CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Penulis: Siswantini Suryandari 4 Okt 2026 3 menit baca
Diperbarui Oktober 4, 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
PAMERAN: Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama urbanis Zahira Asmal membuka pameran There Was Something Here Before di Erasmus Huis, Jakarta, Sabtu (3/10/2026). (Sumber: Dok Kementerian Kebudayaan).
Bagikan:
0

catrawarta.com - Pameran There Was Something Here Before karya seniman sekaligus urbanis Zahira Asmal menelusuri hubungan sejarah Indonesia dan Cape Town, Afrika Selatan, melalui perpindahan manusia melintasi Samudra Hindia selama lebih dari tiga abad.

Pameran tersebut dibuka di Erasmus Huis, Jakarta, Sabtu (3/10/2026), dan berlangsung hingga 23 Desember 2026. Pameran mengangkat kembali kisah masyarakat asal Indonesia yang turut berkontribusi dalam membentuk kehidupan dan kebudayaan di Cape Town.

Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengapresiasi Kedutaan Besar Kerajaan Belanda dan Erasmus Huis yang menghadirkan ruang pertukaran budaya melalui pameran tersebut.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Pertukaran Budaya Indonesia – Belanda

Menurut Fadli, Erasmus Huis memiliki peran penting sebagai ruang pertukaran budaya antara Indonesia dan Belanda.

“Pameran There Was Something Here Before mengajak kita melihat kembali sejarah bersama melalui seni, kajian, dan dialog. Karya ini mempertemukan Indonesia, Belanda, dan Afrika Selatan dalam satu kerangka sejarah dan kebudayaan yang saling terhubung,” kata Fadli.

Dia mengatakan pameran tersebut juga mengajak masyarakat melihat lebih dalam berbagai lapisan ingatan, komunitas, dan sejarah yang membentuk sebuah kota.

Fadli menilai salah satu tokoh penting dalam hubungan sejarah Indonesia dan Afrika Selatan adalah Syekh Yusuf al-Makassari.

Setelah mendukung Sultan Ageng Tirtayasa dalam perlawanan terhadap perluasan kekuasaan VOC di Banten, Syekh Yusuf ditangkap pada 1683 dan diasingkan ke Sri Lanka pada 1684.

Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town
MAKAM: Bekas makam Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan. (Sumber: Dok Janek Syzmanowski/Wikipedia)

Pada 1693, pemerintah kolonial Belanda kemudian memindahkannya ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Meski berada jauh dari tanah kelahirannya, Syekh Yusuf tetap menyebarkan ajaran dan memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat setempat.

Seminar dan Pemutaran Film

Fadli mengatakan Kementerian Kebudayaan tengah menyiapkan pameran Sacred Journey of Sheikh Yusuf Al Makasari: Legacy of Knowledge, Freedom, and Humanity di Indonesia House Amsterdam, Belanda.

Pameran tersebut akan dilengkapi seminar ilmiah internasional dan program pemutaran film. Kementerian Kebudayaan juga mengembangkan rencana pendirian rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town.

Sementara itu, Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen mengatakan There Was Something Here Before menghadirkan kisah sejarah yang menghubungkan Indonesia, Afrika Selatan, Sri Lanka, dan Belanda.

Menurut Marc, sejarah tidak hanya dapat dipahami melalui dokumen dan arsip, tetapi juga melalui ingatan, benda, suara, serta fotografi yang merekam pengalaman masyarakat lintas generasi.

“Sejarah memiliki banyak cerita, tetapi tidak semua cerita disampaikan dengan suara yang sama atau didengar secara setara,” ujar Marc.

Dia mengatakan pameran tersebut menjadi ruang untuk terhubung dengan sejarah sekaligus melakukan refleksi. Kisah Syekh Yusuf dan masyarakat Cape Malay, lanjutnya, menunjukkan masih banyak jejak sejarah bersama yang perlu dikenali dan tidak dilupakan.

Kontribusi Masyarakat

Kurator sekaligus penggagas pameran, Zahira Asmal, mengatakan There Was Something Here Before berangkat dari upaya memahami siapa saja yang membangun, merawat, dan membentuk sebuah kota.

Dia menyoroti kontribusi masyarakat yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, hingga kepulauan lainnya.

Mereka membawa pengetahuan, kepercayaan, bahasa, makanan, keterampilan, dan tradisi yang kemudian turut membentuk kehidupan masyarakat Cape Town.

“Pameran ini mengajak kita memikirkan siapa sebenarnya yang membentuk sebuah kota. Siapa yang membangunnya, merawatnya, membawa pengetahuan, menciptakan kebudayaan, dan berjuang untuk menjadikannya rumah,” tutur Zahira.

Menurut Zahira, banyak dari mereka berasal dari Indonesia dan kontribusinya terus membentuk kehidupan Cape Town hingga saat ini.

Ia berharap pameran tersebut dapat mendorong masyarakat untuk melihat dan menghargai kontribusi serta sejarah komunitas Indonesia di Cape Town.

Zahira Asmal merupakan urbanis sekaligus direktur The City, lembaga penelitian, penerbitan, dan place-making independen yang didirikan pada 2010.

Praktiknya berfokus pada pembentukan kota, hak atas kota, serta peran desain dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap ruang perkotaan.

Pameran There Was Something Here Before dikemas sebagai pameran multimedia interaktif yang memadukan penelitian, materi arsip, fotografi, suara, karya seni, kesaksian personal, dan desain interaktif.

Tags:
#Cape Town #Erasmus Huis #kementerian kebudayaan #Pameran #Pameran There Was Something Here Before #sejarah Indonesia dan Cape Town #Zahira Asmal
Siswantini Suryandari
PenulisSiswantini Suryandari
Jurnalis senior, alumi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada
Sketched-style portrait of a man with glasses, smiling, outdoors with palm trees in the background.
EditorWicaksana
Jurnalis senior, tinggal di Yogyakarta.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
Haul ke 38 hb ix yang berlokasi di kediaman g B P H H Prabukusumo yogyakarta
Catra Budaya

Haul ke-38 Sri Sultan HB IX dan Ruang Refleksi Keistimewaan Yogyakarta, Raja Bersahaja yang Jadi Kompas Moral 

Mutia • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Wonderful indonesia gastronomy wig talks 2026 resmi digelar di grand hotel de djokja dengan menghadirkan 22 pembicara dari unsur pemerintah industri pegiat seni hingga akademisi sabtu 3102026 GKR Bendara: Gastronomi Yogyakarta Harus Punya Cerita
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network