catrawarta.com - Punglor merupakan fauna khas Sleman yang menjadi bagian tak terpisahkan dari jalinan ekologis, budaya dan ekonomi masyarakat Sleman. Melalui buku Simfoni Lereng Merapi: Keajaiban Punglor Sleman, kita diajak menyelami berbagai dimensi kehidupan punglor.
Demikian tulis Bupati Sleman Harda Kiswaya dalam Sambutan pada buku Simfoni Lereng Merapi: Keajaban Punglor Sleman yang diterbitkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman. Buku tersebut diluncurkan Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa SE bersamaan Peringatan Hari Kunjung Perpustakaan di Pendopo Parasamya, Senin (14/9/2029).
Buku tersebut ditulis oleh tim yang terdiri atas Gunawan SSi, Arimawan Bayuaji SH MHum dan Dr Destha Titi Raharjana, dengan Pengarah Anton Sujarwa SH MSi dan Wakil Pengarah Dra Shavitri Nurmalita Dewi MA.
Keunikan Burung Punglor
Terdiri atas lima bab, buku antara lain memuat keunikan burung punglor dibanding burung lain, ekosistem burung punglor, aspek bisnis terkait punglor, upaya konservasi dan partisipasi masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi berbasis ekowisata.
Dalam Kata Pengantar, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Anton Sujarwa SH MSi menyampaikan, penerbitan buku ini merupakan bagian dari upaya pengembangan koleksi khas Sleman.
”Melalui koleksi lokal seperti ini, diharapkan masyarakat semakin mengenal potensi daerahnya sekaligus mendorong untuk meningkatkan minat baca dan budaya menulis. Dengan demikian, akan tumbuh generasi yang literat, kreatif, berkarakter dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta budaya daerah,” tulisnya.
Distribusi Buku ke Kalurahan
Kepada catrawarta.com, Ratih Wulandari SIPust dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman menyampaikan, buku ini sangat penting untuk membekali generasi penerus Sleman.
”Nantinya akan kita distribusikan ke Perpustakaan Kalurahan yang ada di Kabupaten Sleman. Mungkin juga jika ada pihak yang mengajukan proposal untuk pengembangan literasi Sleman,” jelasnya.
Dihubungi terpisah, salah satu penulis, Dr Destha Titi Raharjana, menyampaikan, keunggulan kompetitif pariwisata Kabupaten Sleman tidak hanya bertumpu pada kemegahan lanskap Gunung Merapi, tetapi juga pada kekayaan keanekaragaman hayatinya, khususnya keberadaan punglor.
Daya Tarik Wisata
”Sebagai satwa endemik yang bernilai ekologis tinggi, burung ini berpotensi menjadi daya tarik wisata minat khusus yang kuat, seperti birdwatching dan ekowisata berbasis konservasi. Di sisi lain, fenomena sosial-ekonomi komunitas kicau mania telah membuktikan bahwa hobi dan pelestarian satwa mampu beririsan secara harmonis, menciptakan multiplier effect yang signifikan bagi perputaran ekonomi lokal sekaligus memperkuat ekosistem pariwisata berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta,” jelas pegiat wisata kerakyatan dan peneliti Puspar UGM) ini.
Sedangkan dalam pandangan budayawan Sleman yang menjadi anggota tim penulisan, Wahjudi Djaja, apa yang dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman ini tidak saja penting tetapi juga berdimensi peradaban.
”Penulisan buku tentang burung anis merah yang akrab dikenal sebagai punglor ini tidak saja merekam dan mendokumentasikan siklus hidup dan keberadaannya, tetapi juga membangun kesadaran bersama, bahwa harmoni dan keindahan itu harus dijaga dan dilestarikan. Dan kita tahu, itu tidak mudah sehingga perlu dukungan bersama,” tandasnya.









