CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Idea Catra

Memperkuat Kembali Kuasa Rakyat

Penulis: Aprinus Salam 4 Feb 2026 3 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Dr. Aprianus Salam - Guru Besar FIB UGM
Bagikan:
0

catrawarta.com - Kalau para penguasa negeri ini memang tidak bisa dikritik, tidak mau dikasih masukan yang konstruktif, maka perlu strategi lain, yakni memperkuat kembali kuasa rakyat. Bagaimana hal tersebut masih dimungkinkan?

Hal mendasar yang perlu dipahami adalah bahwa pengertian warga negara, rakyat, masyarakat, warga profesi dengan berbagai identitasnya, itu berbeda. Mungkin warga negara bisa mengklaim dirinya sebagai rakyat, tetapi rakyat bukan warga negara. Sebagai anggota masyarakat juga bisa menyebut dirinya sebagai rakyat, tapi rakyat bukan masyarakat. 

Rakyat adalah suatu sosok yang memiliki substansi dan nilai keberdaulatan. Sebagai sosok yang berdaulat, rakyat adalah sesuatu yang mandiri, tidak bergantung. Dalam posisi itu, rakyat seharusnya tidak memiliki kepentingan. Bahkan secara lebih ekstrim, rakyat hidup lebih naluriah, lebih berdasarkan hati nuraninya, ketimbang sesuatu yang kulturiah. 

Baca Juga
5 artikel
  1. Idea Catra Yang Berada di Luar Lingkaran Penguasa →
  2. Idea Catra Rocky Gerung: Surplus Filsafat, Defisit Ilmu Pengetahuan →
  3. Idea Catra Pemimpin Hebat Bukan Paling Dibutuhkan, Tetapi Membuat Orang Lain Semakin Mampu →
  4. Idea Catra Momentum Kembangkan Batik →
  5. Idea Catra Tak Ada ‘Grade 12’ di Sekolah Gibran →

Keberadaan rakyat seperti itu pernah diperlihatkan dalam Revolusi Prancis. Pada tahun 1789 dan beberapa tahun berikutnya, warga Prancis, sebagian besar rakyat petani, yang muak dengan kezaliman Louis XVI melakukan pemberontakan. Setelah pemberontahan radikal tersebut menang, para rakyat petani pulang ke kampungnya masing-masing dan kembali bertani. 

Rakyat petani Prancis memberi kode keras bahwa mereka bergerak secara naluriah untuk menghentikan kezaliman raja. Setelah raja runtuh, mereka pulang ke kampung dan kembali menjadi petani. Tidak ada pretensi untuk memperlihatkan jasa agar dianggap sebagai pahlawan yang menginginkan kedudukan. 

Peristiwa besar di Indonesia, seperti tahun 1998, sebagian besar dari mereka adalah rakyat yang hari ini selalu dan tetap menjadi rakyat. Mereka kembali menjadi buruh pabrik, petani, atau sebagian yang lain menjadi pekerja-pekerja dasar berkolaborasi bersama alam. 

Dalam pemberontakan tersebut, tentu ada yang nebeng. Hal tersebut memperlihatkan bahwa mereka hanya warga biasa yang berhasrat mengambil hak-hak sipilnya untuk terlibat dalam politik, atau ekonomi dan sosial, dan sebagainya. Biasanya, mereka pula yang banyak tampil memperlihatkan jasa agar mendapat kedudukan kekuasaan. Dalam sejarahnya, peran rakyat semakin hilang.

Berdasarkan itu, kita menjadi tahu bahwa kini menjadi rakyat memang sangat berat. Bahkan seperti terkesan manusia yang tidak berguna. Keberadaan negara tentu dimaksudkan bisa mengondisikan dan selalu menghadirkan rakyat. Karena hal itu pula yang diamanatkan oleh UUD 1945.

Akan tetapi, pemerintah yang berkuasa yang mengelola negara tentu tidak sangat nyaman jika rakyat menguat. Itulah sebabnya, kekuasaan politik kepemerintahan lebih banyak memproduksi warga negara yang semuanya bisa dikontrol secara administratif. 

Sebagai warga negara, semua hal harus dimulai dari Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau tercatat dalam Kartu Keluarga (KK). Jika tidak memiliki KTP, atau tidak tercatat dalam KK, maka dianggap tidak warga negara. Dianggap orang liar yang tidak dilindungi secara hukum kenegaraan. 

Namun, sebagai warga negara, bukan berarti tertutup atau semakin kecil peluangnya untuk bisa (kembali) menjadi rakyat. Peluang tersebut dimungkinkan dengan melakukan berbagai strategi kehidupan yang lebih bijak.

Pertama, perlu punya keberanian untuk lebih mandiri, menjadi manusia bebas. Termasuk kemungkinan menisbikan harapan, cita-cita, dan berbagai keinginan untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Karena menjadi rakyat adalah kebermanfaatan itu sendiri.

Kedua, perlu kembali menjunjung secara berani semua nilai dan makna dalam Pembukaan UUD 1945. Karena poros subjek dalam Pembukaan UUD 1945, adalah rakyat (Kerakyatan) yang menjunjung nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Keadilan, Keutuhan Indonesia, demi Keadilan sosial bagi bangsa Indonesia. 

Ketiga, perlu memiliki kesadaran bahwa siapa pun yang bertentangan dengan hal kedua di atas, perlu dilawan dengan rasa tidak takut, karena yang tidak menghormati UUD 1945 justru melanggar konstitusi. 

Kalau guru biasa disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, maka rakyat memang tidak membutuhkan tanda jasa. Bahkan apa yang disebut sebagai pahlawan “nasional” adalah identitas konstruksi negara sesuai dengan kepentingan negara. 

Menjadi dan kembali bisa menjadi rakyat adalah suatu derajat yang tinggi. Dalam posisi itu, kuasa kedaulatan rakyat dapat ditempatkan kembali sebagai makna yang sejati dan mulia. 

Tags:
#Aprinus salam #Budaya #Guru besar FIB UGM #kekuasaan #politik
PenulisAprinus Salam
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Idea Catra

Rocky Gerung: Surplus Filsafat, Defisit Ilmu Pengetahuan

Abdurrahman Syebubakar • 3 Okt 2026
Idea Catra

Yang Berada di Luar Lingkaran Penguasa

Jaya Suprana • 5 Okt 2026
Idea Catra

Pemimpin Hebat Bukan Paling Dibutuhkan, Tetapi Membuat Orang Lain Semakin Mampu

Dr. Akhmad Edhy Aruman, M.Si • 3 Okt 2026
Idea Catra

Momentum Kembangkan Batik

Didin S Damanhuri • 2 Okt 2026
Idea Catra

Tak Ada ‘Grade 12’ di Sekolah Gibran

Ahmadie Thaha • 2 Okt 2026
Idea Catra

Ideologi Kelirumologisme

Jaya Suprana • 2 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Older man with glasses and a red floral scarf speaks passionately gesturing with an outstretched hand
Idea Catra

Ideologi Kelirumologisme

Jaya Suprana • 2 Okt 2026
Front view of lapas klas i sukamiskin prison building with columns and a red tiled roof in indonesia
Idea Catra

Berulangnya Kasus Fasilitas Mewah di Lapas

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
Idea Catra

Avengers Endgame Encore

Jaya Suprana • 30 Sep 2026
Seniman musisi penari sekaligus pelukis Beragam bidang seni melekat pada sosok mohammad guruh irianto sukarnoputra atau guruh soekarnoputra
Catra Budaya

Guruh Soekarnoputra dan Kegelisahannya Menjaga Budaya Indonesia

Siswantini Suryandari • 26 Sep 2026
Smiling man in a black turban and maroon striped shirt posed before a decorative backdrop with shadow puppet motifs
Catra Budaya

Den Baguse Ngarso, Sosok ‘Kemaki’ yang Baik Hati

Wahjudi Djaja • 23 Sep 2026
Book cover titled renungan  keprihatinan by kurniawan zulkarnain featuring a red circle and a silhouetted man in a suit
Idea Catra

Agenda-Agenda Keindonesiaan ke Depan

Didin S Damanhuri • 16 Sep 2026
Man with short black hair and glasses wearing a dark blue shirt with a kemenkeu emblem smiling while speaking into a handheld microphone
Idea Catra

Menjaga Kredibilitas APBN

Hery Nugroho • 16 Sep 2026
Tugu pal putih jogja
Idea Catra

Hari Keistimewaan Yogyakarta, Menguji Dampak Keistimewaan ke Titik Urat Nadi Rakyat

Mutia • 31 Agu 2026
0
Follow us on
Up Next: Perkuat Sekolah Rakyat, Kemensos Lakukan Sinkronisasi ke Dapodik
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network