CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Warta

Membedah Narasi Penak Zamanku To…

Penulis: Wicaksana 26 Jan 2026 3 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Ilustrasi narasi dengan gambar Presiden kedua Indonesia, Suharto.(Foto: gonews.co)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Beberapa waktu lalu muncul narasi dengan gambar Presiden kedua Indonesia, Suharto dengan bunyi ”Penak Zamanku to…”. Banyak pendapat tentang narasi yang kemudian viral tersebut.

Ada yang memaknai sebagai humor, meme, lucu-lucuan. Tetapi ada pula yang menganggap serius karena nostalgia pada era Orde Baru yang serba murah. Tak ketinggalan ada yang menilai sebagai salah satu upaya kembalinya Orde Baru dalam bentuk yang sederhana.

Politisi Priyo Budi Santoso tak lama setelah narasi tersebut muncul mengungkapkan kemungkinan munculnya kerinduan pada sosok Suharto. Ia yang menyampaikan kondisi itu dalam Kabar 24 mengatakan sebuah lembaga survei menyebutkan adanya kerinduan nostalgia masa Orde Baru.

Baca Juga
5 artikel
  1. Warta Pernikahan Gusti Sura dan Adimas Rosdian November 2026, Padukan Adat Mangkunegaran dan Tradisi Katolik? →
  2. Warta Cuaca Ekstrem Mengintai Jabodetabek 10-11 Oktober, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak →
  3. Warta Tiga Kakak Beradik Meninggal Ditabrak Truk Saat Pastikan Sekolah Libur akibat Kabut Asap Karhutla →
  4. Warta Yusril: Silahkan Polisi hingga KPK Usut Klaster Mewah Lapas Cibinong →
  5. Warta Rocky Gerung Singgung Posisi Wantimpres Saat Komentari Polemik Ijazah Gibran →

Ia yang semula dari Partai Golkar kemudian pindah ke Partai Berkarya bahkan berusaha mengembalikan memori publik dengan nama Suharto. Partai yang merupakan besutan keluarga Cendana tersebut berusaha mengikuti kontestasi dengan ”menjual” nama Suharto namun belum beruntung.

Memori publik boleh muncul kembali, merindukan sosok yang pernah 32 tahun berkuasa di Indonesia. Kendati demikian, partai yang berusaha menjunjung namanya ternyata tidak memperoleh tempat di hati masyarakat. Terbukti, tidak lolos ke parlemen.

Kebebasan yang Dulu Tak Ada

Berbeda dengan aktivis 1998, Savic Ali yang menanggapi dengan mengatakan kebebasan yang di era Orde Baru tak pernah dirasakan, usai reformasi berubah total. Dalam wawancara dengan bbc.com, ia mengungkapkan era Suharto berkuasa merupakan era totaliter.

Ketika seseorang mengkritik kekuasaan, sudah pasti bakal menanggung risiko yang tidak ringan. Mulai dari dicap sebagai PKI, komunis, dan predikat negatif lainnya, hingga perlakuan diskriminasi. Aparat dari tingkat bawah akan mencatat dan kasak-kusuk ke berbagai lembaga bahkan sekolah supaya mereka yang mengkritisi penguasa tak bisa leluasa hidupnya.

Savic memberi contoh peristiwa 1965. Ribuan orang menjadi korban tanpa proses pengadilan yang sah. Konon, banyak yang ”dihabisi” dan dibuang. Mereka tak pernah kembali dan keluarga juga tak bisa menanti. Anggap saja hilang ditelan bumi.

Para seniman juga merasakan hal yang sama, masuk bui tanpa proses hukum. Selama di dalam tahanan pun mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Budayawan Ptamudya Anantar Toer pernah menggambarkan dalam bukunya, bagaimana tahanan politik menjadi bulan-bulanan aparat.

Nyawa Seolah Tiada Harganya

Tanggapan satire dilontarkan penulis Purnomo Trilaksono di mojok.co. Dalam tulisannya ia menyinggung, era Orde Baru segala sesuatu memang murah harganya, termasuk nyawa manusia. Namun demikian, ternyata nyawa murah tidak hanya pada era Suharto berkuasa.

Setelah reformasi pun harga sebuah nyawa juga murah. Banyak kasus yang mengakibatkan nyawa melayang tetapi tidak jelas penyelesaiannya. Tidak hanya melibatkan aparat (sama seperti Orde Baru) tapi juga melibatkan masyarakat awam. Begitu mudahnya menghilangkan nyawa seseorang.

Bukan hanya pada kasus yang sepele tetapi juga kasus yang melibatkan pihak-pihak yang tak mau diungkap seperti yang menimpa aktivis Munir. Juga aktivis lainnya yang prosesnya terkatung-katung dan tak jelas penyelesaiannya.

Pengamat politik dalam wawancara dengan goriau.com, Iskandarsyah menilai narasi ”penak zamanku to…” merupakan salah bentuk upaya mengembalikan Orde Baru. Ia berpendapat, hal itu bukan sekadar guyonan tetapi memang ada skenario.

Benarkah narasi itu terwujud sekarang? Benarkah kekhawatiran sejumlah pihak bahwa era tersebut telah kembali dengan bentuk-bentuk kecil seperti antikritik, intimadasi, penangkapan pada aktivis dan berpolitiknya lembaga negara yang harusnya netral? ”Penak zamanku to…” sudah hadir kembali?

Tags:
#Demokrasi #Kebebasan #Orde baru #otoriter #preisden suharto #Reformasi
Sketched-style portrait of a man with glasses, smiling, outdoors with palm trees in the background.
PenulisWicaksana
Jurnalis senior, tinggal di Yogyakarta.
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Warta

Prabowo Lantik Pratikno sebagai Kepala Wantimpres, Rocky Gerung Jadi Anggota

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
Warta

Jokowi Hormati Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran

Siswantini Suryandari • 8 Okt 2026
Warta

Tiga Kakak Beradik Meninggal Ditabrak Truk Saat Pastikan Sekolah Libur akibat Kabut Asap Karhutla

Wiwit • 10 Okt 2026
Warta

Denny Indrayana: KPU Korbankan Independensi demi Loloskan Gibran

Siswantini Suryandari • 6 Okt 2026
Warta

Bupati Gowa Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan Izin dan TPPU

Siswantini Suryandari • 30 Sep 2026
Warta

Cuaca Ekstrem Mengintai Jabodetabek 10-11 Oktober, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak

Wiwit • 10 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Two men balance on a pile of branches in a smoke filled forest one wearing a uniform and face mask the other in a brown shirt nearby
Warta

Palangka Raya Perpanjang Status Darurat, Warga Luapkan Keluh Kesah Hadapi Kabut Asap Karhutla

Wiwit • 10 Okt 2026
Two story brick house with white and blue accents turquoise balcony railing and arched windows
Warta

BGN Tegaskan Bangunan Tempat Penemuan Mayat Terborgol di Kendal Bukan Dapur MBG

Wiwit • 10 Okt 2026
Kebakaran hutan dan lahan
Warta

Bendung Api Karhutla, BNPB Uji Material Realiza Anti Chamas 

Mutia • 10 Okt 2026
Ilustrasi orangutan
Warta

Orangutan Korban Karhutla di Kalbar Dipulangkan ke Habitat Alami di Batu Nyambu

Mutia • 10 Okt 2026
Gunungkidul night carnival 2026
Catra Wisata

Gunungkidul Night Carnival di Wonosari Hari Ini 10 Oktober 2026, Catat Rutenya 

Mutia • 10 Okt 2026
Untuk mencegah bertambahnya angka perceraian kantor urusan agama kua kecamatan kaliori bekerja sama dengan takmir masjid menghadirkan inovasi kurma
Warta

KUA Kaliori Buka Konsultasi Keluarga di Masjid, Tekan Angka Perceraian

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
Selama 15 tahun pilot berkostum bangau menggunakan pesawat ultraringan untuk mengajari anak anak bangau amerika whooping crane bermigrasi dari wisconsin menuju florida amerika serikat
Catra Cendekia

Pulihkan Populasi, Pilot Berkostum Bangau Ajari Burung Langka Bermigrasi ke Florida

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
Sebanyak 2 762 perusahaan atau 504 persen dari total 5 476 perusahaan yang mengikuti program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup proper 20242025 masih memperoleh peringkat merah
Catra Cendekia

50,4 Persen Perusahaan Peserta PROPER 2025 masih Berperingkat Merah

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: BMKG & TNI AU Gelar Operasi Modifikasi Cuaca
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network