catrawarta.com - Bentara Budaya Yogyakarta menggelar pameran seni rupa bertajuk “Mbesuuk: The Future of Yogyakarta”. Pameran yang diselenggarakan dalam rangka memperingati syukuran 44 tahun berdirinya lembaga kebudayaan Kompas Gramedia tersebut dibuka secara resmi pada Sabtu (26/9/2026) pukul 19.30 WIB oleh Anggota Dewan Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta, Dr Sri Ratna Saktimulya MHum. Agendanya berlanjut hingga Jumat (9/10/2026), buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB.
Pameran melibatkan 19 seniman kenamaan yang menyajikan beragam medium seni, mulai dari lukisan, grafiti, miniatur, hingga karya instalasi. Deretan seniman yang berpartisipasi antara lain Agung Pekik, Andry Boy Kurniawan, Asep Maulana Hakim, Bambang Pramudiyanto, Bonnie Hermansyah, Budi Ubrux, Eko Balung, Erica Hestu Wahyuni, FX Widyatmoko (Koskow), Hermanu feat. Jansen Goldy, Lindu Prasekti, Mahdi Abdullah, Nasirun, Nita Azhar, Samuel Indratma, Sriyadi Srinthil, Subandi Giyanto, dan Susilo Budi Purwanto. Pembukaan acara juga dimeriahkan oleh penampilan musik dari Jasmine Acoustic.
General Manager Bentara Budaya & Communication Management Corporate Communication Kompas Gramedia, Ilham Khoiri, menjelaskan makna di balik pemilihan tajuk pameran. Kata “Mbesuuk” berakar dari bahasa Jawa yang merujuk pada masa depan. Pengulangan konsonan “uu” di dalamnya membawa penekanan khusus untuk menjejak jangkauan yang lebih jauh.
”Pengulangan konsonan ‘uu’ pada ‘Mbesuuk’ berkonotasi untuk menjangkau lebih jauh ke masa depan. Tak melulu terkait batasan waktu, ‘Mbesuk’ dalam budaya Jawa juga mengarah pada semangat ramalan,” ujar Ilham Khoiri.
Pemikiran Dua Kurator
Ia menambahkan bahwa pameran ini bertumpu pada hasil pemikiran dua kurator, Sindhunata dan Hermanu, yang menantang para seniman merespons alur perjalanan sejarah Yogyakarta.
”Kurator pameran mengajak para seniman untuk mencermati kembali Yogyakarta dalam bentangan masa lalu, masa kini, dan masa datang. Bentangan yang kerap digambarkan dalam garis imajiner dari Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Panggung Krapyak, hingga Pantai Parangtritis,” lanjutnya.
Imajinasi para seniman melahirkan deretan karya visual yang unik. Tokoh Hanoman dan Rahwana digambarkan bertubuh robot, sosok Nyi Roro Kidul dari laut selatan dilukiskan dengan kepala tertanam chipset komputer bak karakter Terminator, hingga kereta klasik keraton yang kini memiliki baling-baling pesawat.
Karya Budi Ubrux hadir dengan ciri khas elemen kertas korannya, sementara seniman Nasirun menampilkan karya bertajuk Pusar Bumi yang belum pernah dipamerkan sebelumnya. Di sudut lain, seniman Erica Hestu Wahyuni menyajikan karya yang diproses secara langsung di lokasi pameran sehingga bentuknya terus berubah setiap hari.
Realitas Kebudayaan Yogyakarta
Melalui beragam pendekatan estetis tersebut, Ilham Khoiri menegaskan bahwa pameran ini menangkap realitas dinamika kebudayaan Yogyakarta yang sarat akan tarik-menarik antara nilai tradisi dan modernitas.
”Karya-karya itu menunjukkan kompleksitas Yogyakarta. Satu sisi masih kental terasa jejak peradaban keraton dari masa lalu, sisi lain dunia sehari-hari masa kini yang riuh oleh manuver politik, dan saat bersamaan gelombang disrupsi teknologi digital terus mendesak cepat ke masa depan. Semua bergerak, saling tarik-menarik penuh tegangan,” tutur Ilham Khoiri.
Pameran “Mbesuuk” menjadi penanda perjalanan panjang Bentara Budaya sejak pertama kali didirikan di Yogyakarta pada tahun 1982, sebelum akhirnya meluas ke Jakarta, Solo, dan Bali. Melalui momentum peringatan ke-44 tahun ini, Bentara Budaya menegaskan komitmennya untuk terus menjadi wadah kreatif bagi para seniman lintas generasi demi memajukan kebudayaan Indonesia.









