CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Mengenal Tentara Gurkha, Pasukan Elite Nepal Pernah Bertempur di Indonesia

Penulis: Siswantini Suryandari 2 Agu 2026 4 menit baca
Bare chested gurkha soldiers in berets examine a large riveted artillery vehicle outdoors
Prajurit Gurkha sedang latihan menggunakan senjata.
Bagikan:
0

catrawarta.com - Bagi ibu saya, Gurkha bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Saat masih duduk di bangku sekolah, ia pernah beberapa kali berpapasan dengan prajurit bertubuh tegap asal Nepal yang sedang bertugas. 

Bertahun-tahun kemudian, ketika kabar meninggalnya pendaki Nirmal “Nimsdai” Purja tersiar ke seluruh dunia, ingatan itu kembali muncul. 

Purja ternyata juga pernah menjadi bagian dari Brigade of Gurkhas, pasukan elite yang jejak sejarahnya bahkan pernah bersinggungan dengan Indonesia.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Nama Nirmal “Nimsdai” Purja selama ini identik dengan rekor pendakian 14 gunung tertinggi dunia dalam waktu kurang dari tujuh bulan. 

Namun jauh sebelum menjadi legenda pendakian, pria kelahiran Nepal itu lebih dulu mengenyam kehidupan sebagai prajurit Gurkha, pasukan elite yang selama lebih dari 200 tahun dikenal sebagai salah satu kekuatan tempur paling disegani di dunia.

Berawal dari Perang Anglo-Nepal

Sejarah Gurkha bermula dari Perang Anglo-Nepal pada 1814–1816. Berdasarkan arsip National Army Museum di London, lahirnya Brigade Gurkha bukan karena Nepal dijajah Inggris. Justru sebaliknya, Inggris memutuskan merekrut prajurit Nepal setelah menyadari bahwa mereka adalah lawan yang sangat tangguh di medan perang.

Group of gurkha soldiers in uniform standing in formation beside a field cannon outdoors black and white archival photo
Prajurit Gurkha bersenjata lengkap dan membawa meriam. (dok The Gurkha Museum)

Pada akhir abad ke-18, Kerajaan Gorkha di bawah Raja Prithvi Narayan Shah berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di kawasan Himalaya dan membentuk Nepal modern. Ekspansi wilayah Gorkha kemudian membawa mereka berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaan British East India Company, yang akhirnya memicu perang.

Dalam konflik tersebut, Inggris mengerahkan sekitar 30.000 tentara untuk menghadapi sekitar 12.000 prajurit Gorkha. Meski kalah dalam jumlah maupun persenjataan, pasukan Gorkha mampu memberikan perlawanan sengit di pegunungan Himalaya.

Salah satu pertempuran paling terkenal adalah Pertempuran Nalapani pada 1814. Sekitar 600 prajurit Gorkha di bawah komando Kapten Balbhadra Kunwar mampu bertahan lebih dari satu bulan menghadapi ribuan tentara Inggris yang didukung artileri modern.

Setelah perang berakhir melalui Perjanjian Sugauli pada 1816, Nepal memang kehilangan sebagian wilayahnya. Namun, Inggris mengambil langkah yang tidak biasa. Alih-alih membubarkan lawan yang telah dikalahkan, mereka justru menawarkan kesempatan kepada para prajurit Gorkha untuk bergabung sebagai tentara dalam pasukan British East India Company.

Banyak mantan prajurit Gorkha menerima tawaran tersebut karena memperoleh penghasilan tetap, kesempatan berkarier sebagai tentara profesional, serta sesuai dengan tradisi militer yang telah mengakar di masyarakat pegunungan Nepal.

Bahkan sejak 1815, sebelum perang benar-benar berakhir, Inggris mulai membentuk satuan pertama yang beranggotakan mantan prajurit Gorkha. Satuan ini kemudian berkembang menjadi sejumlah Resimen Gurkha (Gurkha Rifles) yang menjadi bagian penting dari Tentara India Britania.

Sejak saat itu, Gurkha terlibat dalam hampir seluruh konflik besar yang dihadapi Inggris, mulai dari Perang Sikh, Perang Dunia I, Perang Dunia II, hingga berbagai operasi militer modern di Irak dan Afghanistan.

Nama “Gurkha” sendiri berasal dari Gorkha, kerajaan kecil di Nepal yang menjadi cikal bakal penyatuan Nepal modern.

Pernah Bertempur di Indonesia

Setelah India merdeka pada 1947, empat resimen Gurkha dipindahkan ke Angkatan Darat Britania, sementara enam resimen lainnya menjadi bagian dari Angkatan Darat India.

Pada masa berakhirnya Perang Dunia II, Pasukan Ghurka datang bersama Sekutu (AFNEI) tahun 1945-1946 untuk melucuti tentara Jepang dan membebaskan tawanan perang. Mereka juga terlibat dalam bentrokan sengit melawan pejuang Indonesia di Bandung dan Surabaya.

Senior officer in a suit and hat salutes a line of uniformed soldiers during a ceremonial inspection black and white photo
Presiden RI Soekarno melakukan inspeksi pasukan sebelum dikirim ke Kalimantan menghadapi konfrontasi dengan Malaysia. (dok Arsip Nasional)

Brigade Gurkha kemudian ditempatkan di Malaya selama Darurat Malaya (1948-1960) sebelum diterjunkan dalam Konfrontasi Indonesia–Malaysia (1963-1966).

Dalam buku Gurkha Odyssey: Campaigning for the Crown karya Lieutenant General Sir Peter Duffell, dijelaskan bahwa Konfrontasi Indonesia-Malaysia menjadi salah satu operasi militer paling berat yang pernah dihadapi Gurkha. 

Hutan-hutan lebat Kalimantan menjadi arena pertempuran antara pasukan Indonesia melawan pasukan Inggris dan Persemakmuran yang diperkuat Brigade Gurkha.

Di medan yang sama, pasukan Gurkha berhadapan dengan prajurit-prajurit terbaik Indonesia dalam operasi gerilya yang hingga kini masih menjadi bagian penting sejarah militer kedua negara.

Saat itu, Presiden Soekarno menolak pembentukan Federasi Malaysia dan mengumumkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora). 

Garis perbatasan Kalimantan dengan Sarawak dan Sabah berubah menjadi wilayah operasi gerilya yang melibatkan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) kini Kopassus, serta Korps Komando Operasi (KKO) kini Korps Marinir TNI AL melawan pasukan Inggris dan Brigade Gurkha.

Selain bertugas dalam Konfrontasi, Brigade Gurkha juga pernah diterjunkan ke Kosovo, Bosnia, Timor Timur, Sierra Leone, Irak, dan Afghanistan. Di Afghanistan, mereka membantu operasi pengamanan setelah tumbangnya rezim Taliban pada 2001.

Simbol Keberanian

Selama bertahun-tahun, hanya veteran Gurkha pensiun setelah 1997 yang diizinkan menetap di Britania Raya. 

Namun setelah perjuangan panjang yang didukung aktris Inggris Joanna Lumley melalui kampanye Gurkha Justice Campaign, sekitar 36.000 veteran Gurkha yang pensiun sebelum 1997 akhirnya memperoleh hak menetap di Britania Raya bersama keluarga mereka pada 2009.

Keberanian yang selama dua abad melekat pada nama Gurkha itulah yang kemudian diwarisi Nirmal “Nimsdai” Purja. 

Dari medan perang hingga lereng Himalaya, semangat pantang menyerah yang menjadi identitas Gurkha terus hidup dalam perjalanan hidupnya. 

Tags:
#inggris #Konfrontasi RI-Malaysia #Nepal #Nirmal Nimsdai Purja #pasukan elit Nepal #Peristiwa Dwikora #Tentara Gurkha
Siswantini Suryandari
PenulisSiswantini Suryandari
Jurnalis senior, alumi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada
Sketched-style portrait of a man with glasses, smiling, outdoors with palm trees in the background.
EditorWicaksana
Jurnalis senior, tinggal di Yogyakarta.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Three people in an office an elderly woman in a white head scarf smiling in the foreground with a police officer and a man in a light blue shirt standing beside her Temukan Bukti Baru, Polisi Olah TKP Ulang Kematian Satpam Sumarna
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network