CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Warta

Teror terhadap Pelapor Dugaan Pemerasan Oknum Intel Polres Bantul: “Bayang-Bayang Kekuasaan di Balik Proses Hukum”

Penulis: dhiya 23 Feb 2026 3 menit baca
Ilustrasi teror
Ilustrasi teror.
Bagikan:
0

catrawarta.com - Seorang pengusaha pengembang properti di Bantul yang melaporkan dugaan pemerasan oleh oknum anggota Intel Polres Bantul justru kembali mengaku diteror oleh pihak yang mengatasnamakan polisi, di tengah proses pemeriksaan internal Polda DIY pada Februari 2026. Oknum berinisial S telah dinonaktifkan dan ditempatkan dalam penempatan khusus (patsus) oleh Propam setelah laporan resmi diajukan. Namun intimidasi lanjutan terhadap pelapor menghadirkan ironi yang sulit diabaikan: ketika warga memilih jalur hukum, tekanan justru datang dari lingkar kekuasaan yang sedang diperiksa.

Kasus ini bermula dari dugaan permintaan sejumlah uang secara berkala kepada korban dengan dalih tertentu. Laporan telah diproses dan langkah administratif telah diambil. Secara prosedural, sistem tampak berjalan. Akan tetapi, munculnya ancaman setelah laporan mencuat menunjukkan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar pelanggaran individual.

Di titik ini, peristiwa tersebut bergeser dari kasus dugaan pemerasan menjadi ujian akuntabilitas institusi. Penonaktifan oknum memang penting, tetapi tidak otomatis menghapus relasi kuasa yang timpang antara warga dan aparat. Dalam struktur yang hierarkis dan bersenjata kewenangan, posisi pelapor tetap berada pada titik paling rentan.

Baca Juga
5 artikel
  1. Warta Pernikahan Gusti Sura dan Adimas Rosdian November 2026, Padukan Adat Mangkunegaran dan Tradisi Katolik? →
  2. Warta Cuaca Ekstrem Mengintai Jabodetabek 10-11 Oktober, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak →
  3. Warta Tiga Kakak Beradik Meninggal Ditabrak Truk Saat Pastikan Sekolah Libur akibat Kabut Asap Karhutla →
  4. Warta Yusril: Silahkan Polisi hingga KPK Usut Klaster Mewah Lapas Cibinong →
  5. Warta Rocky Gerung Singgung Posisi Wantimpres Saat Komentari Polemik Ijazah Gibran →

Fenomena intimidasi terhadap pelapor bukan sekadar anomali. Dalam sejumlah kasus penyalahgunaan wewenang di berbagai daerah, tekanan terhadap korban atau saksi kerap muncul setelah proses hukum dimulai. Pola ini membentuk persepsi publik bahwa ada jarak antara komitmen reformasi internal dan realitas di lapangan.

Secara psiko-sosial, intimidasi lanjutan menciptakan efek gentar kolektif. Publik melihat bahwa keberanian melapor bisa dibalas dengan ancaman. Ketika rasa takut lebih dominan daripada rasa aman, maka partisipasi warga dalam pengawasan sosial melemah. Orang memilih diam karena risiko dianggap terlalu besar.

Lebih jauh, persoalan ini menyentuh inti demokrasi prosedural. Penegakan hukum tidak cukup dinilai dari ada atau tidaknya proses pemeriksaan. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah sistem mampu melindungi mereka yang bersuara. Tanpa perlindungan itu, hukum kehilangan legitimasi moralnya.

Kasus di Bantul menjadi cermin tentang bagaimana kekuasaan bekerja dalam bayang-bayang. Jika intimidasi terhadap pelapor benar terjadi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya satu perkara disiplin internal, melainkan kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum. Kepercayaan adalah fondasi yang tidak bisa dibangun hanya dengan konferensi pers atau sanksi administratif.

Akuntabilitas sejati menuntut lebih dari sekadar patsus. Ia menuntut jaminan bahwa tidak ada tekanan, tidak ada kriminalisasi balik, dan tidak ada ruang abu-abu bagi penyalahgunaan kewenangan. Tanpa itu, setiap kasus akan selalu dibayangi pertanyaan: apakah hukum berdiri netral, atau tunduk pada relasi kuasa?

Tim redaksi kami memandang peristiwa ini sebagai alarm keras bagi sistem pengawasan internal kepolisian. Reformasi tidak diuji pada saat situasi tenang, melainkan ketika institusi menghadapi tudingan dari dalam tubuhnya sendiri. Perlindungan terhadap pelapor harus menjadi prioritas, bukan catatan kaki.

Jika keberanian warga melapor dibalas dengan teror, maka pesan yang sampai ke publik sangat jelas: kekuasaan masih terasa lebih kuat daripada keadilan. Persepsi semacam ini, bila dibiarkan, dapat mengikis legitimasi hukum sedikit demi sedikit—hingga yang tersisa hanyalah prosedur tanpa kepercayaan

Tags:
#pemerasan #Polisi #Teror
Penulisdhiya
Jurnalis lulusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga 2025.
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Warta

Prabowo Lantik Pratikno sebagai Kepala Wantimpres, Rocky Gerung Jadi Anggota

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
Warta

Jokowi Hormati Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran

Siswantini Suryandari • 8 Okt 2026
Warta

Tiga Kakak Beradik Meninggal Ditabrak Truk Saat Pastikan Sekolah Libur akibat Kabut Asap Karhutla

Wiwit • 10 Okt 2026
Warta

Denny Indrayana: KPU Korbankan Independensi demi Loloskan Gibran

Siswantini Suryandari • 6 Okt 2026
Warta

Bupati Gowa Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan Izin dan TPPU

Siswantini Suryandari • 30 Sep 2026
Warta

Cuaca Ekstrem Mengintai Jabodetabek 10-11 Oktober, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak

Wiwit • 10 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Two men balance on a pile of branches in a smoke filled forest one wearing a uniform and face mask the other in a brown shirt nearby
Warta

Palangka Raya Perpanjang Status Darurat, Warga Luapkan Keluh Kesah Hadapi Kabut Asap Karhutla

Wiwit • 10 Okt 2026
Two story brick house with white and blue accents turquoise balcony railing and arched windows
Warta

BGN Tegaskan Bangunan Tempat Penemuan Mayat Terborgol di Kendal Bukan Dapur MBG

Wiwit • 10 Okt 2026
Kebakaran hutan dan lahan
Warta

Bendung Api Karhutla, BNPB Uji Material Realiza Anti Chamas 

Mutia • 10 Okt 2026
Ilustrasi orangutan
Warta

Orangutan Korban Karhutla di Kalbar Dipulangkan ke Habitat Alami di Batu Nyambu

Mutia • 10 Okt 2026
Gunungkidul night carnival 2026
Catra Wisata

Gunungkidul Night Carnival di Wonosari Hari Ini 10 Oktober 2026, Catat Rutenya 

Mutia • 10 Okt 2026
Untuk mencegah bertambahnya angka perceraian kantor urusan agama kua kecamatan kaliori bekerja sama dengan takmir masjid menghadirkan inovasi kurma
Warta

KUA Kaliori Buka Konsultasi Keluarga di Masjid, Tekan Angka Perceraian

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
Selama 15 tahun pilot berkostum bangau menggunakan pesawat ultraringan untuk mengajari anak anak bangau amerika whooping crane bermigrasi dari wisconsin menuju florida amerika serikat
Catra Cendekia

Pulihkan Populasi, Pilot Berkostum Bangau Ajari Burung Langka Bermigrasi ke Florida

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
Sebanyak 2 762 perusahaan atau 504 persen dari total 5 476 perusahaan yang mengikuti program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup proper 20242025 masih memperoleh peringkat merah
Catra Cendekia

50,4 Persen Perusahaan Peserta PROPER 2025 masih Berperingkat Merah

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: “Bertanya Kepada Muhammadiyah”
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network