CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Melatih Lisan di Bulan Ramadan, Santri Belajar Berbicara di Era Digital

Penulis: dhiya 5 Mar 2026 3 menit baca
Diperbarui Maret 5, 2026
Sejumlah santri ppq safiitunnaja kalibeber mojotengah wonosobo saat mengikuti pelatihan publik speaking di bulan ramadan ini Foto  muharno zarka
Sejumlah santri PPQ Safiitunnaja Kalibeber Mojotengah Wonosobo saat mengikuti pelatihan publik speaking di bulan ramadan ini. Foto : Muharno Zarka
Bagikan:
0

catrawarta.com - Di pendopo PPQ Safiinatunnaja Kalibeber, Mojotengah, suasana Rabu siang (4/3/2026) itu berbeda dari biasanya. Tidak ada kitab kuning terbuka di pangkuan, tidak pula suara sorogan yang saling bersahutan. Empat puluh santri Pendidikan Diniyah Formal (PDF) duduk melingkar, sebagian tampak menunduk, sebagian lagi saling melempar senyum canggung. Hari itu mereka belajar berbicara.

Bulan Ramadan di pesantren memang identik dengan ngaji pasanan dan ibadah mahdhah. Namun kali ini, pengasuh pesantren ingin ada bekal lain yang dibawa pulang para santri: keberanian menyampaikan pikiran di depan umum.

Tema pelatihan, “Menguatkan Lisan, Menata Hati, Cetak Generasi Handal di Era Digital”, terdengar serius. Tetapi suasana berlangsung hangat. Narasumber yang hadir bukan orang jauh dari dunia komunikasi: Tunjang Ari Suseno, Wakil Ketua PC GP Ansor Wonosobo sekaligus penyiar radio, dan Faza Luthfia, jurnalis serta dosen tamu di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Keduanya tidak hanya berbagi teori. Mereka meminta santri berdiri satu per satu, memperkenalkan diri, lalu menyampaikan pesan singkat seolah-olah sedang berdakwah atau berbicara di depan masyarakat. Di situlah tantangan dimulai.

Beberapa santri terlihat kaku. Ada yang suaranya nyaris tak terdengar. Ada pula yang terlalu cepat berbicara karena gugup. Namun tak ada ejekan. Teman-teman mereka justru memberi tepuk tangan setiap kali satu peserta selesai tampil. Candaan ringan khas pesantren sesekali mencairkan suasana.

“Coba atur napasnya. Lihat audiens, jangan hanya lihat lantai,” ujar Faza memberi arahan. Tunjang menambahkan tips sederhana: berdiri tegak, buka bahu, dan mulai dengan kalimat yang paling dikuasai.

Pelan-pelan, perubahan terlihat. Suara yang tadinya gemetar mulai lebih tegas. Tatapan yang semula kosong mulai berani menyapu ruangan.

Pengasuh pesantren, KH Dr Ngarifin Shidiq Alh, MPd, yang juga Direktur Pascasarjana di Universitas Sains Al-Qur’an, menilai kemampuan berbicara di depan umum adalah kebutuhan mendasar bagi santri hari ini.

“Santri tidak cukup hanya memahami isi kitab. Mereka harus mampu menyampaikannya dengan baik dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Menurutnya, pola pendidikan di pesantren harus holistik: menguasai ilmu agama sekaligus ilmu umum, termasuk keterampilan komunikasi dan pemanfaatan teknologi informasi. Di era digital dan kecerdasan buatan, pesan dakwah bisa menyebar luas—tetapi juga bisa disalahpahami jika tidak disampaikan dengan bijak.

Lurah Pondok, Ahmad Yahya, berharap pelatihan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial Ramadan. Ia mengingatkan bahwa di pesantren sudah ada forum muhadlarah mingguan. Di situlah latihan harus terus dilakukan. “Keberanian itu dibentuk dari kebiasaan,” katanya singkat.

Menjelang sore, sesi ditutup dengan refleksi. Seorang santri mengaku awalnya takut berbicara karena khawatir salah. Namun setelah mencoba, ia merasa lebih percaya diri.

Tidak ada gemerlap panggung, tidak pula sertifikat mewah. Hanya pendopo sederhana, pengeras suara seadanya, dan semangat belajar yang tumbuh perlahan.

Di tengah padatnya ibadah Ramadan, pelatihan itu menjadi ruang kecil untuk melatih lisan sekaligus menata hati. Bagi para santri, mungkin inilah salah satu bekal penting sebelum benar-benar terjun ke masyarakat: berani berbicara, dengan tenang dan bertanggung jawab.

Tags:
#pesantren #ramadhan #santri
Penulisdhiya
Jurnalis lulusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga 2025.
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Secarik surat yang diduga ditulis bocah 12 tahun ditemukan bersama bayi yang ditinggalkan di kawasan pejaten jakarta selatan Dalam tulisan tersebut sang kakak meminta orang yang menemukan adiknya untuk merawat bayi itu setelah ibu mereka meninggal saat melahirkan Kasus Bayi Ditinggalkan di Pejaten Mengungkap Kerentanan Anak dalam Krisis Keluarga
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network