CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Idea Catra

Mentalitas Baja di Ujung Pena Kritikus

Penulis: Wahyu Nugroho 17 Feb 2026 3 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Perupa dari komunitas ALKMAART, Dyon, berkarya pointilis di atas lempengan batu granit. (Dok. Penulis)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Pada 15 Pebruari 2026, sebuah tulisan menarik dari  Agus Dermawan T yang dipublikasikan situs Borobudur Writers. Tulisan tersebut merupakan hasil wawancara yang dilakukan oleh Henny Handayani dari Bali Art Catalogue. Dalam percakapan itu, Agus menyisipkan penggalan cerita memilukan yang sempat membuatnya  sulit tidur, menggambarkan sebuah sisi kelam di balik gemerlap dunia seni rupa.

Agus Dermawan menyampaikan tentang seorang perupa yang berhenti berkarya atau “pensiun” akibat kritik seni yang dia lakukan di sebuah koran nasional. Istri sang seniman mengungkapkan, bahwa suaminya telah mencurahkan waktu sepenuhnya selama sepuluh bulan dan menguras seluruh modal rumah tangga untuk membiayai pamerannya. Harapan besar untuk meraih kesuksesan justru berujung pada kehancuran total.

Kritikan di media massa itu menurut istrinya berdampak fatal, yaitu mematikan pasar karya-karya suaminya. Akibatnya, keluarga tersebut jatuh bangkrut karena seluruh sumber daya finansial telah habis terpakai untuk persiapan pameran. Mendengar dampak domino yang begitu dahsyat, Agus Dermawan T mengungkapkan rasa penyesalannya. 

Baca Juga
5 artikel
  1. Idea Catra Yang Berada di Luar Lingkaran Penguasa →
  2. Idea Catra Rocky Gerung: Surplus Filsafat, Defisit Ilmu Pengetahuan →
  3. Idea Catra Pemimpin Hebat Bukan Paling Dibutuhkan, Tetapi Membuat Orang Lain Semakin Mampu →
  4. Idea Catra Momentum Kembangkan Batik →
  5. Idea Catra Tak Ada ‘Grade 12’ di Sekolah Gibran →

Peristiwa ini memperlihatkan betapa rapuhnya nasib seorang kreator saat berhadapan dengan raksasa bernama kritik seni. Fenomena ini memicu renungan mengenai apa fungsi sejati dari sebuah kritik ?

Kritik seni seharusnya tidak bekerja seperti mesin pemotong yang tanpa pandang bulu membabat kreativitas seseorang. Sebaliknya, kritik seni harus berperan sebagai navigator atau kawan dialog yang jeli bagi seniman, yang bertujuan untuk membantu memperluas kemungkinan-kemungkinan pada capaian artistik karya-karyanya.

Kritik yang berbobot idealnya mampu membedah karya dengan pisau analisis yang tajam tanpa harus meruntuhkan harkat dan martabat kreatornya. Ketika sebuah tulisan beralih fungsi menjadi alat penghancur pasar dan pembunuh karakter, ia telah mencederai sebagai sarana edukasi publik. Serta, jika kritik tanpa rasa empati, hanya akan menjadi deretan kata-kata “ketus” yang lebih menonjolkan ego penulisnya dalam memamerkan keluasan wawasan.

Sedangkan keputusan seorang perupa untuk “menggantung kuas” akibat ulasan media juga menyingkap tabir mengenai kerentanan mentalitas pelaku seni. Saat sebuah karya disodorkan ke ruang publik, seharusnya seorang kreator sudah siap mental dan menyadari bahwa karyanya akan menjadi sasaran berbagai tafsir, termasuk kritik yang paling menyakitkan sekalipun. Sangat disayangkan jika perjalanan artistik yang panjang harus terhenti hanya karena satu opini di antara sekian ragam persepsi.

Sejarah mencatat bahwa tidak sedikit karya-karya masterpiece dunia baru diakui kualitasnya justru setelah dikritik habis-habisan. Misalkan, dianggap tidak memenuhi standar kualitas yang berlaku di zamannya. Seniman idealnya berlapang dada. Memandang kritik bukan sebagai vonis mati, melainkan sekadar kepingan perspektif. Tantangan sesungguhnya bagi seorang perupa adalah menjaga kemurnian ide di tengah tekanan eksternal yang selalu menuntut “kesempurnaan”.

Tidak jarang dunia seni rupa kerap terjebak dalam pengejaran citra visual yang instan dan marketable, namun sering kali melupakan denyut “ruh” saat proses penciptaan. Akibatnya, saat kritik menyasar pada kekosongan “ruh” di kanvas, pertahanan mental sang seniman langsung runtuh; panik, marah, atau sebaliknya: putus asa. Tanpa getaran jiwa yang kuat, sebuah karya hanya akan menjadi benda dekoratif yang sangat rapuh oleh komentar-komentar tajam.

Keberanian untuk menampilkan ketidaksempurnaan dalam persepsi publik adalah kunci utama dalam menjaga integritas kreator. Seorang perupa sejati tidak akan merasa malu pada goresan yang dianggap menyimpang dari pakem akademis, asalkan hal itu lahir dari keresahan pribadi yang murni. Bukan karena ketidakmampuan teknis. Jika prinsip kejujuran batin ini sudah terpatri, ulasan senegatif apa pun tidak akan mampu menggoyahkan arah kreativitasnya. 

Penyesalan Agus Dermawan T menjadi pengingat penting bagi para kritikus agar menjadikan tulisan mereka sebagai “pupuk” bagi pertumbuhan seni, bukan “racun” yang bisa membunuh karakter atau mata pencaharian. Bagi seniman, menyerah pada tajamnya pena kritikus adalah sebuah tragedi kreatif. Seorang kreator harus tetap tegak dengan karakternya, sebab kejujuran batin adalah pondasi kokoh yang membuat sebuah karya tetap abadi yang memiliki potensi melampaui zaman.

Purwosari, 17 Pebruari 2026

Tags:
#Baja #Budaya #Lukisan #Seni
PenulisWahyu Nugroho
Pelukis Hyperabstract, Pendiri Komunitas Guru Seni dan Perupa Pasuruan (KGSP), Inisiator Gerakan Gandheng Renteng, Peraih Penghargaan Gubernur Jawa Timur 2015
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Idea Catra

Rocky Gerung: Surplus Filsafat, Defisit Ilmu Pengetahuan

Abdurrahman Syebubakar • 3 Okt 2026
Idea Catra

Yang Berada di Luar Lingkaran Penguasa

Jaya Suprana • 5 Okt 2026
Idea Catra

Pemimpin Hebat Bukan Paling Dibutuhkan, Tetapi Membuat Orang Lain Semakin Mampu

Dr. Akhmad Edhy Aruman, M.Si • 3 Okt 2026
Idea Catra

Momentum Kembangkan Batik

Didin S Damanhuri • 2 Okt 2026
Idea Catra

Tak Ada ‘Grade 12’ di Sekolah Gibran

Ahmadie Thaha • 2 Okt 2026
Idea Catra

Ideologi Kelirumologisme

Jaya Suprana • 2 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Older man with glasses and a red floral scarf speaks passionately gesturing with an outstretched hand
Idea Catra

Ideologi Kelirumologisme

Jaya Suprana • 2 Okt 2026
Front view of lapas klas i sukamiskin prison building with columns and a red tiled roof in indonesia
Idea Catra

Berulangnya Kasus Fasilitas Mewah di Lapas

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
Idea Catra

Avengers Endgame Encore

Jaya Suprana • 30 Sep 2026
Seniman musisi penari sekaligus pelukis Beragam bidang seni melekat pada sosok mohammad guruh irianto sukarnoputra atau guruh soekarnoputra
Catra Budaya

Guruh Soekarnoputra dan Kegelisahannya Menjaga Budaya Indonesia

Siswantini Suryandari • 26 Sep 2026
Smiling man in a black turban and maroon striped shirt posed before a decorative backdrop with shadow puppet motifs
Catra Budaya

Den Baguse Ngarso, Sosok ‘Kemaki’ yang Baik Hati

Wahjudi Djaja • 23 Sep 2026
Book cover titled renungan  keprihatinan by kurniawan zulkarnain featuring a red circle and a silhouetted man in a suit
Idea Catra

Agenda-Agenda Keindonesiaan ke Depan

Didin S Damanhuri • 16 Sep 2026
Man with short black hair and glasses wearing a dark blue shirt with a kemenkeu emblem smiling while speaking into a handheld microphone
Idea Catra

Menjaga Kredibilitas APBN

Hery Nugroho • 16 Sep 2026
Tugu pal putih jogja
Idea Catra

Hari Keistimewaan Yogyakarta, Menguji Dampak Keistimewaan ke Titik Urat Nadi Rakyat

Mutia • 31 Agu 2026
0
Follow us on
Up Next: Hamka, Panjimas dan Bung Karno
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network