catrawarta.com - Rakyat Indonesa baru saja mendapat suguhan proses hukum yang selama ini menjadi pertanyaan: keberadaan ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sejak pemilihan presiden 2024 lalu, isu ijazah – seperti pula ijazah bapaknya, Joko Widodo – sudah dipersoalkan banyak pihak.
Tak mudah untuk membuktikan ijazah pendidikan keduanya, apalagi menyangkut penguasa negeri ini. Bahkan untuk ijazah mantan Presiden Joko Widodo sampai sekarang masih berproses.
Pada kasus ijazah Wapres Gibran Rakabuming Raka, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia telah membacakan hasil putusan atas gugatan pemohon sejumlah pihak.
Gugatan yang pada intinya mempersoalkan keabsahan ijazah Gibran pada jenjang SMA atau sederajat sudah diputuskan. Mahkamah Konstitusi tidak dapat menerima gugatan pemohon Denny Indrayana dan kawan-kawan.
Kendati tidak dapat menerima gugatan atau dalam bahasa yang lebih awam – menolak gugatan – tetapi MK telah mengungkap dan membeberkan fakta.
Pada persidangan, MK secara tegas menyatakan tidak ada bukti meyakinkan mengenai ijazah SMA atau yang setara dari Wapres Gibran.
Dengan gamblang MK beberapa kali menyebut meragukan keberadaan ijazah SMA atau yang setara orang terkuat kedua di Indonesia tersebut. Padahal salah satu persyaratan untuk mencalonkan diri sebagai presiden atau wakil presiden minimal lulusan SMA.
MK Tak Bisa Mendiskualifikasi Wapres
Fakta mengenai ijazah Gibran sudah terungkap dalam sidang. Akan tetapi, Mahkamah menyatakan tidak bisa melakukan diskualifikasi atas status wakil presiden.
Namun demikian, masyarakat mendapat pembelajaran luar biasa dari proses sidang MK. Ya, jalannya sidang membuka pintu hati dan pikiran masyarakat Indonesia tentang kejujuran.
Seorang pemimpin – atau juga elite lainnya – sejatinya sejak awal perlu bersikap jujur. Mereka tidak hanya akan menduduki kekuasaan tetapi sekaligus menjalankan amanah.
Terungkapnya fakta ternyata berdampak hingga ke bawah. Baru sehari sidang ditutup, anak-anak muda yang masih berusia SMP dan SMA pun bergunjing. Mereka yang konon apolitis ternyata memiliki kepedulian.
”Waahhh…ternyata kita punya wakil presiden tak tamat SMA ya…,” ungkap sejumlah pelajar yang bergerombol, berbicara apa saja dan salah satunya menyangkut hasil sidang MK.
Kecewanya Gen Z
Jelas terdengar nada kecewa. Hanya sebatas itu yang mereka ungkapkan. Kalau pun ada celotehan lebih ke candaan satire.
”Makanya…jangan rajin-rajin belajar…hanya lulus SMP saja bisa jadi wapres,” serobot siswa lain disambut tawa teman-temannya.
Generasi mereka yang selama ini dianggap apolitis dan cenderung apatis ternyata juga menyimak isu-isu hangat negeri ini, termasuk soal pendidikan para elite.
Sebagian terlihat bercanda, namun sebagian lainnya tampak kecewa. Mereka menyinggung kejujuran yang harusnya menjadi teladan bagi anak-anak yang sedang tumbuh mengejar mimpi.
Kalau saja Gibran jujur sejak awal, barangkali akan lain ceritanya. Sebagai sosok anak muda, ia tentu lebih mendapat tempat dibandingkan para sesepuh yang bagi gen Z tak lagi nyambung dengan pola pikir mereka.
Sebenarnya, mereka tidak menuntut yang neko-neko. Cukup keteladanan dan kejujuran! Sayangnya, kali ini harapan mereka musnah dengan fakta yang terungkap pada persidangan MK.









