catrawarta.com - Setelah 150 tahun industri gula berkembang di Yogyakarta, tidak banyak sisa-sisa kemegahan bangunan pabrik gula yang bisa dilihat. Periode Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta pada 1948 menjadi penyebab utama kenapa hal ini terjadi.
Bangunan besar pabrik gula menjadi salah satu hal yang terkena strategi bumi hangus yang dijalankan oleh tentara Indonesia.
Demikian disampaikan Achmad Sofyan selaku narasumber program Internalisasi Nilai-nilai Sejarah bagi Komunitas di bekas PG Beran, kompleks Pemkan Sleman, Rabu (12/8/2026) siang. Pesertanya meliputi anggota Komunitas Historia 24249, PPSKY, Komunitas Djogjakarta 45, MGMP IPS SMP, MGMP Sejarah SMA dan anggota Komunitas Sembada Muda Historia.
Dulu Banyak Pabrik Gula
Dengan letak geografis dan topografi wilayah yang menunjang disertai teknologi dalam transportasi dan irigasi yang baik, lanjutnya, Sleman menjadi salah satu daerah yang banyak memiliki pabrik gula bersama dengan Bantul.
”Total terdapat sekitar sembilan pabrik gula di wilayah Sleman yang tersebar di enam kapanewon, yakni Sleman, Mlati, Godean, Gamping, Berbah, dan Kalasan,”jelas penulis buku ”Yang Tersisa dari Pabrik Gula di Sleman” ini.
Mengutip buku Three Crises: Management in The Colonial Java Industry 1880–1930s, karya Roger Wiseman, Sofyan menyampaikan pabrik gula Beran didirikan pada 1880 oleh WFB Semster dengan menyewa lahan Vorstenlanden.
”Untuk menjalankan aktivitas produksinya, Pabrik Gula Beran mendapatkan bantuan dana dari Nederlandsch Handel Matschappij (NHM) pada tahun 1807 bersama dengan 11 pabrik gula lain di wilayah Vorstenlanden,” jelasnya.
Kenalkan Sejarah Perjalanan Bangsa
Menanggapi program tersebut, Herdono SPd, guru SMP Negeri 1 Depok menyambut positif kegiatan tersebut dan berharap ada kelanjutannya.
”Program ini sangat bagus sebagai salah satu usaha untuk mengenalkan proses perjalanan sejarah bangsa di tingkat lokal. Semoga ini berlanjut dengan melibatkan lebih banyak komunitas dan syukur-syukur lintas generasi,” ungkap Ketua MGMP IPS Kabupaten Sleman tersebut.

Sedangkan Wahjudi Djaja selaku pembina Sembada Muda Historia mengapresiasi upaya Dinas Kebudayaan Sleman dalam menginternalisasi sejarah.
”Rekam jejak Sleman itu panjang dan lintas periode. Jejaknya masih bisa kita temukan. Internalisasi ini menjadi penting manakala kita kaitkan dengan Pendidikan Khas Kejogjaan. Generasi penerus Sleman harus paham dengan sejarahnya karena itu bagian dari pendidikan karakter,” tandas Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama) ini.
Perkebunan Tebu dan Industri Gula
Internalisasi Nilai-nilai Sejarah bagi Komunitas etape pertama mengambil tema Jejak Perkebunan Tebu dan Industri Gula di Kabupaten Sleman.
Dimulai dengan menelusuri bekas kantor administrator PG Beran yang kini menjadi Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sleman. Dilanjutkan ke bekas PG Medari meliputi SMP Negeri 1 Sleman dan Kodim Sleman, dilanjutkan ke bekas PG Tanjungtirto di Kalitirto Berbah.
Hadir dalam program internalisasi sejarah antara lain Kepala Bidang Sejarah Bahasa Sastra dan Permuseuman, Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman, serta para staf Dinas Kebudayaan Sleman.









