CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Baju Baru dan Hati yang Baru

Penulis: dhiya 19 Mar 2026 3 menit baca
Diperbarui Maret 19, 2026
Dalam ajaran islam hari raya tidak pernah diletakkan pada apa yang tampak di luar Muhammad memang memberi teladan untuk tampil rapi bersih dan wangi saat shalat id Tetapi bukan untuk menunjukkan diri melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap momen yang suci
Dalam ajaran Islam, hari raya tidak pernah diletakkan pada apa yang tampak di luar. Muhammad memang memberi teladan untuk tampil rapi, bersih, dan wangi saat shalat Id. Tetapi bukan untuk menunjukkan diri, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap momen yang suci.
Bagikan:
0

catrawarta.com - Pagi itu, pasar terasa lebih ramai dari biasanya. Di antara deretan toko yang dipenuhi warna-warni kain, orang-orang bergerak pelan, memilih, menimbang, lalu kembali bertanya dalam diam: cukup atau belum?

Aroma parfum bercampur dengan bau kain baru memenuhi udara. Seorang anak kecil memeluk baju pilihannya erat-erat, matanya berbinar seolah menemukan sesuatu yang sudah lama dinanti. Di sampingnya, sang ibu tersenyum tipis, lalu diam-diam membuka dompetnya sekali lagi—menghitung, memastikan, dan mungkin juga sedikit meragu.

Menjelang Idulfitri, pemandangan seperti ini selalu berulang. Membeli baju baru seolah menjadi tradisi yang tak pernah benar-benar diajarkan, tetapi terus diwariskan. Ia hidup dalam ingatan kolektif, dalam kebiasaan, dalam rasa “kurang lengkap” jika hari raya datang tanpa sesuatu yang baru.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Namun di balik semarak itu, ada pertanyaan yang jarang diucapkan keras-keras: apakah kebaruan selalu harus dikenakan di tubuh, atau justru seharusnya dirasakan di dalam diri?

Dalam ajaran Islam, hari raya tidak pernah diletakkan pada apa yang tampak di luar. Muhammad memang memberi teladan untuk tampil rapi, bersih, dan wangi saat shalat Id. Tetapi bukan untuk menunjukkan diri, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap momen yang suci.

Sebuah riwayat yang dinukil oleh Al-Hasan bin Ali menyebutkan anjuran mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki, menggunakan wangi-wangian, dan menampakkan ketenangan. Kata “terbaik” di sini tidak selalu berarti baru. Ia bisa saja pakaian lama yang dirawat dengan baik, yang tetap layak dikenakan tanpa harus memberatkan.

Makna ini perlahan terasa memudar ketika hari raya semakin dekat dengan budaya konsumsi. Di banyak tempat, lebaran kerap berubah menjadi ajang yang diam-diam membandingkan: siapa yang paling baru, paling rapi, paling terlihat “siap merayakan”.

Padahal, jauh sebelum semua itu, para ulama telah mengingatkan arah yang berbeda. Ibn Rajab al-Hanbali pernah menulis bahwa hari raya sejati bukan bagi mereka yang mengenakan pakaian baru, tetapi bagi mereka yang bertambah ketaatannya. Bukan bagi yang berhias dengan kemewahan, tetapi bagi yang mendapatkan ampunan.

Di sebuah rumah sederhana, mungkin tidak ada baju baru yang digantung rapi. Tetapi pagi Idulfitri tetap datang dengan cara yang sama. Takbir berkumandang, tangan saling berjabat, dan kata-kata yang sederhana itu akhirnya diucapkan: “maafkan saya.”

Di situlah sesuatu yang lain terjadi. Sesuatu yang tidak terlihat, tetapi terasa. Ada yang dilepaskan—ego, amarah, luka yang disimpan terlalu lama. Ada yang dipulihkan—hubungan yang renggang, hati yang sempit, dan jarak yang pelan-pelan dipendekkan.

Ramadan yang baru saja berlalu sebenarnya telah mempersiapkan semua itu. Selama sebulan, manusia dilatih untuk menahan diri, menunda keinginan, dan belajar memahami batas. Bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari menjadi buruk.

Idulfitri kemudian datang sebagai titik pulang. Bukan sekadar kembali ke rumah, tetapi kembali ke diri yang lebih jernih.

Baju baru, pada akhirnya, hanyalah simbol. Ia boleh dikenakan, selama tidak menjadi beban. Ia boleh dimiliki, selama tidak melahirkan kesombongan. Tetapi ia tidak pernah menjadi ukuran dari kemenangan itu sendiri.

Yang lebih penting adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli di pasar mana pun—“baju hati”. Keikhlasan untuk memaafkan, kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, dan kelapangan jiwa untuk kembali menyambung silaturahmi.

Sebab yang membuat seseorang benar-benar kembali ke fitrah bukanlah apa yang ia kenakan, melainkan apa yang ia lepaskan dari dalam dirinya.

Maka, ketika pagi Idulfitri tiba dan takbir bergema di langit, mungkin pertanyaan yang paling jujur bukan lagi tentang apa yang kita pakai.

Melainkan tentang apa yang telah berubah di dalam diri.

Sudahkah hati kita benar-benar menjadi baru?

Catatan: Artikel ini disusun dengan bantuan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan telah melalui proses kurasi serta penyuntingan oleh tim redaksi.

Tags:
#Hari Raya #lebaran
Penulisdhiya
Jurnalis lulusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga 2025.
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Lebaran Kali Ini Berbeda, Muhammadiyah 20 Maret dan Pemerintah 21 Maret
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network