CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

“Janur, Dapur, dan Lebaran”

Penulis: dhiya 20 Mar 2026 3 menit baca
Ilustrasi Janur Dapur dan Lebaran
Bagikan:
0

catrawarta.com - Fajar bahkan belum benar-benar merekah ketika jemari-jemari cekatan mulai menautkan helai-helai janur, merangkai bentuk yang kelak sarat makna. Di sebuah rumah sederhana di sudut Yogyakarta, dapur telah lebih dulu “terjaga”—menghidupkan suasana dengan semerbak santan hangat yang berpadu lembut dengan aroma serai dan daun salam. Di ruang itulah, Lebaran tidak sekadar datang sebagai perayaan, melainkan dihadirkan dengan rasa, dirawat dengan cinta, dan dihidupkan dalam setiap proses yang sederhana namun penuh makna.

Khodijah (54), ibu rumah tangga, duduk bersila di dekat tumpukan janur. Jemarinya lincah membentuk anyaman ketupat, sebuah keterampilan yang diwariskan turun-temurun. “Ini bukan sekadar masak. Ini soal menjaga warisan,” ujarnya pelan. 

Ketupat, opor ayam, dan rendang bukan hanya hidangan khas. Di baliknya, tersimpan cerita panjang tentang kesabaran, kebersamaan, dan makna berbagi. Bagi Khodijah, proses memasak justru lebih sakral dibandingkan saat menyantapnya. “Dari malam takbiran kami sudah mulai. Anak-anak membantu, meski kadang sambil bercanda. Tapi di situ hangatnya terasa,”  ujarnya. 

Baca Juga
5 artikel
  1. Warta Pernikahan Gusti Sura dan Adimas Rosdian November 2026, Padukan Adat Mangkunegaran dan Tradisi Katolik? →
  2. Warta Cuaca Ekstrem Mengintai Jabodetabek 10-11 Oktober, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak →
  3. Warta Tiga Kakak Beradik Meninggal Ditabrak Truk Saat Pastikan Sekolah Libur akibat Kabut Asap Karhutla →
  4. Warta Yusril: Silahkan Polisi hingga KPK Usut Klaster Mewah Lapas Cibinong →
  5. Warta Rocky Gerung Singgung Posisi Wantimpres Saat Komentari Polemik Ijazah Gibran →

Di sudut dapur lain, panci besar berisi opor ayam mendidih perlahan. Santan yang kental berpadu dengan bumbu kuning menciptakan aroma yang begitu khas. Sementara itu, rendang dimasak dengan penuh kesabaran, diaduk berulang selama berjam-jam hingga bumbu meresap sempurna.

Pengasuh PP Nurul Ummahat KH Abdul Muhaimin menjelaskan, tradisi memasak hidangan Lebaran memiliki akar filosofi yang dalam. “Ketupat itu berasal dari kata ‘ngaku lepat’, artinya mengakui kesalahan. Sementara proses memasak seperti rendang mengajarkan ketekunan dan kesabaran.”

Dalam perbincangan khusus, Abdul Muhaimin menambahkan, tradisi ini juga menjadi sarana edukasi keluarga. Anak-anak belajar nilai gotong royong, menghargai proses, dan memahami makna berbagi sejak dini. “Di dapur, nilai-nilai itu ditanamkan tanpa terasa,” ujarnya.

Menjelang siang, suasana rumah semakin riuh. Meja mulai ditata. Ketupat yang sudah matang digantung rapi, opor ayam disajikan dalam mangkuk besar, dan rendang berwarna cokelat pekat menjadi primadona di tengah hidangan.

Tak ketinggalan, toples-toples kue kering berjajar manis. Nastar, kastengel, dan putri salju seolah menjadi pelengkap wajib. Bagi banyak keluarga, menyajikan kue kering adalah simbol keterbukaan—bahwa siapa pun tamu yang datang akan disambut dengan tangan terbuka.

“Kalau Lebaran, rumah harus siap untuk siapa saja. Entah keluarga, tetangga, atau tamu tak terduga,” kata Khodijah sambil tersenyum

Inilah yang namanya “berbagi”. Makna  Lebaran  yang sesungguhnya.  Sederhana namun mendalam. Hidangan yang disiapkan bukan hanya untuk keluarga inti, tetapi juga untuk tetangga, kerabat, bahkan mereka yang membutuhkan.

Seorang tetangga, Ahmad Fauzi (38), mengaku selalu menunggu momen ini. “Bukan cuma makanannya, Tapi suasananya. Kita saling berkunjung, saling memaafkan. Itu yang tidak bisa digantikan.”

Tradisi ini, menurutnya, menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu harus besar dan mewah. Justru dari dapur sederhana, nilai-nilai kemanusiaan tumbuh subur.

Namun di tengah modernitas, tantangan mulai terasa. Banyak keluarga kini memilih cara instan—membeli ketupat jadi, opor siap saji, atau bahkan memesan katering. Praktis, memang. Tapi perlahan menggerus ruang kebersamaan di dapur.

Khadijah tidak menyalahkan perubahan itu. “Zaman memang berubah. Tapi kalau bisa, jangan hilang semuanya. Minimal anak-anak tahu cara membuat ketupat.”

Menjaga tradisi bukan soal menolak modernitas, melainkan merawat esensi. Dapur adalah ruang memori, tempat di mana cinta diracik bersama bumbu dan waktu.

Menjelang sore, suara takbir kembali menggema. Ketupat-ketupat matang siap dipotong, opor dan rendang siap disajikan. Rumah itu kini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang perjumpaan.

Di setiap suapan, ada cerita. Di setiap hidangan, ada makna. Dan di balik semua itu, ada tangan-tangan yang bekerja dengan cinta—menganyam bukan hanya janur, tetapi juga kenangan yang akan terus hidup dari satu Lebaran ke Lebaran berikutnya.

Tags:
#Janur #Ketupat #lebaran #Tradisi
Penulisdhiya
Jurnalis lulusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga 2025.
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Dancer in a gold white and silver costume stands center stage with arms wide a decorative circular backdrop above him and performers in blue outfits and props around him
Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Interior of an art gallery with a large colorful mural hanging above a wooden table displaying glassware and small sculptures on a white walled backdrop
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Portrait of an older person wearing large glasses and a patterned high collar outfit looking to the left against a dark background
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Filolog jawa kuno manu jayaatmaja widyaseputra
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Rumaket 2026 oleh dinas kebudayaan kota yogyakarta
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Pertemuan Prabowo dan Megawati, Silaturahmi Kawan Lama
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network