CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Etalase

Mengurai Badai Batin Hendung Tunggal Jati

Penulis: Wahyu Nugroho 16 Jul 2026 6 menit baca
Wahyu nugroho bersama owner hamur artspace
Penulis bersama owner Hamur Artspace di depan karya Hendung Tunggal Jati. (Dok. Garis Edelweiss)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Kalau kita amati dengan seksama, banyak pameran seni rupa kontemporer yang terjebak dalam selebrasi visual yang superfisial.

Di tengah kecenderungan estetika yang serba rapi dan terkalkulasi, pameran tunggal Hendung Tunggal Jati bertajuk “Inside Out” yang berlangsung pada 12–20 Juli 2026 di Hamur Artspace, Malang, hadir bagai sebuah interupsi.

Kolaborasi antara Studio Dinding Luar dan Hamur Artspace ini menyuguhkan ruang kontemplasi yang tidak biasa. Kita seolah diajak memasuki labirin personal seorang pelukis yang menolak tunduk pada dikte pasar maupun trend estetika yang sedang ramai diperbincangkan.

Baca Juga
5 artikel
  1. Etalase Pameran Suluh Sumurup Art Festival di TBY Yogyakarta, Dorong Inklusivitas bagi Seniman Difabel  →
  2. Etalase Melampaui Pagar Metaforis →
  3. Etalase Kegelisahan Wuri, Kegelisahan Anak Negeri →
  4. Etalase Peristiwa Kudatuli, Awal Mula Perlawanan terhadap Orde Baru →
  5. Etalase Dongeng Rupa dan Kritik Ekologis Saiful Ulum →

Hendung Tunggal Jati, sosok kreatif asal Malang lulusan Universitas Negeri Malang, selama ini dikenal memiliki daya hidup kesenian yang sangat tinggi. Aktivitasnya sebagai seorang pendidik di masa lalu sama sekali tidak mengendurkan intensitasnya di depan kanvas. Sebaliknya, pengabdian tersebut tampak menjadi penyeimbang. Gelombang spirit kreatifnya yang terus meletup tanpa jeda. Maka, tidak mengherankan jika ruang-ruang pribadinya senantiasa dipenuhi oleh tumpukan karya.

Bagi Hendung, melukis bukan sekedar perkara memindahkan objek ke atas bidang datar. Aktivitas ini adalah sebuah ritus harian, sebuah kebutuhan eksistensial yang tidak bisa ditunda. Kegairahannya mencakup penjelajahan medium yang sangat luas, melintasi batas-batas konvensi teknik demi menemukan bahasa visual yang paling representatif bagi gejolak batinnya. Melalui pameran tunggalnya ini, kita melihat bagaimana ia melepas seluruh beban teoritis demi meraih kemurnian ekspresi.

Pilihan estetika Hendung yang condong pada corak ekspresif-intuitif bukanlah sebuah kebetulan. Pendekatan tersebut merupakan hasil dari pergulatan panjang menyaring berbagai pengalaman hidup. Dalam medan penciptaan yang bebas, ia menolak kalkulasi rasional yang mengeringkan spontanitas. Ketika kuas mulai menyentuh medium, logika formal seketika runtuh, digantikan oleh dorongan batin yang mengalir deras tanpa bendungan.

Sikap artistik seperti ini mengingatkan kita pada apa yang pernah dinyatakan oleh kritikus seni rupa terkemuka Indonesia, Sanento Yuliman. Ia pernah menyebutkan, bahwa seni yang hidup adalah seni yang lahir dari dorongan organik untuk membebaskan manusia dari kekakuan sistem nilai yang membelenggunya. Hendung tampaknya berjalan di koridor pemikiran tersebut. Ia tidak berusaha memperindah apa yang tampak di permukaan, melainkan menelanjangi apa yang berkecamuk di dalam dada.

Proses kreatifnya bertolak dari gejolak emosi, benturan psikologis, hingga kecemasan eksistensial yang dialihkan menjadi goresan-goresan bertenaga. Istilah “Inside Out” sendiri menjadi penanda yang sangat akurat untuk menggambarkan bagaimana ruang privat spiritual sang seniman diekspos ke ranah publik. Penonton tidak sekedar melihat gambar, melainkan berhadapan dengan suatu energi hidup.

Dari sekian karya abstrak non reprsentasional, di antaranya ada beberapa karya representatif di antaranya bertajuk ‘Pemarah Bermulut Suci’. Lukisan ini menampilkan dualitas karakter manusia yang sangat paradoksal. Ada ketegangan yang digambarkan lewat figurasi wajah terdistorsi, letak mata yang asimetris, serta tatapan tajam yang dihadirkan lewat sapuan warna merah darah. Sapuan merah tersebut seolah menyiratkan watak yang meledak-ledak dan penuh amarah.

Namun, di tengah representasi kemarahan yang pekat itu, Hendung menorehkan cat warna putih di sekitar mulut, dahi, dan mata kanan. Goresan putih ini menjadi simbol kebaikan, kebijaksanaan, atau kata-kata kebenaran yang keluar dari lisan sang tokoh. Latar belakang hitam pekat melengkapi drama visualnya, memfokuskan perhatian kita sepenuhnya pada konflik batin yang sedang berlangsung di atas kanvas.

Dualitas watak manusia yang dihadirkan Hendung dalam lukisan tersebut mencerminkan realitas sosial sehari-hari. Tidak sedikit manusia modern terjebak dalam topeng kemuliaan verbal untuk menutupi gejolak ego yang destruktif. Di sini, sang pelukis bertindak sebagai cermin sosial yang tajam. Ia tidak menghakimi, melainkan menangkap realitas tersebut sebagai bagian dari dinamika kemanusiaan yang kompleks.

Secara teknis, sapuan kuas dalam pamerannya tampak sangat agresif, berat, dan dinamis. Karakter visual seperti ini membawa ingatan kita pada tradisi lukisan gestural dunia. Pelopor gerakan abstrak ekspresionisme, Willem de Kooning, pernah menegaskan bahwa melukis adalah tindakan hidup itu sendiri, sebuah aksi fisik di mana kanvas menjadi arena pertarungan emosi tanpa perantara kata. Gagasan de Kooning tersebut beresonansi kuat dalam setiap jengkal karyanya.

Kebebasan ekspresi yang mutlak menuntut kehadiran fisik yang total saat berkarya. Sapuan kuas yang kuat, cipratan warna, hingga goresan spontan adalah rekaman langsung dari denyut nadi sang seniman saat berhadapan dengan mediumnya. Tidak ada ruang untuk ragu atau mengulang kembali. Setiap coretan yang lahir adalah keputusan final yang langsung mengunci momen psikologis pada detik itu juga.

Dalam konteks kebudayaan Jawa, aktivitas melukis yang dilakukan memiliki kemiripan dengan konsep olah rasa. Proses ini bukanlah sekedar kerja teknis motorik, melainkan sebuah laku spiritual untuk mengasah kepekaan batin agar selaras dengan jagat raya. Hendung melepaskan kendali ego intelektual agar batinnya yang paling murni bisa menuntun gerakan tangan secara bebas di atas bidang gambar.

Menarik untuk melihat bagaimana ia memperlakukan medium kertas dalam karya-karyanya seperti ‘AREA #05’, ‘Inside’, ‘Blowing’, dan ‘Shadow’. Alih-alih menggunakan kanvas besar yang megah, ia justru memilih kertas berukuran medium. Pilihan ini menciptakan keintiman tersendiri. Kertas memberikan efek serapan warna yang berbeda, memaksa seniman untuk merespons medium dengan kepekaan yang lebih presisi namun tetap liar.

Penggunaan teknik campur (mixed media) dalam seri karya tahun 2019 dan 2020 menunjukkan bahwa ia tidak ingin dibatasi oleh satu jenis alat. Ia menumpuk, menggores, dan mungkin merobek demi mendapatkan tekstur yang diinginkan. Karya-karya ini menjadi semacam medan pertempuran visual di mana berbagai elemen rupa saling berbenturan dan mencari keseimbangan baru di tengah kekacauan komposisi.

Seni rupa kontemporer yang biasanya terlalu sibuk merancang konsep yang rumit sebelum melukis, tidak jarang kehilangan kesegaran artistiknya. Hendung menawarkan jalan keluar dari jebakan konseptualisme yang mandek tersebut. Bagi dia, proses berkarya adalah petualangan tanpa peta. Ia memulai dari ketidakpastian dan membiarkan bentuk-bentuk visual menemukan takdirnya sendiri di atas kertas.

Fenomena ini mengingatkan kita pada pandangan kurator dan pemikir seni rupa Indonesia, Jim Supangkat, yang menyatakan bahwa kekuatan seni lukis ekspresif terletak pada kemampuannya untuk mengkomunikasikan getaran spiritual yang melampaui batas-batas bahasa verbal. Karya-karya Hendung dalam “Inside Out” membuktikan kebenaran tesis tersebut. Lukisannya berbicara langsung kepada perasaan kita, melewati jalur pintas tanpa perlu didefinisikan secara rumit.

Pameran “Inside Out” bukan sekadar panggung pamer keterampilan teknis seorang pelukis senior. Pameran ini adalah sebuah pernyataan sikap tentang pentingnya menjaga kebebasan berekspresi di tengah dunia yang kian mekanistik. Goresan-goresannya bertindak sebagai katup pelepas emosi yang merangkum suka, duka, kecewa, dan harapan manusia modern.

Menikmati deretan karya Hendung Tunggal Jati adalah sebuah pengalaman yang membebaskan. Kita diajak untuk berani menghadapi gejolak batin sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan merayakan setiap getaran emosi sebagai bagian utuh dari kemanusiaan. Lewat kertas dan sapuan kuas yang penuh tenaga, ia telah berhasil memindahkan badai di dalam dadanya menjadi sebuah simfoni visual yang memikat.

Selamat dan sukses buat temanku Hendung Tunggal Jati, atas pameran tunggalnya yang ke-3.

Purwosari, 16 Juli 2026

Tags:
#hamur artspace #hendung tunggal jati #inside out #pameran lukisan #pameran seno rupa #pelukis malang #Seni Rupa #Seniman #studio dinding luar
PenulisWahyu Nugroho
Pelukis Hyperabstract, Pendiri Komunitas Guru Seni dan Perupa Pasuruan (KGSP), Inisiator Gerakan Gandheng Renteng, Peraih Penghargaan Gubernur Jawa Timur 2015
Male singer on stage, wearing a white robe and head wrap, holding a microphone and raising one arm.
EditorWahjudi Djaja
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Etalase

Pameran Suluh Sumurup Art Festival di TBY Yogyakarta, Dorong Inklusivitas bagi Seniman Difabel 

Mutia • 28 Sep 2026
Etalase

Melampaui Pagar Metaforis

Wahyu Nugroho • 23 Agu 2026
Etalase

Kegelisahan Wuri, Kegelisahan Anak Negeri

Wahjudi Djaja • 17 Agu 2026
Etalase

Peristiwa Kudatuli, Awal Mula Perlawanan terhadap Orde Baru

Wicaksana • 23 Jul 2026
Etalase

Dongeng Rupa dan Kritik Ekologis Saiful Ulum

Wahyu Nugroho • 21 Jul 2026
Etalase

Afnan Malay, Transformasi Penyintas Menuju “Energi Rupa”

Wahjudi Djaja • 19 Jul 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Afnan malay
Etalase

Afnan Malay, Transformasi Penyintas Menuju “Energi Rupa”

Wahjudi Djaja • 19 Jul 2026
Cat air diatas kertas karya trilogi yoes wibowo
Etalase

Ziarah Estetik Yoes Wibowo Memanggil Jiwa Nusantara

Wahyu Nugroho • 19 Jul 2026
Karya hyperabstract 15062026 dok Penulis
Etalase

Siasat Manajemen Isu Artjog 2026

Wahyu Nugroho • 22 Jun 2026
Karya siklus 125x100cm aoc 2002
Etalase

“Ruh” di Balik Gerak Hafalan

Wahyu Nugroho • 24 Mei 2026
Karya catatan perjalananan 115 cm x 150 cm aoc 2016 dok Penulis
Etalase

Menakar Ulang Dikotomi Semu Karya Seni Rupa

Wahyu Nugroho • 20 Mei 2026
Karya hyperabstract 10102025 dok Penulis
Etalase

Seniman Bukan Kuli Studio!

Wahyu Nugroho • 17 Mei 2026
Four blue demon like figures surround a yellow geometric shrine with red circular symbols and a green diamond at the center
Etalase

Mematahkan Penggaris di Depan Kanvas

Wahyu Nugroho • 14 Mei 2026
Abstract black and white texture with tangled fibrous patterns and swirling lines
Etalase

Keajaiban di Balik Noda

Wahyu Nugroho • 12 Mei 2026
0
Follow us on
Up Next: Lembaga perlindungan anak lpa nusa tenggara barat ntb dan lpa kota mataram melakukan audiensi dengan komisi iii dpr ri pada rabu 1572026 Kasus Pembakaran Santri Lombok Tengah Dibawa ke DPR
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network