catrawarta.com - Sejarah Kabupaten Siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura, kerajaan Melayu-Islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur Sumatra dan kawasan Selat Malaka.
Kesultanan Siak didirikan pada 1723 oleh Raja Kecil yang kemudian bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Ia dikenal sebagai putra Sultan Mahmud Syah II dari Johor.
Pusat awal Kesultanan Siak berada di Buantan. Dalam perkembangannya, pusat pemerintahan kerajaan sempat berpindah ke Mempura dan Senapelan, yang kemudian berkembang menjadi Pekanbaru, sebelum akhirnya kembali ke Siak.
Siak kemudian tumbuh menjadi kerajaan bahari yang memiliki pengaruh hingga kawasan Semenanjung Malaya. Nama Siak sendiri memiliki sejumlah versi asal-usul, antara lain dikaitkan dengan tumbuhan siak-siak maupun Sungai Siak.
Istana Siak dan Masa Kejayaan Kesultanan
Salah satu peninggalan penting Kesultanan Siak adalah Istana Siak Sri Indrapura yang juga dikenal sebagai Istana Asserayyah Hasyimiah atau Matahari Timur.
Istana tersebut dibangun pada 1889 pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin. Bangunan istana memperlihatkan perpaduan arsitektur Melayu, Arab, dan Eropa.
Pada masa pemerintahannya, Sultan Syarif Hasyim juga menyusun Babul Qawaid, sebuah kitab yang memuat aturan dan tata pemerintahan Kesultanan Siak.
Warisan sejarah Kesultanan Siak berlanjut hingga masa kemerdekaan Indonesia melalui Sultan Syarif Kasim II, sultan terakhir Kesultanan Siak.
Sultan Syarif Kasim II menyatakan kesultanan yang dipimpinnya bergabung dengan Republik Indonesia. Ia juga memberikan dukungan harta dan kekayaannya untuk membantu pemerintah Republik Indonesia yang baru berdiri.
Sikap tersebut menjadi bagian penting dari sejarah hubungan Kesultanan Siak dengan Republik Indonesia.
Siak Menjadi Kabupaten
Setelah Indonesia merdeka, wilayah Siak sempat berstatus sebagai Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis. Status tersebut kemudian berubah menjadi Kecamatan Siak.
Perubahan besar terjadi pada 1999. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999, Siak resmi dimekarkan menjadi Kabupaten Siak dengan ibu kota Siak Sri Indrapura.
Lebih dari dua dekade perjalanan otonomi daerah kemudian membawa berbagai perubahan bagi Kabupaten Siak.
Secara geografis, Siak memiliki kawasan pesisir yang berdekatan dengan sejumlah negara tetangga dan berada dalam kawasan pertumbuhan ekonomi Indonesia-Malaysia-Singapura.
Kabupaten Siak juga memiliki Sungai Siak yang membelah wilayahnya. Selain sungai, terdapat sejumlah tasik atau danau yang tersebar di beberapa kecamatan.
Sungai Siak dikenal sebagai salah satu sungai terdalam di Indonesia dan memiliki nilai ekonomi penting, terutama sebagai jalur transportasi dan perhubungan.

Bupati Siak Afni Zulkifli menjenguk Bupati Siak pertama Arwin AS yang dirawat di rumah sakit, Minggu (4/10/2026).(dok Media Center Provinsi Riau)
Pesan Bupati Pertama untuk Perjuangan Siak
Perjalanan otonomi daerah tersebut kini menjadi bagian dari refleksi Bupati Siak Afni Zulkifli.
Afni, yang merupakan Bupati perempuan pertama di Siak, pada Minggu (4/10/2026) menjenguk Bupati Siak pertama yang terpilih secara demokratis, Arwin AS, yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
Dalam pertemuan tersebut, Afni mengatakan otonomi daerah telah membawa perubahan besar bagi Siak selama lebih dari dua dekade. Namun, di tengah perkembangan tersebut, persoalan kebijakan pemerintah pusat mengenai Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas bumi (migas) menjadi perhatian pemerintah daerah.
Afni menilai persoalan pengurangan DBH Migas merupakan hal yang harus diperjuangkan melalui komunikasi langsung dengan pemerintah pusat.
Dalam kesempatan tersebut, Afni juga mengutip pesan Arwin agar dirinya tidak menyerah dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat Siak.
“Berjuanglah, jangan menyerah. Berjuanglah. Diiringi dengan doa. Berjuanglah. Sebagaimana dulu aku berjuang untuk jembatan bisa membentang di atas Sungai Siak,” kata Afni menirukan pesan Arwin.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan Afni dengan sejarah panjang Siak, termasuk sikap Kesultanan Siak terhadap Republik Indonesia.
Menurut Afni, perjuangan mempertahankan kepentingan masyarakat Siak tidak terlepas dari sejarah daerah tersebut. Ia menyinggung pesan dan sikap Sultan Syarif Kasim II yang menunjukkan kesetiaan kepada Indonesia sejak masa perjuangan kemerdekaan.
Kesetiaan tersebut, menurut Afni, juga tercermin dari kontribusi Siak melalui sumber daya alam yang berasal dari wilayahnya.
“Untuk kepentingan Bangsa Indonesia, Siak tidak pernah sekalipun menggeleng-geleng,” kata Afni.
Bagi Afni, sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun Siak harus terus dilakukan, termasuk ketika pemerintah daerah menghadapi persoalan keterbatasan fiskal dan kebijakan pembagian hasil sumber daya alam.









