CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Idea Catra

“Bertanya Kepada Muhammadiyah”

Penulis: Wahjudi Djaja 23 Feb 2026 4 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Wahjudi Djaja
Bagikan:
0

catrawarta.com - Catatan 103 Tahun Kepergian Kiai Dahlan

Entah kenapa terasa getir dan sesak dada ini menatap persyarikatan Muhammadiyah dalam konfigurasi politik nasional kontemporer. Lahir jauh sebelum Indonesia berdiri, Muhammadiyah tidak saja seperti kehilangan elan vital tapi juga semakin genit dan juga rabun dalam memetakan benturan kepentingan, hal yang terasa amat janggal mengingat kepak juang para para penghulu persyarikatan.

Muhammadiyah Masa Transisi

Belum hilang dari memori kolektif bagaimana Amien Rais berbagi peran dengan Ahmad Sjafi’i Ma’arif terkait peran kesejarahan Muhammadiyah pasca lengsernya Soeharto pada 1998. Tajam menatap kekuasaan dan kritis membidik kebobrokan Orde Baru, Amien yang secara konsisten menyuarakan suksesi sejak Sidang Tanwir 1993 di Surabaya hingga terbukti pada 1998, seperti kehilangan partner. Dia menjadi amat vulgar mengajak berkelahi siapa saja. Tak sedikit warga Muhammadiyah yang cemas. Namun, Muhammadiyah masih aman dalam genggaman Sjafi’i dan secara ksatria menjaga jarak dengan kekuasaan dengan menjauhi politik praktis.

Baca Juga
5 artikel
  1. Idea Catra Yang Berada di Luar Lingkaran Penguasa →
  2. Idea Catra Rocky Gerung: Surplus Filsafat, Defisit Ilmu Pengetahuan →
  3. Idea Catra Pemimpin Hebat Bukan Paling Dibutuhkan, Tetapi Membuat Orang Lain Semakin Mampu →
  4. Idea Catra Momentum Kembangkan Batik →
  5. Idea Catra Tak Ada ‘Grade 12’ di Sekolah Gibran →

Amien-Sjafi’i seperti tandem yang menjadikan high politics sebagai acuan dalam konteks keindonesiaan. Secara politis Amien mengawal agenda reformasi di Senayan, secara moral Sjafi’i mem-back up di persyarikatan. Warga Muhammadiyah, meski terpecah di beberapa partai politik, masih aman damai bisa memegang etika moralitas dan nalar politik sambil meneruskan tradisi amal usahanya.

“You harus bangkit, lanjutkan misi perjuangan”, kata Sjafi’i kepada Amien yang belum bisa menerima fakta kecilnya perolehan suara PAN pada pemilu 1999. Dikenal sebagai lokomotif reformasi, Amien juga dipaksa menelan kekalahan saat pemilihan presiden 2004. SBY melenggang ke kursi kekuasaan sebagai presiden dua periode. Amien dan Sjafi’i merenggang dan harus berpisah jalan pada Pemilu 2014 saat Amien mendukung Prabowo dan Sjafi’i mendukung Jokowi. Muhammadiyah, di bawah Haedar Nashir, mulai gamang menempatkan diri dalam konfigurasi politik. 

Haedar mulai ramah dengan kekuasaan (baca: Jokowi) dengan mendedikasikan amal usaha berupa rumah sakit untuk melayani penderita Covid-19. Sesekali masih terdengar upaya dan suara penyeimbang, seperti dilakukan Busro Muqoddas, untuk menegakkan etika kenegaraan yang kian karut marut. Cukup mencengangkan, bagaimana pimpinan teras Muhammadiyah terlihat semakin genit dengan kekuasaan.

Performans Sekretaris PP Muhammadiyah, saat menjadi moderator debat capres di UMS pada pemilu 2024 yang vulgar minta jatah menteri dari Muhammadiyah, seperti menabrak fatsoen politik yang menjadi karakter Muhammadiyah. Pelan tapi pasti, kita melihat Muhammadiyah terjebak dalam game politik yang didesain penguasa, seiring kian mandulnya suara kritis kelompok cendekiawannya.

Saat Muhammadiyah Menambang

Puncak dari kegelisahan warga Muhammadiyah, semoga saya tidak salah, adalah saat Muhamamdiyah menerima konsesi tambang. Pertanyaan muncul, kurang kaya apa Muhammadiyah dengan amal usaha yang nominalnya tak ada yang menandinginya. Di luar itu, apa Muhammadiyah tak bisa lagi membaca kerusakan ekologis, yang menelan beratus korban, hingga tanpa merasa berdosa mendukung eksploitasi sumber daya alam? 

Lamat terdengar, ghirah ber-Muhammadiyah mulai meredup seiring ingar bingar elitenya di panggung politik. Saat pengajian ranting-ranting Muhammadiyah mulai surut, banyak kader muda Muhammadiyah yang tanpa perasaan bersalah berdiri di balik barisan kekuasaan. Kalangan Pemuda Muhammadiyah tak lagi menjadi corong bagi rakyat dan selalu saja ada alasan untuk berkelit. Muhammadiyah bisa dengan mudah menampilkan segudang peran dan prestasi atas bantuannya untuk Indonesia. Faktanya, rakyat kian terpinggirkan, alam semakin rusak, kohesi sosial kebangsaan dibiarkan retak. Fenomena lain, korupsi, yang lama menjadi sasaran bidik Amien dan Sjafi’i menggurita nyaris tanpa ada resistensi dari Muhammadiyah.

Ideologi amar ma’ruf nahi munkar menyisakan pelajaran di sekolah-sekolah Muhammadiyah, sambil betapa sulitnya kita menemukan konteks sosiologis dalam masyarakat. Semua seolah berlomba-lomba merangsek dan mendekat ke lingkar kekuasaan. Tak peduli menjadi stempel kekuasaan yang penting duduk di kursi kekuasaan. Betapa miskin dan menyakitkan hati.

Tak ada keberanian untuk menatap tajam kekuasaan, apalagi mengingatkan kerusakan yang bakal terjadi jika kita tak amanah dalam memegang kekuasaan. Apakah elite Muhammadiyah sedang menagih balas budi atas begitu banyak sumbangsih yang pernah diberikan pada negara? 

Hari ini, 23 Februari 2026, telah 103 tahun Kiai Ahmad Dahlan wafat. Masih terngiang pesan kesejarahannya, hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Makin berkabut dan bias, bagaimana kontekstualisasi pesan itu dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan saat iming-iming kekuasaan, mulai dukungan dan fasilitasi, diberikan penguasa dan diterima tanpa pernah mempertimbangkan independensi yang lama ditanam para penghulu Muhammadiyah. Semoga Kiai Ahmad Dahlan damai bahagia di keabadian, aamiin

Tags:
#Ahmad Dahlan #Gerakan #Islam #Muhammadiyah #Pembaharuan
Male singer on stage, wearing a white robe and head wrap, holding a microphone and raising one arm.
PenulisWahjudi Djaja
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Idea Catra

Rocky Gerung: Surplus Filsafat, Defisit Ilmu Pengetahuan

Abdurrahman Syebubakar • 3 Okt 2026
Idea Catra

Yang Berada di Luar Lingkaran Penguasa

Jaya Suprana • 5 Okt 2026
Idea Catra

Pemimpin Hebat Bukan Paling Dibutuhkan, Tetapi Membuat Orang Lain Semakin Mampu

Dr. Akhmad Edhy Aruman, M.Si • 3 Okt 2026
Idea Catra

Momentum Kembangkan Batik

Didin S Damanhuri • 2 Okt 2026
Idea Catra

Tak Ada ‘Grade 12’ di Sekolah Gibran

Ahmadie Thaha • 2 Okt 2026
Idea Catra

Ideologi Kelirumologisme

Jaya Suprana • 2 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Older man with glasses and a red floral scarf speaks passionately gesturing with an outstretched hand
Idea Catra

Ideologi Kelirumologisme

Jaya Suprana • 2 Okt 2026
Front view of lapas klas i sukamiskin prison building with columns and a red tiled roof in indonesia
Idea Catra

Berulangnya Kasus Fasilitas Mewah di Lapas

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
Idea Catra

Avengers Endgame Encore

Jaya Suprana • 30 Sep 2026
Seniman musisi penari sekaligus pelukis Beragam bidang seni melekat pada sosok mohammad guruh irianto sukarnoputra atau guruh soekarnoputra
Catra Budaya

Guruh Soekarnoputra dan Kegelisahannya Menjaga Budaya Indonesia

Siswantini Suryandari • 26 Sep 2026
Smiling man in a black turban and maroon striped shirt posed before a decorative backdrop with shadow puppet motifs
Catra Budaya

Den Baguse Ngarso, Sosok ‘Kemaki’ yang Baik Hati

Wahjudi Djaja • 23 Sep 2026
Book cover titled renungan  keprihatinan by kurniawan zulkarnain featuring a red circle and a silhouetted man in a suit
Idea Catra

Agenda-Agenda Keindonesiaan ke Depan

Didin S Damanhuri • 16 Sep 2026
Man with short black hair and glasses wearing a dark blue shirt with a kemenkeu emblem smiling while speaking into a handheld microphone
Idea Catra

Menjaga Kredibilitas APBN

Hery Nugroho • 16 Sep 2026
Tugu pal putih jogja
Idea Catra

Hari Keistimewaan Yogyakarta, Menguji Dampak Keistimewaan ke Titik Urat Nadi Rakyat

Mutia • 31 Agu 2026
0
Follow us on
Up Next: MBG Selama Ramadhan, Pemda DIY Perketat Pengawasan Gizi
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network