catrawarta.com - Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan. Tradisi tidak cukup hanya diwariskan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi harus terus dipelajari, dipraktikkan, dikembangkan, dan diberi ruang bagi generasi baru.
Semangat tersebut terlihat dalam Festival Dalang Anak (FDA) 2026 Banten yang berlangsung di Plaza Aspirasi KP3B, Kota Serang, Minggu (4/10/2026).
Festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni pedalangan, tetapi juga ruang pendidikan budaya, transfer pengetahuan antargenerasi, serta pertemuan antara seniman, komunitas, pemerintah, keluarga dan generasi muda.
Diikuti Delapan Dalang Anak
Delapan dalang anak mengikuti festival tersebut dalam dua kategori usia. Kategori A untuk anak usia 5-9 tahun, sedangkan Kategori B untuk usia 10-15 tahun.
Setiap peserta mendapat kesempatan tampil sekitar 45 menit dengan iringan gamelan secara langsung.

Seorang dalang anak sedang memeragakan sosok wayang dalam Festival Dalang Anak (FDA) 2026 Banten yang berlangsung di Plaza Aspirasi KP3B, Kota Serang, Minggu (4/10/2026). (dok Sanggar Wayang Ajen
Pada Kategori A, tampil Devan Fais Ramadhan dengan lakon Seba Kingkin Kawedar, Gema Nataraya Dilaga dengan Bambang Ekalaya, serta Altan Muttaqi Sasmita dan Rais Hafiz Singandaru yang masing-masing membawakan Hanoman Duta.
Sementara Kategori B diikuti M Tajul Arsy dengan lakon Babad Alas Amer, Idwan Diana dengan Karna Tanding, Tigin Langlang Pamor dengan Seba Kingkin Kawedar, dan Rizqi Wahyu Rohman dengan Jaya Jaya Perbangsa.
Tiga dalang profesional menjadi juri, yakni Ki Dalang Wawan Ajen dari Wayang Ajen Kota Bekasi, Ki Dalang Awan Dede Amung Sutarya, dan Ki Dalang Dandan Dede Amung Sutarya dari Kota Bandung.
Bukan Sekadar Kompetisi
Narasumber festival, Wawan Gunawan atau dikenal dengan Ki Dalang Wawan Ajen mengatakan keberadaan delapan dalang anak tersebut menunjukkan pentingnya membangun mata rantai regenerasi seni pedalangan.
“Menjadi dalang tidak sekadar belajar menggerakkan wayang. Anak-anak juga harus mempelajari bahasa dan sastra, cerita, karakter, vokal, sabetan, suluk, dialog, humor, irama, hingga kemampuan berkomunikasi dengan penonton,” ujar Wawan.
Karena itu, festival menjadi ruang penting bagi anak-anak untuk belajar sekaligus mendapatkan pengalaman tampil di hadapan masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Jamaludin, mengapresiasi penyelenggaraan Festival Dalang Anak 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kebudayaan melalui regenerasi.

Festival Dalang Anak (FDA) 2026 Banten yang berlangsung di Plaza Aspirasi KP3B, Kota Serang, Minggu (4/10/2026) diikuti delapan dalang. (dok Sanggar Wayang Ajen)
Festival Dalang Anak juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Eli Susiyanti, mengatakan kegiatan budaya tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi dapat memperkenalkan identitas daerah sekaligus membuka peluang bagi ekonomi kreatif dan UMKM.
Menurut Eli, Plaza Aspirasi KP3B juga berpotensi dikembangkan sebagai ruang publik yang aktif melalui Calendar of Events. Ruang tersebut dapat diisi berbagai kegiatan seni budaya, pameran ekonomi kreatif dan UMKM, olahraga, pendidikan, komunitas, hingga kegiatan kreatif masyarakat.
Kawah Candradimuka Dalang Muda
Pada kesempatan sama, Kepala Bidang Kebudayaan Provinsi Banten Rohaendi menyatakan mengatakan Festival Dalang Anak dirancang bukan sekadar festival dan kompetisi.
“Festival Dalang Anak merupakan kawah Candradimuka bagi lahirnya dalang-dalang generasi baru. Di sinilah anak-anak memperoleh ruang untuk belajar, tampil, bertemu, berproses, sekaligus mendapatkan pengalaman dari dalang senior dan maestro,” ujarnya.
Menurut Rohaendi, festival mempertemukan generasi muda dengan pengetahuan dan pengalaman generasi sebelumnya. Kehadiran dalang berpengalaman seperti Ki Dalang Wawan Ajen, Ki Dalang Awan Dede Amung Sutarya dan Ki Dalang Dandan Dede Amung Sutarya menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan dan pengalaman.
Pedalangan sendiri merupakan seni yang kompleks karena menggabungkan seni tutur, sastra, musik, drama, seni rupa, humor, kritik sosial, pendidikan karakter hingga pesan moral.
Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Provinsi Banten Tirta Nugraha Pratama mnekankan bahwa regenerasi tidak cukup hanya mengandalkan semangat. Diperlukan ruang, pembinaan, fasilitas, pendampingan, serta dukungan program dan anggaran yang berkelanjutan.
Menurutnya, festival seharusnya menjadi pintu masuk menuju pembinaan berikutnya, bukan menjadi titik akhir.
Puncak festival juga dimeriahkan penampilan Dalang Lala bersama Wayang Kulit Garing dan tim musik Rudat melalui lakon Ciung Wanara dalam interpretasi khas Banten. Selain itu, hadir Dalang Cilik Aden Azka Asstroberi Putra dalam pertunjukan Wayang Ajen Junior dengan lakon Gatotkaca Yuda.









