dilindungi sebagai bagian dari Kekayaan Intelektual Komunal Kemenkumham Sulawesi Barat,\u201d ungkap Ridwan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keberadaan perahu <em>sandeq<\/em> juga telah masuk ke dalam kurikulum pendidikan di Sulawesi Barat sebagai model pembelajaran berbasis kearifan lokal maritim Mandar. Materi yang diajarkan meliputi etnomatematika, seperti bentuk dan sudut layar serta cadik, hingga prinsip fisika aerodinamika dan gaya apung pada desain perahu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cProgram ini sudah berjalan empat tahun, tetapi tahun ini ditiadakan karena efisiensi anggaran pemerintah,\u201d pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perahu sandeq sangat identik dengan masyarakat suku Mandar di Sulawesi Barat. Perahu tradisional bercadik ini dikenal sebagai salah satu perahu tanpa mesin tercepat di dunia karena sepenuhnya mengandalkan tenaga angin dan keahlian pelaut dalam mengendalikan layar. Perahu sandeq mampu melaju hingga 20-30 knot atau sekitar 50 kilometer per jam. Kecepatan itu menjadikannya simbol ketangguhan sekaligus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12284,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[514,518,519],"tags":[124,125,126,127,128],"tmauthors":[],"class_list":["post-12281","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-berita","category-seni-budaya","category-yogya-istimewa","tag-nelayan-mandar","tag-pelaut-mandar","tag-perahu-sandeq","tag-suku-mandar","tag-teknologi-maritim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12281","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12281"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12281\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12284"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12281"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12281"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12281"},{"taxonomy":"tmauthors","embeddable":true,"href":"https:\/\/devyogpos.aksa.app\/versi3\/wp-json\/wp\/v2\/tmauthors?post=12281"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}