CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Pena Catra

Wirya, Arta dan Winasis

Penulis: Wahjudi Djaja 22 Jul 2026 3 menit baca
Stylized portrait of a high ranking officer in a dark green ceremonial uniform with gold epaulettes medals and a sword seated in a carved chair
Ilustrasi : Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. (Sumber: catrawarta)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Saat menghadiri perayaan HUT ke-195 Kabupaten Bantul, (20/7/2026) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengutip pesan kesejarahan Sri Mangkunegara IV (1811-1881). Ada tiga hal yang dijadikan pesan, yakni wirya, arta, dan winasis.

Dalam serat Wedhatama, raja pujangga Pura Mangkunegaran itu menulis bait dalam irama Sinom yang luar biasa mendalam isinya:

Bonggan kan tan merlokna
Mungguh ugering ngaurip
Uripe lan triprakara
Wirya arta tri winasis
Kalamun kongsi sepi
Saka wilangan tetelu
Telas tilasing janma
Aji godhong jati aking
Temah papa papariman ngulandara

Baca Juga
5 artikel
  1. Pena Catra Teladan Kejujuran →
  2. Pena Catra Keluar dari ”Sarang Penyamun” →
  3. Pena Catra Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan →
  4. Pena Catra Korupsi Bukan Dominasi Elite →
  5. Pena Catra Etika Petinggi Negeri →

Maknanya, salah sendiri tidak peduli, terhadap landasan hidup, hidup itu berlandaskan tiga hal, kemuliaan, kesejahteraan dan pengetahuan, jika tidak memiliki, satu dari ketiganya, hilanglah arti sebagai manusia, masih lebih berharga daun jati kering, akhirnya menderita jadi pengemis tanpa tujuan.

Dalam banyak pesan, Sri Mangkunegara IV memberikan pedoman, teladan, pengalaman dan pengetahuan yang bisa dibaca dan digunakan masyarakat untuk menapaki kehidupan. Tiga hal yang ditulis dalam serat Wedhatama di atas, bisa dijadikan landasan hidup manusia (Jawa). Bukan saja saat itu, tetapi juga sekarang dan sepanjang lintasan zaman.

Lebih dari kekuasaan, keberanian, kedudukan atau kekuasaan, wirya menyertakan keluhuran dan kemuliaan. Orang yang sampai derajat kawiryan, tidak saja dihormati dan disegani tetapi juga mampu dijadikan teladan dan ditempatkan dalam perspektif hubungan Gusti dan kawula. Kehormatan itu lahir karena kebijakan dan kebajikan, bukan buatan, dan lahir dari laku hidup penuh penghambaan.

Arta bukan hanya menyangkut uang dan kekayaan, tetapi lebih ke kesejahteraan dan kemakmuran. Tak hanya material tetapi juga spiritual, menyangkut rasa dan nurani. Materi seperti uang dan kekayaan bisa dengan mudah dicari dan didapatkan, tetapi belum tentu itu akan menenteramkan hati dan mendamaikan hidup.

Sedangkan winasis adalah orang yang menempatkan ilmu, kecerdasan dan pengetahuan sebagai tolok ukur keadaban. Para winasis adalah orang pilihan, digembleng di berbagai kawah candradimuka untuk menemukan ilmu. Merekalah pembawa lentera, obor penerang bagi masyarakat yang tengah memasuki masa gulita dan derita. Ilmu juga yang bisa digunakan untuk mencari wirya dan arta.

Cukup menarik kenapa Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan pesan kesejarahan Sri Mangkunegoro IV. Kasus mutakhir yang melibatkan elite negara bisa diambil contoh. Memegang kekuasaan, menumpuk uang dan perhiasan, lalu melenggang begitu saja seolah tanpa merasa bersalah di tengah kondisi masyarakat yang terhimpit kesulitan hidup. Kekuasaan telah membutakan hati nurani, ilmu telah disalah gunakan, dan akhirnya kerusakan alam tak bisa dihindarkan.

Lalu, bagaimana kita harus menjalani hidup yang penuh masalah, gonjang-ganjing, dan penuh dengan ketidakpastian ini? Pangeran Sambernyawa (Sri Mangkunegara I) meninggalkan ajaran Tripama.

Pertama, mulat sarira hangrasa wani, yakni berani mengakui kekurangan dan kesalahan diri (introspeksi) lalu menegakkan komitmen moral untuk menuju kebaikan.

Kedua, rumangsa melu handarbeni, yakni merasa memiliki atas lingkungan dan alam dengan menjaga dan mencintainya sebagai anugerah bersama.

Ketiga, wajib melu hangrungkebi, yakni bertanggung jawab untuk membela tanah air dengan penuh integritas.

Leluhur kita, para filsuf tanah Jawa, telah begitu banyak mewariskan ajaran dan keteladanan. Dari lahir sampai mati telah disiapkan ilmunya. Tinggal bagaimana kita mematuhi dan mengamalkannya dalam setiap detak kehidupan. Jika itu semua kita abaikan, leluhur pun telah memberikan gambaran tentang akhir zaman. Jadi?

Ksatrian Sendaren, 21 Juli 2026.

Tags:
#Kedudukan #kekuasaan #Raden Mas Sudira. #Sri Mangkunegara IV #Sri Sultan Hamengku Buwono X #Winasis #Wirya
Male singer on stage, wearing a white robe and head wrap, holding a microphone and raising one arm.
PenulisWahjudi Djaja
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Pena Catra

Teladan Kejujuran

Wicaksana • 7 Okt 2026
Pena Catra

Keluar dari ”Sarang Penyamun”

Wicaksana • 4 Okt 2026
Pena Catra

Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan

Wahjudi Djaja • 24 Sep 2026
Pena Catra

Korupsi Bukan Dominasi Elite

Wicaksana • 21 Sep 2026
Pena Catra

Etika Petinggi Negeri

Wicaksana • 15 Sep 2026
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
A magnifying glass over a cafeteria tray highlighting a pile of rice on the top compartment with bread and a mug in the background
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026
Firefighter climbs a towering wall of stacked papers as flames rage in the background with people observing from the top
Pena Catra

Kegagapan Menghadapi dan Mengatasi Bencana

Wicaksana • 31 Agu 2026
Wide city avenue leads to a neoclassical government building as journalists with cameras and microphones line the street awaiting a press statement under a red flag
Pena Catra

Akhir Cerita ‘Demonstrasi’

Wicaksana • 28 Agu 2026
Children in white shirts carry buckets and try to douse flames as a wildfire ravages a forest behind them
Pena Catra

Pemadaman Kebakaran Hutan, Jangan Libatkan Anak-Anak!

Wicaksana • 24 Agu 2026
Protesters stand on the roof of a neoclassical government building raising fists beside the indonesian garuda emblem amid cracks and torn banners
Pena Catra

Mengapa Mereka Marah?

Wicaksana • 17 Agu 2026
Rocket bound by chains within a red no entry circle over a city skyline conveying a prohibition or ban on missiles
Pena Catra

Nuklir untuk Perdamaian

Wicaksana • 9 Agu 2026
Indonesian official in a beige uniform and black peci sits at a desk with a microphone tablet papers and a small indonesian flag
Pena Catra

Komunikasi Nirempati

Wicaksana • 3 Agu 2026
Pena Catra

Mudahnya Menjadi Pejabat

Wahjudi Djaja • 15 Jul 2026
0
Follow us on
Up Next: Large red banner in indonesian says rumah ini bukan milik little aresha with policesecurity officers in neon vests and onlookers nearby Belasan Korban Baru Daycare Little Aresha Teridentifikasi, Agenda Sidang Dikejar
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network