catrawarta.com - Bagi ibu saya, Gurkha bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Saat masih duduk di bangku sekolah, ia pernah beberapa kali berpapasan dengan prajurit bertubuh tegap asal Nepal yang sedang bertugas.
Bertahun-tahun kemudian, ketika kabar meninggalnya pendaki Nirmal “Nimsdai” Purja tersiar ke seluruh dunia, ingatan itu kembali muncul.
Purja ternyata juga pernah menjadi bagian dari Brigade of Gurkhas, pasukan elite yang jejak sejarahnya bahkan pernah bersinggungan dengan Indonesia.
Nama Nirmal “Nimsdai” Purja selama ini identik dengan rekor pendakian 14 gunung tertinggi dunia dalam waktu kurang dari tujuh bulan.
Namun jauh sebelum menjadi legenda pendakian, pria kelahiran Nepal itu lebih dulu mengenyam kehidupan sebagai prajurit Gurkha, pasukan elite yang selama lebih dari 200 tahun dikenal sebagai salah satu kekuatan tempur paling disegani di dunia.
Berawal dari Perang Anglo-Nepal
Sejarah Gurkha bermula dari Perang Anglo-Nepal pada 1814–1816. Berdasarkan arsip National Army Museum di London, lahirnya Brigade Gurkha bukan karena Nepal dijajah Inggris. Justru sebaliknya, Inggris memutuskan merekrut prajurit Nepal setelah menyadari bahwa mereka adalah lawan yang sangat tangguh di medan perang.

Pada akhir abad ke-18, Kerajaan Gorkha di bawah Raja Prithvi Narayan Shah berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di kawasan Himalaya dan membentuk Nepal modern. Ekspansi wilayah Gorkha kemudian membawa mereka berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaan British East India Company, yang akhirnya memicu perang.
Dalam konflik tersebut, Inggris mengerahkan sekitar 30.000 tentara untuk menghadapi sekitar 12.000 prajurit Gorkha. Meski kalah dalam jumlah maupun persenjataan, pasukan Gorkha mampu memberikan perlawanan sengit di pegunungan Himalaya.
Salah satu pertempuran paling terkenal adalah Pertempuran Nalapani pada 1814. Sekitar 600 prajurit Gorkha di bawah komando Kapten Balbhadra Kunwar mampu bertahan lebih dari satu bulan menghadapi ribuan tentara Inggris yang didukung artileri modern.
Setelah perang berakhir melalui Perjanjian Sugauli pada 1816, Nepal memang kehilangan sebagian wilayahnya. Namun, Inggris mengambil langkah yang tidak biasa. Alih-alih membubarkan lawan yang telah dikalahkan, mereka justru menawarkan kesempatan kepada para prajurit Gorkha untuk bergabung sebagai tentara dalam pasukan British East India Company.
Banyak mantan prajurit Gorkha menerima tawaran tersebut karena memperoleh penghasilan tetap, kesempatan berkarier sebagai tentara profesional, serta sesuai dengan tradisi militer yang telah mengakar di masyarakat pegunungan Nepal.
Bahkan sejak 1815, sebelum perang benar-benar berakhir, Inggris mulai membentuk satuan pertama yang beranggotakan mantan prajurit Gorkha. Satuan ini kemudian berkembang menjadi sejumlah Resimen Gurkha (Gurkha Rifles) yang menjadi bagian penting dari Tentara India Britania.
Sejak saat itu, Gurkha terlibat dalam hampir seluruh konflik besar yang dihadapi Inggris, mulai dari Perang Sikh, Perang Dunia I, Perang Dunia II, hingga berbagai operasi militer modern di Irak dan Afghanistan.
Nama “Gurkha” sendiri berasal dari Gorkha, kerajaan kecil di Nepal yang menjadi cikal bakal penyatuan Nepal modern.
Pernah Bertempur di Indonesia
Setelah India merdeka pada 1947, empat resimen Gurkha dipindahkan ke Angkatan Darat Britania, sementara enam resimen lainnya menjadi bagian dari Angkatan Darat India.
Pada masa berakhirnya Perang Dunia II, Pasukan Ghurka datang bersama Sekutu (AFNEI) tahun 1945-1946 untuk melucuti tentara Jepang dan membebaskan tawanan perang. Mereka juga terlibat dalam bentrokan sengit melawan pejuang Indonesia di Bandung dan Surabaya.

Brigade Gurkha kemudian ditempatkan di Malaya selama Darurat Malaya (1948-1960) sebelum diterjunkan dalam Konfrontasi Indonesia–Malaysia (1963-1966).
Dalam buku Gurkha Odyssey: Campaigning for the Crown karya Lieutenant General Sir Peter Duffell, dijelaskan bahwa Konfrontasi Indonesia-Malaysia menjadi salah satu operasi militer paling berat yang pernah dihadapi Gurkha.
Hutan-hutan lebat Kalimantan menjadi arena pertempuran antara pasukan Indonesia melawan pasukan Inggris dan Persemakmuran yang diperkuat Brigade Gurkha.
Di medan yang sama, pasukan Gurkha berhadapan dengan prajurit-prajurit terbaik Indonesia dalam operasi gerilya yang hingga kini masih menjadi bagian penting sejarah militer kedua negara.
Saat itu, Presiden Soekarno menolak pembentukan Federasi Malaysia dan mengumumkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora).
Garis perbatasan Kalimantan dengan Sarawak dan Sabah berubah menjadi wilayah operasi gerilya yang melibatkan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) kini Kopassus, serta Korps Komando Operasi (KKO) kini Korps Marinir TNI AL melawan pasukan Inggris dan Brigade Gurkha.
Selain bertugas dalam Konfrontasi, Brigade Gurkha juga pernah diterjunkan ke Kosovo, Bosnia, Timor Timur, Sierra Leone, Irak, dan Afghanistan. Di Afghanistan, mereka membantu operasi pengamanan setelah tumbangnya rezim Taliban pada 2001.
Simbol Keberanian
Selama bertahun-tahun, hanya veteran Gurkha pensiun setelah 1997 yang diizinkan menetap di Britania Raya.
Namun setelah perjuangan panjang yang didukung aktris Inggris Joanna Lumley melalui kampanye Gurkha Justice Campaign, sekitar 36.000 veteran Gurkha yang pensiun sebelum 1997 akhirnya memperoleh hak menetap di Britania Raya bersama keluarga mereka pada 2009.
Keberanian yang selama dua abad melekat pada nama Gurkha itulah yang kemudian diwarisi Nirmal “Nimsdai” Purja.
Dari medan perang hingga lereng Himalaya, semangat pantang menyerah yang menjadi identitas Gurkha terus hidup dalam perjalanan hidupnya.









