CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Subak Bali Kearifan Lokal Mendunia

Penulis: Siswantini Suryandari 5 Jun 2026 4 menit baca
Subak menjadi salah satu warisan budaya bali yang masih dijaga dan dilestarikan hingga kini selain keberadaan desa adat
Penyuluhan petani subak Jatiluwih terkait pertanian organik yang dilaksanakan oleh Fakultas Pertanian Unud / dok I Made Sarjana
Bagikan:
0

catrawarta.com - Subak menjadi salah satu warisan budaya Bali yang masih dijaga dan dilestarikan hingga kini, selain keberadaan desa adat. Sistem pertanian tradisional ini telah ada sejak abad ke-9 dan tercatat dalam prasasti pada abad ke-11.

Kepala Laboratorium Subak dan Rekayasa Agrowisata Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dr I Made Sarjana, menjelaskan bahwa keberadaan Subak di Bali erat kaitannya dengan filosofi Tri Hita Karana.

“Subak secara harfiah adalah sistem irigasi dan pengelolaan pertanian tradisional di Bali. Pada intinya, ini merupakan warisan leluhur dalam mengelola lahan basah. Syarat adanya Subak adalah tanah, air dan irigasi, petani, serta pura,” kata Made Sarjana, Jumat (5/6).

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Menurutnya, Subak sepenuhnya berlandaskan filosofi Tri Hita Karana, yakni konsep keseimbangan hidup masyarakat Hindu Bali melalui tiga hubungan harmonis.

“Pertama Parhyangan, yaitu hubungan harmonis manusia dengan Tuhan. Kedua Pawongan, hubungan harmonis antarsesama manusia. Dan ketiga Palemahan, hubungan harmonis manusia dengan lingkungan dan alam,” ujarnya.

Konsep tersebut juga sejalan dengan visi pembangunan Bali yang diusung Gubernur Bali I Wayan Koster melalui program Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang merujuk pada filosofi Sad Kerthi atau enam penyucian dan keseimbangan kehidupan.

Lahir dari Budaya Gotong Royong Petani

Kepala laboratorium subak dan rekayasa agrowisata program studi agribisnis fakultas pertanian universitas udayana i made sarjanadok i made sarjana
Kepala Laboratorium Subak dan Rekayasa Agrowisata Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Made Sarjana/dok I Made Sarjana

Made Sarjana menuturkan, lahirnya Subak berawal dari budaya komunal masyarakat petani Bali. Seluruh persoalan pertanian diselesaikan bersama melalui musyawarah.

“Contohnya ketika petani membutuhkan air irigasi untuk sawah, semua dibahas dan diputuskan bersama,” katanya.

Ia kemudian menceritakan pengalaman di kampung halamannya di Desa Mengani, Kecamatan Kintamani, yang pada 1991 pernah berstatus desa tertinggal. Kondisi itu mendorong masyarakat setempat meningkatkan sektor pertanian melalui pembangunan sistem irigasi.

Saat itu, ayahnya bersama sekitar 80 anggota Subak bermusyawarah mencari solusi penyediaan air bagi persawahan warga. Mereka memanfaatkan tiga sungai di sekitar desa untuk dijadikan sumber irigasi.

Warga kemudian mengundang seseorang yang memiliki kemampuan mengukur jalur saluran air secara tradisional.

“Orang tersebut mengukur dengan menembakkan bedil ke arah hulu desa. Dari situ ditentukan jalur saluran air yang akan dibangun,” ujarnya.

Masyarakat juga membangun terowongan sepanjang 7,3 kilometer untuk menghubungkan aliran air menuju area persawahan. Dari proses tersebut lahirlah Subak Giri Merta Yoga di Desa Mengani, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Pembangunan dilakukan secara gotong royong dengan iuran warga sebesar Rp2,5 juta per keluarga untuk membeli bahan baku dan membayar tenaga ahli.

Pembangunan irigasi berlangsung selama dua tahun, yakni 1993 hingga 1994. Hasilnya, desa tersebut berhasil meningkatkan produktivitas pertanian hingga mengalami surplus beras.

“Sekarang sawah di Desa Mengani tidak hanya bisa panen padi organik dua kali setahun, tetapi juga ditanami hortikultura,” kata Made.

Selain mengelola pertanian, anggota Subak juga memiliki kewajiban menjaga keseimbangan spiritual dan lingkungan sesuai konsep Tri Hita Karana. Petani rutin membersihkan pura, melaksanakan upacara keagamaan sebagai bentuk syukur kepada Dewi Sri sebagai simbol kesuburan, serta menjaga kebersihan saluran air.

“Biasanya ibu-ibu membuat sesajen, bapak-bapak menyiapkan lawar, dan anak-anak membantu menghias pura,” tuturnya.

Pura di bendungan mambal badung  dok i made sarjana
Pura di Bendungan Mambal, Badung / dok I Made Sarjana

Hubungan sosial antaranggota Subak juga terus dipelihara melalui pertemuan rutin yang umumnya digelar setiap Sabtu Kliwon untuk membahas berbagai persoalan pertanian dan solusi bersama. Sementara itu, hubungan harmonis dengan alam diwujudkan melalui pengelolaan lingkungan, perawatan saluran irigasi, hingga pelaksanaan berbagai ritual pertanian.

Made menjelaskan, dalam budidaya padi terdapat 12 tahapan upacara adat yang harus dijalankan, termasuk ritual tolak bala untuk menghindari hama dan bencana alam. Budidaya padi merupakan ritial sakral, maka para petani Subak membangun pura-pura Subak di dekat lahan pertanian yang mereka garap. 

Pura Subak terbesar adalah Pura Batur. Dan di setiap kabupaten ada pura subak yang berlokasi di dekat persawahan, hingga dekat pintu air irigasi.

Tantangan Masa Depan Subak

Saat ini tercatat ada sekitar 1.596 Subak di Bali. Namun Made menilai keberlangsungan Subak menghadapi berbagai tantangan, terutama alih fungsi lahan pertanian menjadi vila dan hotel.

Menurutnya, hingga kini belum ada lembaga khusus yang menaungi Subak sebagai warisan budaya dunia.

“Di luar negeri ada lembaga khusus yang menaungi warisan budaya dunia. Sementara di Bali, perhatian lebih banyak diarahkan pada aspek pariwisata, bukan perlindungan lahan pertanian,” kritiknya.

Ia juga menyoroti kecilnya bantuan anggaran bagi Subak dibandingkan desa adat dan pecalang. Saat ini desa adat di Bali menerima bantuan Rp400 juta per tahun, pecalang Rp50 juta, sedangkan Subak hanya memperoleh Rp15 juta per tahun.

“Padahal sebelum pandemi Covid-19, bantuan untuk Subak mencapai Rp50 juta,” ujarnya.

Meski demikian, keberadaan Subak tetap diakui dunia internasional. Pada 29 Juni 2012, UNESCO menetapkan Subak sebagai Warisan Budaya Dunia karena dinilai menjadi simbol kearifan lokal masyarakat Bali dalam menjaga harmoni manusia, alam, dan spiritualitas.

Tags:
#Bali #pertanian tradisional #subak #Tri Hita Karana #warisan budaya dunia
Siswantini Suryandari
PenulisSiswantini Suryandari
Jurnalis senior, alumi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada
Male singer on stage, wearing a white robe and head wrap, holding a microphone and raising one arm.
EditorWahjudi Djaja
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Ketua komisi a dprd diy ketua dppi diy dan dimas diy 2025 saat jumpa pers rencana pelaksanaan festival tresna pancasila 2026 yang akan digelar di kawasan malioboro sabtu 6 juni 2026 sumber  rri Kirab Budaya Tresno Pancasila Semarakkan Bulan Bung Karno di Malioboro
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network