CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Pena Catra

Titir Kentongan “Kearifan Lokal Saat Bencana”

Penulis: Yuliantoro 7 Feb 2026 3 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Ilustrasi Kentongan di Cakruk Gardu Masyarakat
Bagikan:
0

catrawarta.com - Indonesia adalah negeri gempa. Secara geologis wilayah Nusantara berada di atas pertemuan tiga lempeng besar dunia—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik—yang menjadikannya kawasan rawan bencana seismik. Namun di tengah kerentanan alam tersebut masyarakat Indonesia sejatinya memiliki modal kultural yang telah lama berfungsi sebagai sistem kewaspadaan dan respons darurat. Kentongan, salah satu manifestasi paling nyata dari kearifan lokal itu.

Kentongan bukan sekadar alat komunikasi tradisional, melainkan sistem sosial berbasis bunyi yang mengandung kode, ritme, dan kesepakatan kolektif. Dalam masyarakat Jawa, misalnya, dikenal pola-pola tertentu. Pukulan teratur untuk penanda ronda, bunyi panjang untuk bahaya kebakaran, hingga titiran pukul bertalu-talu yang menandakan kejadian luar biasa, kegagatan, atau kondisi darurat yang membutuhkan respons segera dari warga. Dalam konteks gempa bumi, pola bunyi tersebut berfungsi sebagai alarm sosial yang memecah kepanikan sekaligus memobilisasi tindakan kolektif.

Di sinilah letak kekuatan kentongan. Ia bekerja bukan karena kecanggihan teknologi, melainkan karena adanya pemahaman bersama. Setiap warga tahu arti bunyinya, mempercayai pesannya, dan merasa terpanggil untuk merespons. Kentongan menghubungkan ruang privat dan ruang publik dalam hitungan detik—menggerakkan orang keluar rumah, membangun kewaspadaan, dan menyalakan solidaritas sosial.

Baca Juga
5 artikel
  1. Pena Catra Teladan Kejujuran →
  2. Pena Catra Keluar dari ”Sarang Penyamun” →
  3. Pena Catra Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan →
  4. Pena Catra Korupsi Bukan Dominasi Elite →
  5. Pena Catra Etika Petinggi Negeri →

Namun problem mendasarnya hari ini bukan pada relevansi kentongan, melainkan pada pudarnya pengetahuan kolektif tentang fungsinya. Urbanisasi, perubahan pola hidup, dan dominasi sistem komunikasi digital membuat generasi muda semakin asing terhadap kode-kode bunyi tradisional. Banyak kentongan masih tergantung di pos ronda, tetapi kehilangan makna operasionalnya. Tanpa sosialisasi yang memadai, kentongan berisiko menjadi artefak simbolik semata, bukan instrumen mitigasi.

Urgensi saat ini adalah melakukan sosialisasi ulang secara sistematis mengenai kentongan dan fungsinya, termasuk pengenalan kembali kode-kode bunyi yang telah hidup lama dalam tradisi lokal. Sosialisasi ini tidak bisa bersifat seremonial, melainkan harus menjadi bagian dari pendidikan kebencanaan berbasis komunitas. Sekolah, karang taruna, RT-RW, hingga lembaga kebudayaan perlu dilibatkan untuk memastikan bahwa makna bunyi—termasuk titiran sebagai penanda kegawatan—dipahami lintas generasi.

Pendekatan kebencanaan yang mengabaikan dimensi kultural berpotensi melemahkan ketahanan sosial masyarakat. Berbagai kajian menunjukkan bahwa resiliensi komunitas tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur fisik dan sistem peringatan dini berbasis teknologi, tetapi juga oleh modal sosial, kepercayaan, dan mekanisme komunikasi lokal yang efektif.

Kentongan, dalam konteks ini, bukan tandingan teknologi modern, melainkan pelengkap yang strategis—terutama di wilayah dengan keterbatasan listrik, sinyal, atau akses informasi cepat. Lebih jauh, kentongan merepresentasikan etika kebersamaan dalam menghadapi bencana. Bunyi kentongan tidak hanya memanggil orang untuk menyelamatkan diri, tetapi juga menegaskan tanggung jawab kolektif: menolong yang rentan, menjaga ketertiban, dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal. Ia adalah pengingat bahwa keselamatan adalah urusan bersama.

Gempa akan terus terjadi—itu adalah keniscayaan geologis. Namun cara meresponsnya adalah pilihan kultural dan kebijakan. Di tengah sirene modern dan notifikasi digital, kentongan mengajarkan bahwa mitigasi bencana tidak hanya soal kecepatan informasi, tetapi juga kedalaman relasi sosial. Revitalisasi dan sosialisasi kentongan bukan romantisme masa lalu, melainkan investasi kebudayaan untuk keselamatan masa depan.

Tags:
#bencana #BMKG #gempa bumi #kearifan lokal #kentongan
PenulisYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Pena Catra

Teladan Kejujuran

Wicaksana • 7 Okt 2026
Pena Catra

Keluar dari ”Sarang Penyamun”

Wicaksana • 4 Okt 2026
Pena Catra

Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan

Wahjudi Djaja • 24 Sep 2026
Pena Catra

Korupsi Bukan Dominasi Elite

Wicaksana • 21 Sep 2026
Pena Catra

Etika Petinggi Negeri

Wicaksana • 15 Sep 2026
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
A magnifying glass over a cafeteria tray highlighting a pile of rice on the top compartment with bread and a mug in the background
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026
Firefighter climbs a towering wall of stacked papers as flames rage in the background with people observing from the top
Pena Catra

Kegagapan Menghadapi dan Mengatasi Bencana

Wicaksana • 31 Agu 2026
Wide city avenue leads to a neoclassical government building as journalists with cameras and microphones line the street awaiting a press statement under a red flag
Pena Catra

Akhir Cerita ‘Demonstrasi’

Wicaksana • 28 Agu 2026
Children in white shirts carry buckets and try to douse flames as a wildfire ravages a forest behind them
Pena Catra

Pemadaman Kebakaran Hutan, Jangan Libatkan Anak-Anak!

Wicaksana • 24 Agu 2026
Protesters stand on the roof of a neoclassical government building raising fists beside the indonesian garuda emblem amid cracks and torn banners
Pena Catra

Mengapa Mereka Marah?

Wicaksana • 17 Agu 2026
Rocket bound by chains within a red no entry circle over a city skyline conveying a prohibition or ban on missiles
Pena Catra

Nuklir untuk Perdamaian

Wicaksana • 9 Agu 2026
Indonesian official in a beige uniform and black peci sits at a desk with a microphone tablet papers and a small indonesian flag
Pena Catra

Komunikasi Nirempati

Wicaksana • 3 Agu 2026
Stylized portrait of a high ranking officer in a dark green ceremonial uniform with gold epaulettes medals and a sword seated in a carved chair
Pena Catra

Wirya, Arta dan Winasis

Wahjudi Djaja • 22 Jul 2026
0
Follow us on
Up Next: Soesilo Toer, Menulis Tiada Henti
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network