CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Penulis: Siswantini Suryandari 5 Okt 2026 4 menit baca
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Kemegahan istana Kesultanan Siak Sri Indrapura, simbol Kabupaten Siak.
Bagikan:
0

catrawarta.com - Sejarah Kabupaten Siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura, kerajaan Melayu-Islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur Sumatra dan kawasan Selat Malaka.

Kesultanan Siak didirikan pada 1723 oleh Raja Kecil yang kemudian bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Ia dikenal sebagai putra Sultan Mahmud Syah II dari Johor.

Pusat awal Kesultanan Siak berada di Buantan. Dalam perkembangannya, pusat pemerintahan kerajaan sempat berpindah ke Mempura dan Senapelan, yang kemudian berkembang menjadi Pekanbaru, sebelum akhirnya kembali ke Siak.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Siak kemudian tumbuh menjadi kerajaan bahari yang memiliki pengaruh hingga kawasan Semenanjung Malaya. Nama Siak sendiri memiliki sejumlah versi asal-usul, antara lain dikaitkan dengan tumbuhan siak-siak maupun Sungai Siak.

Istana Siak dan Masa Kejayaan Kesultanan

Salah satu peninggalan penting Kesultanan Siak adalah Istana Siak Sri Indrapura yang juga dikenal sebagai Istana Asserayyah Hasyimiah atau Matahari Timur.

Istana tersebut dibangun pada 1889 pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin. Bangunan istana memperlihatkan perpaduan arsitektur Melayu, Arab, dan Eropa.

Pada masa pemerintahannya, Sultan Syarif Hasyim juga menyusun Babul Qawaid, sebuah kitab yang memuat aturan dan tata pemerintahan Kesultanan Siak.

Warisan sejarah Kesultanan Siak berlanjut hingga masa kemerdekaan Indonesia melalui Sultan Syarif Kasim II, sultan terakhir Kesultanan Siak.

Sultan Syarif Kasim II menyatakan kesultanan yang dipimpinnya bergabung dengan Republik Indonesia. Ia juga memberikan dukungan harta dan kekayaannya untuk membantu pemerintah Republik Indonesia yang baru berdiri.

Sikap tersebut menjadi bagian penting dari sejarah hubungan Kesultanan Siak dengan Republik Indonesia.

Siak Menjadi Kabupaten

Setelah Indonesia merdeka, wilayah Siak sempat berstatus sebagai Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis. Status tersebut kemudian berubah menjadi Kecamatan Siak.

Perubahan besar terjadi pada 1999. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999, Siak resmi dimekarkan menjadi Kabupaten Siak dengan ibu kota Siak Sri Indrapura.

Lebih dari dua dekade perjalanan otonomi daerah kemudian membawa berbagai perubahan bagi Kabupaten Siak.

Secara geografis, Siak memiliki kawasan pesisir yang berdekatan dengan sejumlah negara tetangga dan berada dalam kawasan pertumbuhan ekonomi Indonesia-Malaysia-Singapura.

Kabupaten Siak juga memiliki Sungai Siak yang membelah wilayahnya. Selain sungai, terdapat sejumlah tasik atau danau yang tersebar di beberapa kecamatan.

Sungai Siak dikenal sebagai salah satu sungai terdalam di Indonesia dan memiliki nilai ekonomi penting, terutama sebagai jalur transportasi dan perhubungan.

Elderly patient in hospital bed with floral blanket giving a thumbs up caregiver in hijab beside him both smiling in a hospital room

Bupati Siak Afni Zulkifli menjenguk Bupati Siak pertama Arwin AS yang dirawat di rumah sakit, Minggu (4/10/2026).(dok Media Center Provinsi Riau)

Pesan Bupati Pertama untuk Perjuangan Siak

Perjalanan otonomi daerah tersebut kini menjadi bagian dari refleksi Bupati Siak Afni Zulkifli.

Afni, yang merupakan Bupati perempuan pertama di Siak, pada Minggu (4/10/2026) menjenguk Bupati Siak pertama yang terpilih secara demokratis, Arwin AS, yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

Dalam pertemuan tersebut, Afni mengatakan otonomi daerah telah membawa perubahan besar bagi Siak selama lebih dari dua dekade. Namun, di tengah perkembangan tersebut, persoalan kebijakan pemerintah pusat mengenai Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas bumi (migas) menjadi perhatian pemerintah daerah.

Afni menilai persoalan pengurangan DBH Migas merupakan hal yang harus diperjuangkan melalui komunikasi langsung dengan pemerintah pusat.

Dalam kesempatan tersebut, Afni juga mengutip pesan Arwin agar dirinya tidak menyerah dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat Siak.

“Berjuanglah, jangan menyerah. Berjuanglah. Diiringi dengan doa. Berjuanglah. Sebagaimana dulu aku berjuang untuk jembatan bisa membentang di atas Sungai Siak,” kata Afni menirukan pesan Arwin.

Pesan tersebut kemudian dikaitkan Afni dengan sejarah panjang Siak, termasuk sikap Kesultanan Siak terhadap Republik Indonesia.

Menurut Afni, perjuangan mempertahankan kepentingan masyarakat Siak tidak terlepas dari sejarah daerah tersebut. Ia menyinggung pesan dan sikap Sultan Syarif Kasim II yang menunjukkan kesetiaan kepada Indonesia sejak masa perjuangan kemerdekaan.

Kesetiaan tersebut, menurut Afni, juga tercermin dari kontribusi Siak melalui sumber daya alam yang berasal dari wilayahnya.

“Untuk kepentingan Bangsa Indonesia, Siak tidak pernah sekalipun menggeleng-geleng,” kata Afni.

Bagi Afni, sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun Siak harus terus dilakukan, termasuk ketika pemerintah daerah menghadapi persoalan keterbatasan fiskal dan kebijakan pembagian hasil sumber daya alam.

Tags:
#Afni Zulkifli #Arwin AS #Bupati Siak #Kabupaten Siak #Kerajaan Melayu Islam #Kesultanan Siak Sri Indrapura #Provinsi Riau
Siswantini Suryandari
PenulisSiswantini Suryandari
Jurnalis senior, alumi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada
Sketched-style portrait of a man with glasses, smiling, outdoors with palm trees in the background.
EditorWicaksana
Jurnalis senior, tinggal di Yogyakarta.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
Haul ke 38 hb ix yang berlokasi di kediaman g B P H H Prabukusumo yogyakarta
Catra Budaya

Haul ke-38 Sri Sultan HB IX dan Ruang Refleksi Keistimewaan Yogyakarta, Raja Bersahaja yang Jadi Kompas Moral 

Mutia • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Conductor in a tuxedo conducting an orchestra on a dim stage with candles along the front edge of the stage tails to the left and right as musicians play violins and cellos behind him Diterpa Isu Penipuan di Tangerang, Konser ‘Orchestra Experience’ Digelar di Yogyakarta Akhir Oktober
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network