CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Idea Catra

Matinya Nalar Publik

Penulis: Yuliantoro 7 Jan 2026 3 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Refleksi 52 tahun PPP menyoroti hilangnya keberanian politik dan jauhnya partai dari nilai serta umat
Bagikan:
0

catrawarta.com - “Buta terburuk adalah buta politik.” Ungkapan ini adalah peringatan keras tentang bahaya sikap apatis dalam kehidupan bernegara. Kalimat ini kerap dikaitkan dengan Bertolt Brecht, penyair dan dramawan Jerman yang menyoroti ironi manusia modern. “Bangga tidak tahu politik, padahal hidupnya sepenuhnya ditentukan oleh keputusan politik.

“Buta politik bukan soal tidak menjadi politisi atau tidak aktif berpartai. Ia adalah sikap menolak memahami bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana kebijakan publik dibentuk, dan bagaimana keputusan elite menentukan harga komoditas pangan, biaya kesehatan, pendidikan, perumahan, hingga kesempatan kerja. Dalam kondisi ini seseorang hidup dalam ilusi seolah tidak berkepentingan dengan politik padahal keputusan mempengaruhi kepentingan personal.

Fenomena buta politik hari ini menemukan bentuk baru dalam siklus pemujaan dan kekecewaan. Kita menyaksikan bagaimana sebagian pendukung Joko Widodo pada periode awal pemerintahannya menempatkan figur presiden bukan sebagai pejabat publik yang harus diawasi, melainkan sebagai simbol harapan yang nyaris tak boleh dikritik. Kritik dianggap kebencian. Perbedaan pandangan dicap tidak bermoral. Rasionalitas publik ditenggelamkan oleh kultus personal.

Baca Juga
5 artikel
  1. Idea Catra Yang Berada di Luar Lingkaran Penguasa →
  2. Idea Catra Rocky Gerung: Surplus Filsafat, Defisit Ilmu Pengetahuan →
  3. Idea Catra Pemimpin Hebat Bukan Paling Dibutuhkan, Tetapi Membuat Orang Lain Semakin Mampu →
  4. Idea Catra Momentum Kembangkan Batik →
  5. Idea Catra Tak Ada ‘Grade 12’ di Sekolah Gibran →

Masalah muncul ketika realitas tidak sejalan dengan mitos. Janji-janji yang bombastis, narasi kesederhanaan, dan klaim keberpihakan rakyat kecil mulai diuji oleh praktik kekuasaan. Inkonsistensi pernyataan, kompromi politik elitis, serta kebijakan yang memberi ruang luas pada kepentingan keluarga dan kelompok. Kekecewaan pun tak terelakkan. Namun alih-alih melakukan refleksi kritis dan mengakui kesalahan dalam memuja secara berlebihan, sebagian memilih jalan pintas. Politis, trauma politik, dan menutup diri dari seluruh diskursus kekuasaan.

Inilah bentuk baru buta politik yang paling berbahaya. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena sengaja tidak mau tahu. Apolitis dijadikan mekanisme pertahanan psikologis untuk menutupi rasa malu dan luka akibat pilihan politik yang dulu dibela mati-matian. Politik lalu dianggap sumber racun, bukan ruang pembelajaran. Padahal, dalam demokrasi, kesalahan memilih bukan aib, yang berbahaya adalah berhenti belajar.

Sejarah Indonesia mencatat pola serupa. Pada masa Orde Baru, trauma politik juga melahirkan generasi yang alergi pada urusan negara. Politik dipersepsikan sebagai arena kotor dan berbahaya. Namun trauma yang tidak diolah menjadi kesadaran justru melanggengkan ketidakadilan. Ketika warga menjauh, kekuasaan bekerja tanpa kontrol. Ketika publik diam, korupsi menemukan ruang aman.Brecht dengan sarkasme menyebut orang buta politik sebagai mereka yang tidak sadar bahwa dari ketidaktahuannya lahir berbagai persoalan sosial: kemiskinan struktural, anak terlantar, kriminalitas, korupsi, hingga penghisapan sumber daya oleh korporasi besar. Semua itu bukan sekadar kegagalan moral individu, melainkan akibat dari kebijakan politik yang dibiarkan tanpa pengawasan warga.

Melek politik tidak identik dengan fanatisme, kebisingan media sosial, atau loyalitas buta pada tokoh. Melek politik adalah sikap dewasa: memahami kebijakan, bersikap kritis, berani mengoreksi pilihan, dan menempatkan pemimpin sebagai pejabat publik—bukan objek pemujaan. Demokrasi tidak membutuhkan pemuja, melainkan warga sadar.

Dalam negara demokratis, sikap “benci politik” sejatinya bukan netral. Ia adalah sikap yang secara pasif menyerahkan nasib bersama kepada elite. Dan ketika keputusan politik terus memengaruhi harga hidup, kualitas layanan publik, dan arah bangsa, memilih buta politik sama artinya dengan menyerahkan kendali atas masa depan sendiri. Karena itu, buta politik menjadi kebutaan paling berbahaya. Ia membuat manusia melihat, tetapi tidak memahami. Mendengar, tetapi tidak menilai. Hidup, tetapi tidak berdaulat.

Tags:
#Buta #Mati #Nalar #politik #Rakyat
PenulisYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Idea Catra

Rocky Gerung: Surplus Filsafat, Defisit Ilmu Pengetahuan

Abdurrahman Syebubakar • 3 Okt 2026
Idea Catra

Yang Berada di Luar Lingkaran Penguasa

Jaya Suprana • 5 Okt 2026
Idea Catra

Pemimpin Hebat Bukan Paling Dibutuhkan, Tetapi Membuat Orang Lain Semakin Mampu

Dr. Akhmad Edhy Aruman, M.Si • 3 Okt 2026
Idea Catra

Momentum Kembangkan Batik

Didin S Damanhuri • 2 Okt 2026
Idea Catra

Tak Ada ‘Grade 12’ di Sekolah Gibran

Ahmadie Thaha • 2 Okt 2026
Idea Catra

Ideologi Kelirumologisme

Jaya Suprana • 2 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Older man with glasses and a red floral scarf speaks passionately gesturing with an outstretched hand
Idea Catra

Ideologi Kelirumologisme

Jaya Suprana • 2 Okt 2026
Front view of lapas klas i sukamiskin prison building with columns and a red tiled roof in indonesia
Idea Catra

Berulangnya Kasus Fasilitas Mewah di Lapas

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
Idea Catra

Avengers Endgame Encore

Jaya Suprana • 30 Sep 2026
Seniman musisi penari sekaligus pelukis Beragam bidang seni melekat pada sosok mohammad guruh irianto sukarnoputra atau guruh soekarnoputra
Catra Budaya

Guruh Soekarnoputra dan Kegelisahannya Menjaga Budaya Indonesia

Siswantini Suryandari • 26 Sep 2026
Smiling man in a black turban and maroon striped shirt posed before a decorative backdrop with shadow puppet motifs
Catra Budaya

Den Baguse Ngarso, Sosok ‘Kemaki’ yang Baik Hati

Wahjudi Djaja • 23 Sep 2026
Book cover titled renungan  keprihatinan by kurniawan zulkarnain featuring a red circle and a silhouetted man in a suit
Idea Catra

Agenda-Agenda Keindonesiaan ke Depan

Didin S Damanhuri • 16 Sep 2026
Man with short black hair and glasses wearing a dark blue shirt with a kemenkeu emblem smiling while speaking into a handheld microphone
Idea Catra

Menjaga Kredibilitas APBN

Hery Nugroho • 16 Sep 2026
Tugu pal putih jogja
Idea Catra

Hari Keistimewaan Yogyakarta, Menguji Dampak Keistimewaan ke Titik Urat Nadi Rakyat

Mutia • 31 Agu 2026
0
Follow us on
Up Next: Pulau wisata margareta di karibia venezuela 5 Keajaiban Alam & Wisata Spektakuler Venezuela yang Jarang Disorot
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network