catrawarta.com - Suasana wisuda di Universitas Mercu Buana Yogyakarta mendadak berbeda ketika seekor sapi putih besar berjalan memasuki area kampus. Di atas punggung sapi itu duduk seorang wisudawan lengkap mengenakan toga dan samir kuning-biru khas kampus.
Pemandangan itu langsung menyita perhatian. Para tamu wisuda berhenti melangkah. Kamera ponsel spontan diarahkan ke sosok mahasiswa tersebut. Sebagian tertawa kagum, sebagian lain tampak tak percaya melihat ada wisudawan datang ke acara kelulusan dengan menunggangi sapi.
Mahasiswa itu diketahui merupakan lulusan Program Studi Peternakan Fakultas Agroindustri. Sapi yang ditungganginya adalah jenis Peranakan Ongole (PO), salah satu ternak yang sangat akrab dalam dunia peternakan rakyat Indonesia.
Namun aksi tersebut ternyata bukan sekadar sensasi atau upaya mencari perhatian. Di balik momen unik itu, tersimpan pesan sederhana tentang kebanggaan terhadap profesi dan bidang ilmu yang selama ini ia pelajari.
Bagi mahasiswa peternakan, sapi bukan sekadar hewan ternak. Ia adalah bagian dari kehidupan akademik sehari-hari. Dari praktik kandang, pemberian pakan, kesehatan ternak, hingga manajemen produksi, semua menjadi bagian dari perjalanan kuliah yang tidak ringan.
Karena itu, ketika mahasiswa tersebut memilih menunggangi sapi menuju wisuda, ia seperti sedang membawa simbol perjalanan hidupnya sendiri.
Di tengah budaya anak muda yang sering berlomba tampil modern dan mengikuti tren media sosial, aksi ini justru terasa berbeda. Wisudawan tersebut tidak mencoba menjadi orang lain demi terlihat keren. Ia tampil apa adanya sebagai anak peternakan. Dan justru karena kejujuran itulah aksinya terasa menarik. Video momen tersebut kemudian viral di berbagai platform media sosial. Banyak netizen memuji kreativitasnya karena dianggap berhasil mempromosikan jurusan peternakan dengan cara yang sederhana tetapi sangat relevan. Sebagian bahkan menyebutnya sebagai “wisuda paling otentik”.
Fenomena ini sebenarnya menunjukkan sesuatu yang lebih dalam tentang generasi muda hari ini. Banyak lulusan perguruan tinggi cenderung menjauh dari identitas sektor pertanian dan peternakan karena dianggap kurang bergengsi dibanding profesi modern di kota-kota besar. Padahal sektor pangan dan peternakan merupakan fondasi penting kehidupan masyarakat.
Aksi wisudawan UMBY tersebut seolah menjadi pengingat bahwa setiap bidang ilmu memiliki kehormatan. Menjadi sarjana peternakan bukan sesuatu yang perlu disembunyikan. Justru patut dirayakan dengan bangga.
Fenomena ini juga memperlihatkan cara baru anak muda mengekspresikan identitas profesinya. Jika dulu kebanggaan terhadap profesi ditunjukkan lewat pidato formal atau prestasi akademik, kini ekspresi itu hadir lewat simbol visual yang kuat dan mudah diingat. Seekor sapi di hari wisuda ternyata mampu menyampaikan pesan sosial yang panjang.
Bahwa pendidikan bukan hanya soal gelar, tetapi tentang keberanian menghargai ilmu yang dipelajari. Bahwa kampus tidak sekadar melahirkan sarjana, tetapi juga identitas dan karakter.
Dan di tengah toga, foto keluarga, serta suasana haru kelulusan, mahasiswa peternakan UMBY itu berhasil menunjukkan satu hal penting: menjadi diri sendiri ternyata bisa menjadi momen paling berkesan.









