CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Idea Catra

Otoritas vs Sensitivitas

Penulis: Wahjudi Djaja 27 Jan 2026 3 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Ilustrasi Donald Trump dalam jubah Louis XIV (Sumber: nymag.com)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Salah satu kelemahan, kalau bukan penyakit, kekuasaan adalah rendahnya sensitivitas. Ada jarak antara apa yang dirasakan dan dialami rakyat dengan kebijakan yang dibuat penguasa. Pada titik nadir, kondisi itu bisa kontraduktif bahkan menyebabkan munculnya krisis.

Memperjuangkan Kekuasaan

Otoritas kekuasaan sering menjadi target perjuangan individu atau gerakan kolektif. Dalam masyarakat tradisional, otoritas diwariskan secara turun-temurun dalam sebuah klan atau dinasti. Meskipun tak menutup kemungkinan meletupnya pemberontakan atau intervensi kekuasaan luar, tetapi secara umum polanya tak jauh dari intrik internal.

Dalam masyarakat modern, otoritas kekuasaan diperebutkan secara legal dalam sebuah pemilihan umum. Demokrasi, konon, bisa dibangun di atas proses pemilihan umum yang adil, jujur dan transparan. Pemenang dalam pemilihan umum atau peraih kursi terbanyak, biasanya memiliki hak mendesain konfigurasi kekuasaan. Bila pemilu bisa berlangsung secara legitimate, otoritas bisa dipegang dan digerakkan secara efektif. Namun, bila banyak kecurangan dalam pemilu, maka kehidupan bangsa dan negara mudah goncang dan tidak stabil.

Baca Juga
5 artikel
  1. Idea Catra Yang Berada di Luar Lingkaran Penguasa →
  2. Idea Catra Rocky Gerung: Surplus Filsafat, Defisit Ilmu Pengetahuan →
  3. Idea Catra Pemimpin Hebat Bukan Paling Dibutuhkan, Tetapi Membuat Orang Lain Semakin Mampu →
  4. Idea Catra Momentum Kembangkan Batik →
  5. Idea Catra Tak Ada ‘Grade 12’ di Sekolah Gibran →

Idealisme demokrasi sering membentur budaya politik. Pada masyarakat feodal paternalistik, apalagi dalam kondisi miskin, demokrasi bisa dikendalikan elite atau pemodal. Kondisi itu mempermudah pemegang otoritas kekuasaan untuk menata instrumen demi kelangsungan pengaruhnya.

Karakter kekuasaan adalah memperkuat diri. Maka benar kata Lord Acton (1833-1902), power tends to corroupt. Kekuasaan itu candu, tak setiap elite mempunyai kesiapan mental untuk tidak berkuasa dan menjadi warga biasa. Bayangan kemiskinan tak dihargai di masyarakat terus membayang. Itulah alasan kenapa mereka berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan kekuasaan selama mungkin. Bila perlu, anak istri dan menantu ditanam sebagai pilar yang menyokong kekuasaan yang susah payah direbut. Di ujung sana, Louis XIX telah men-declare, L’État, c’est moi (negara adalah saya).

Bias Kekuasaan

Dalam konteks pemikiran singkat di atas, kita bisa melihat bagaimana kekuasaan dioperasionalkan di Indonesia. Meski diombang-ambingkan sistem parlementer, Bung Karno belum tergantikan. Dia masih yang paling menonjol dan terlalu riskan membincangkan Indonesia tanpa melibatkan eksistensinya. Satu hal yang penting dicatat, Bung Karno tak melibatkan anak dan istri dalam urusan politik ekonomi kekuasaan.

Soeharto belajar dari Bung Karno. Secara ekonomi lebih mapan dibanding Orde Lama, dia mendesain Orde Baru secara sistematis. Lembaga politik dikendalikan, TNI di bawah pengaruhnya, dan ini yang menonjol, anak-anak diberi ruang membangun jejaring kekuasaan di bidang ekonomi. Dampaknya, 32 tahun kekuasaan bisa digenggam tanpa ada resistensi yang berarti. Penguasa Orde Baru akhirnya tumbang pada 1998.

Apa yang bisa dipetik dari kedua orde? Sensitivitas. Manakala kekuasaan tidak sensitif pada etika dan moralitas, nalar dan hati nurani, serta kewajaran hidup bersama, di sana kekuasaan berada di tepi jurang. Kekuasaan yang tidak sensitif adalah karakter utama otoritarianisme, kemutlakan, dan itu menegasikan keadilan serta hak asasi manusia.

Maka agak aneh bahwa kekuasaan pasca reformasi juga menampilkan gejala tidak sensitif pada ketakwajaran hidup. Mengangkat keluarga dalam jajaran kekuasaan di pusat dan daerah, meski atas nama demokrasi, tetaplah mencederai asas kepantasan. Di situ etika dan moral kekuasaan diuji. Pengendalian diri adalah kunci utama manakala kekuasaan hendak kita jadikan sarana membangun kehidupan bangsa.

Kita (masih) berharap agar nilai keutamaan Pancasila diangkat, dipegang erat dan diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu alas, perisai sekaligus payung kehidupan kolektif bangsa ini. Hentikan kebiasaan memberi label pada kelompok masyarakat yang kritis. Kekuasaan tak boleh mempribadi karena ia adalah representasi kedaulatan rakyat. Menembak kelompok masyarakat sebagai antek asing tetapi secara vulgar menjadi kepanjangan tangan kekuasaan asing, bukan saja menambah luka tetapi merobek ikatan jiwa bangsa.

Referensi Artikel : Thomas Djiwandono Jabat Deputi Gubernur BI

Tags:
#Demokrasi #kekuasaa #Otoritas #sensitivitas
Male singer on stage, wearing a white robe and head wrap, holding a microphone and raising one arm.
PenulisWahjudi Djaja
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Idea Catra

Rocky Gerung: Surplus Filsafat, Defisit Ilmu Pengetahuan

Abdurrahman Syebubakar • 3 Okt 2026
Idea Catra

Yang Berada di Luar Lingkaran Penguasa

Jaya Suprana • 5 Okt 2026
Idea Catra

Pemimpin Hebat Bukan Paling Dibutuhkan, Tetapi Membuat Orang Lain Semakin Mampu

Dr. Akhmad Edhy Aruman, M.Si • 3 Okt 2026
Idea Catra

Momentum Kembangkan Batik

Didin S Damanhuri • 2 Okt 2026
Idea Catra

Tak Ada ‘Grade 12’ di Sekolah Gibran

Ahmadie Thaha • 2 Okt 2026
Idea Catra

Ideologi Kelirumologisme

Jaya Suprana • 2 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Older man with glasses and a red floral scarf speaks passionately gesturing with an outstretched hand
Idea Catra

Ideologi Kelirumologisme

Jaya Suprana • 2 Okt 2026
Front view of lapas klas i sukamiskin prison building with columns and a red tiled roof in indonesia
Idea Catra

Berulangnya Kasus Fasilitas Mewah di Lapas

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
Idea Catra

Avengers Endgame Encore

Jaya Suprana • 30 Sep 2026
Seniman musisi penari sekaligus pelukis Beragam bidang seni melekat pada sosok mohammad guruh irianto sukarnoputra atau guruh soekarnoputra
Catra Budaya

Guruh Soekarnoputra dan Kegelisahannya Menjaga Budaya Indonesia

Siswantini Suryandari • 26 Sep 2026
Smiling man in a black turban and maroon striped shirt posed before a decorative backdrop with shadow puppet motifs
Catra Budaya

Den Baguse Ngarso, Sosok ‘Kemaki’ yang Baik Hati

Wahjudi Djaja • 23 Sep 2026
Book cover titled renungan  keprihatinan by kurniawan zulkarnain featuring a red circle and a silhouetted man in a suit
Idea Catra

Agenda-Agenda Keindonesiaan ke Depan

Didin S Damanhuri • 16 Sep 2026
Man with short black hair and glasses wearing a dark blue shirt with a kemenkeu emblem smiling while speaking into a handheld microphone
Idea Catra

Menjaga Kredibilitas APBN

Hery Nugroho • 16 Sep 2026
Tugu pal putih jogja
Idea Catra

Hari Keistimewaan Yogyakarta, Menguji Dampak Keistimewaan ke Titik Urat Nadi Rakyat

Mutia • 31 Agu 2026
0
Follow us on
Up Next: Presiden suharto menyapa dengan hangat Mengutuk Soeharto Sambil Menikmati Tol
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network