CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Indonesia Perkuat Perlindungan Taman Nasional Lorentz dan Hutan Hujan Sumatra

Penulis: Siswantini Suryandari 27 Jul 2026 4 menit baca
Pemerintah indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga dan memperkuat perlindungan situs warisan dunia alam indonesia dalam sidang komite warisan dunia ke 48 di busan korea selatan
Taman Nasional Lorentz. (dok. BTN Lorentz)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga dan memperkuat perlindungan situs warisan dunia alam Indonesia dalam Sidang Komite Warisan Dunia ke-48 (48th Session of the World Heritage Committee) di Busan, Korea Selatan.

Dua agenda utama Indonesia terkait warisan alam dalam sidang tersebut adalah Taman Nasional Lorentz dan Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS).

Delegasi Republik Indonesia dipimpin Direktur Sosial Budaya dan Kemitraan Strategis Kementerian Luar Negeri, Ary Aprianto. Sementara itu, Kementerian Kehutanan diwakili Direktur Konservasi Kawasan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Sapto Aji Prabowo.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Delegasi Indonesia juga melibatkan Kementerian Kebudayaan, Perwakilan RI di Korea Selatan dan UNESCO, serta tenaga ahli yang terkait dengan pengelolaan TRHS.

Partisipasi Indonesia dalam sidang tersebut merupakan bagian dari diplomasi konservasi untuk memastikan perlindungan kawasan yang memiliki nilai universal luar biasa atau Outstanding Universal Value (OUV).

Upaya tersebut sejalan dengan kebijakan Kementerian Kehutanan untuk terus memperkuat perlindungan ekosistem, konservasi keanekaragaman hayati, rehabilitasi hutan, serta pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.

Pemerintah indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga dan memperkuat perlindungan situs warisan dunia alam indonesia dalam sidang komite warisan dunia ke 48  di busan
Delegasi Republik Indonesia dipimpin Direktur Sosial Budaya dan Kemitraan Strategis Kementerian Luar Negeri, Ary Aprianto. (Dok Kemenhut)

Komitmen Pertahankan OUV Taman Nasional Lorentz

Dalam pembahasan mengenai Taman Nasional Lorentz, Ketua Delegasi RI Ary Aprianto menegaskan komitmen pemerintah untuk mempertahankan OUV kawasan tersebut.

Indonesia telah menyelesaikan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Lorentz periode 2021-2030. Pemerintah juga berkomitmen memastikan kegiatan pembangunan yang berpotensi memengaruhi kawasan tetap memperhatikan persyaratan Warisan Dunia, termasuk pelaksanaan kajian dampak.

“Pemerintah Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk melindungi dan mempertahankan Outstanding Universal Value Taman Nasional Lorentz. Kami telah menyelesaikan Rencana Pengelolaan periode 2021-2030 dan berkomitmen memastikan seluruh pembangunan pada kawasan mematuhi persyaratan Warisan Dunia, termasuk panduan pelaksanaan kajian dampak dalam konteks Warisan Dunia,” ujar Ary, Minggu (27/7/2026) waktu setempat.

Indonesia juga menyampaikan perkembangan rehabilitasi ekosistem Taman Nasional Lorentz yang melibatkan masyarakat lokal.

Pada 2024, target rehabilitasi sekitar 120 hektare berhasil direalisasikan seluruhnya. Secara kumulatif, sekitar 325 hektare atau 64 persen dari keseluruhan lahan yang membutuhkan rehabilitasi telah ditangani.

Perkuat Perlindungan Hutan Hujan Sumatra

Selain Taman Nasional Lorentz, perhatian Indonesia dalam sidang tersebut diarahkan pada penguatan perlindungan Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS).

Pemerintah Indonesia tengah mengajukan Significant Boundary Modification (SBM) TRHS yang dirancang dengan pendekatan berbasis konservasi. Usulan tersebut bertujuan memperkuat integritas ekologis sekaligus meningkatkan keterwakilan OUV kawasan.

Usulan SBM mencakup penambahan ekosistem dan habitat bernilai konservasi tinggi, peningkatan konektivitas antarkawasan, serta pembentukan zona penyangga seluas 427.759 hektare.

Melalui pendekatan tersebut, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari luas kawasan inti, tetapi juga dari kualitas ekologis, konektivitas habitat, dan efektivitas perlindungan kawasan secara keseluruhan.

Pemerintah indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga dan memperkuat perlindungan situs warisan dunia alam indonesia dalam sidang komite warisan dunia ke 48 di busan korsel
Hutan Hujan Sumatra. (dok Kementerian Pariwisata)

Direktur Konservasi Kawasan Sapto Aji Prabowo menyampaikan posisi Indonesia terkait TRHS dalam Sidang Komite Warisan Dunia. Ia menegaskan bahwa penguatan perlindungan kawasan terus dilakukan bersama masyarakat dan berbagai mitra.

“Indonesia terus bekerja erat dengan masyarakat lokal dan para mitra untuk memperkuat perlindungan dan pengelolaan TRHS. Seluruh langkah kami tetap berpedoman pada Konvensi Warisan Dunia, Operational Guidelines, serta keputusan Komite, termasuk kewajiban melakukan kajian dampak yang memadai terhadap kegiatan yang berpotensi memengaruhi kawasan,” ujar Sapto.

Indonesia saat ini juga mempersiapkan misi evaluasi IUCN terhadap proposal SBM TRHS yang dijadwalkan berlangsung pada 20-28 Oktober 2026.

Dalam rangkaian Sidang Komite Warisan Dunia, Delegasi RI telah melakukan pertemuan dengan IUCN untuk membahas kesiapan misi tersebut, termasuk rute kunjungan, area yang diusulkan masuk dan keluar dari properti Warisan Dunia, serta usulan zona penyangga.

Delegasi RI juga melakukan komunikasi dengan sejumlah negara anggota Komite Warisan Dunia untuk menjelaskan bahwa usulan SBM TRHS diarahkan untuk memperkuat integritas ekologis kawasan.

Proposal tersebut direncanakan menjadi salah satu agenda yang akan diputuskan dalam Sidang Komite Warisan Dunia ke-49 pada 2027.

Belajar dari Korea Selatan

Di sela-sela sidang, Delegasi RI juga melakukan pertemuan bilateral dengan Pemerintah Korea Selatan.

Pertemuan tersebut antara lain membahas dukungan terhadap proposal SBM TRHS. Dalam kesempatan itu, Korea Selatan juga berbagi pengalaman terkait perubahan batas Situs Warisan Dunia Getbol Korean Tidal Flats.

Selain berbagi pengalaman, Korea Selatan menawarkan dukungan teknis dalam pengelolaan situs Warisan Dunia serta peningkatan kapasitas para pengelola kawasan.

Melalui partisipasi dalam Sidang Komite Warisan Dunia, Indonesia menegaskan upaya memperkuat diplomasi konservasi sekaligus memastikan pengelolaan situs warisan dunia alam tetap berjalan dengan mengedepankan perlindungan ekosistem, keberlanjutan, dan keterlibatan masyarakat.

Tags:
#Hujan Hutan Sumatra #Korea Selatan #Sidang Komite Warisan Dunia #situs warisan dunia alam Indonesia #Taman Nasional Lorentz
Siswantini Suryandari
PenulisSiswantini Suryandari
Jurnalis senior, alumi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada
Male singer on stage, wearing a white robe and head wrap, holding a microphone and raising one arm.
EditorWahjudi Djaja
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Protester holding a cardboard sign that reads no terrorism with a yellow and gray megaphone in hand Ketahanan Sosial Masyarakat Jogja Kuat, Potensi Radikalisme Alami Penurunan
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network