catrawarta.com - Selama ini, banyak informasi yang beredar di berbagai platform media sosial mengenai pemberian menu makan berkonsep ‘double protein’ ke kalangan anak-anak. Konsep ini menekankan agar orang tua dianjurkan untuk memberikan dua jenis protein di setiap sesi makan anak untuk memaksimalkan potensi tinggi badan mereka di masa mendatang.
Menanggapi hal ini, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinoligi dr Aman Bhakti Pulungan angkat bicara. Menurut dokter jebolan Universitas Indonesia ini, tidak membenarkan rekomendasi tentang ‘double protein’ untuk membantu meningkatkan tinggi badan anak.
“Saya tidak tahu dari mana ilmu yang menyebut kalau memberi banyak protein itu buat anak jadi tinggi. Yang benar adalah memberikan anak protein yang cukup, itu yang betul,” ujar Prof Aman dalam keterangannya melalui konferensi pers, dikutip Selasa (22/9/2026).
Protein Besar Justru Jadi Beban Tubuh
Asupan protein dalam jumlah sangat besar disebut dapat memberikan beban tersendiri bagi tubuh, terutama ketika sisa metabolisme dari makanan tersebut harus diproses dan dikeluarkan.
Hal itu menjadi perhatian karena manusia, secara biologis, memiliki keterbatasan dalam menangani akumulasi sisa makanan berprotein tinggi, termasuk yang bersumber dari daging.
Gambaran tersebut ia temukan dalam salah satu kasus yang pernah ditanganinya. Saat seseorang mengonsumsi protein hingga berada di kisaran 400–500 gram setiap hari, jumlah tersebut dinilai terlalu berat bagi tubuh dan dapat berujung pada terganggunya fungsi ginjal.
“Memang kalau anak kita kekurangan protein, ada yang mengarah pada malnutrisi namanya. Tapi bukan berarti, kalau kita kasih protein berlebihan, anak akan lebih tinggi. Tidak begitu,” ujarnya.
Susu Sebagai Tambahan Tak Wajib
Pemenuhan kebutuhan nutrisi anak tidak harus bergantung pada satu jenis makanan tertentu. Ia menyarankan orang tua menyajikan makanan yang beragam dalam satu piring agar asupan gizi anak tetap seimbang.
“Yang jelas 2 tahun pertama itu harus ASI. Kalau anak mau tambahan susu di atas usia 1 tahun boleh, misalnya fresh milk, bukan susu formula. Kenapa tidak apa-apa kalau tidak ada? Karena usia 1 tahun anak sudah ikut makanan rumah tangga,” imbuh Prof Aman.
Untuk susu, khususnya fresh milk, ia menyebut kandungan kalsiumnya memang bermanfaat bagi tubuh, tetapi tidak wajib diberikan setiap hari. Dalam sehari, konsumsi susu menurutnya cukup sekitar satu hingga dua gelas.
Luruskan Isu Soal Susu dan Minyak Ikan
Ia juga menyoroti anggapan mengenai produk yang kerap dikaitkan dengan pertumbuhan tinggi badan anak. Menurutnya, susu maupun minyak ikan yang banyak tersedia di apotek tidak serta-merta membuat anak tumbuh lebih tinggi hanya karena dikonsumsi setiap hari.
“Memang vitamin D bagus, kalsium bagus dan kalau kekurangan anak akan pendek. Tetapi kalau normal, dikasih kalsium atau vitamin D berlebihan, itu tidak akan membuat tiba-tiba tinggi. Apa yang membuatnya tinggi? Hidup sesehat dan seideal mungkin, tidur cukup, olahraga cukup, makan cukup dan bahagia,”
Kekhawatiran mengenai pertumbuhan maupun perkembangan anak sebaiknya tidak ditangani dengan memberikan obat atau vitamin secara sembarangan. Aman menyarankan orang tua membawa anak berkonsultasi dengan dokter spesialis anak agar kondisi yang dialami dapat diperiksa berdasarkan keluhan dan kebutuhan masing-masing.
Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat menentukan jenis vitamin atau obat yang diperlukan sesuai kondisi anak. Pemeriksaan juga memungkinkan adanya gangguan pada tulang untuk diketahui lebih awal sehingga penanganannya dapat disesuaikan.
“Jadi pemeriksaan harus detail, misalnya anak kekurangan kalsium, kita kasih seluruh vitamin itu kan tidak bisa, harus kita kasih vitamin D, apalagi tulang juga bisa keropos, patah-patah misalnya, tidak bisa dikasih hal-hal lain,” tandasnya.









