CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Keromantisannya Terlukis di Macapat ‘Kinanti’ – Cinta Diponegoro kepada Sang Istri

Penulis: Giffari Ighfirlana 8 Jan 2026 2 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Cinta setia sang istri mendampingi perjuangan
Bagikan:
0

catrawarta.com - Mengupas Babad Diponegoro seperti tak ada habisnya.  Masih banyak sisi yang perlu diungkap dan diketahui pembaca. Pada momen khaul Diponegoro kali ini, penulis mencoba mengangkat kisah cinta Diponegoro kepada sang istri.

Pangeran Diponegoro tak hanya ahli di bidang strategi perang, ia juga seorang santri yang paham agama dan banyak julukan yang dilabelkan kepada pahlawan nasional ini. Dari beberapa sumber tentang kisah cintanya kepada sang istri, Raden Ayu Maduretno, ternyata penuh dengan pujian.

Dari pertemuan pertama, sampe menikah, kisah kasih sepanjang pernikahan, hingga kisah sedih kematiannya, mengundang kekaguman.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Budayawan Banyumas Nasirun Wijaya yang banyak menulis kembali Babad Diponegoro menjelaskan, Raden Ayu Maduretno adalah anak Ratu Ayu Maduretno. Ratu Ayu Maduretno adalah anak Sultan Hamengku Buwana II yang dinikahkan dengan Ronggo Prawirodirjo III.

Raden Ayu Maduretno kemudian menjadi yatim piatu. Ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya. Ayahnya terbunuh dalam konspirasi politik Kolonial Inggris.

Setelah itu hidupnya tinggal di istana. Sampai kemudian bertemu Pangeran Diponegoro.

Cinta pada pandangan pertama hingga sang pangeran tidak bisa tidur, selalu terbayang pesonanya. Raden Ayu Maduretno digambarakan sebagai ‘berkumpulnya perempuan berwajah cantik dan bersifat baik se Pulau Jawa’. Tanpa tandingan kecantikan dan kebaikannya.

Setelah meletus perang Jawa, sang istri ikut mendampingi suaminya. Tak pernah meninggalkan. Sampai kemudian menderita sakit. Sampai akhirnya meninggal dunia.

Mengutip keterangan penulis Peter Carey, Nasirun menyebutkan, Raden Ayu Maduretno meninggal di kisaran tanggal 20 Nopember 1827.

Ketika itu sang istri bersama para istri pangeran yang lain berdiam di Kawisharja. Sementara Pangeran Diponegoro dan pengeran yang lain sedang berjuang di wilayah Bagelen (kini ikut wilayah Kabupaten Purworejo Jawa Tengah). Membangun markas di desa Kulur.

Ketika sang istri meninggal, kemesraan Pangeran Diponegoro tidak pernah pudar. Tertulis dalam bait panjang Macapat Kinanti:

“Pesarehan sampun rawuh

meksih mujung cindhe wilis

tan matra surudika

nulya lenggah Sri Bupati

Kanjeng Ratu layonira

pinangku mring Sri Bupati

“Ingkang layon Kangjeng Ratu

sedalu mapan sinandhing

dhumateng Sri Naranata

kang sinjang myang singeb neki

lajenging ngagem sadaya

tan mawi kinumbah iki.”

Kematian Raden Ayu Maduretno diperkirakan terjadi tahun 1827. Dan, sang pangeran menuliskan dengan detil dan penuh keharuan  4 tahun kemudian, pada tahun 1831, jauh dari makam istrinya. Waktu itu, Pangeran Diponegoro sudah ditangkap dan dipenjarakan di Manado.

Tags:
#Diponegoro #Kinanti #Lukisan #Mocopat #Romantis
PenulisGiffari Ighfirlana
Alumnus Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Budaya UIN Sunan Kalijaga
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Kesalahan Strategis Diponegoro yang Tak Pernah Dibahas
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network