CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Menapaki Kuburan Prasejarah Sokoliman yang Selaras Dengan Alam

Penulis: Mutia 16 Jul 2026 3 menit baca
Situs sokoliman di gunungkidul yang memiliki peninggalan benda benda bersejarah megalitikum
Situs Sokoliman di Gunungkidul yang memiliki peninggalan benda-benda bersejarah megalitikum. (dok. Desa Wisata Bejiharjo)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Berbicara mengenai sejarah, rasanya Indonesia ini tak pernah kehabisan sumber. Termasuk Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang turut memiliki jejak istimewa.

Salah satu lokasi yang mempunyai peninggalan bernilai sejarah ini adalah Situs Sokoliman di Padukuhan Sokoliman, Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo.

Situs ini pertama kali ditemukan pada tahun 1934 dalam penelitian oleh JL Moens dan Van der Hoop. Dalam penelitian ini, kawasan situs tersebut diidentifikasi sebagai peninggalan penting yang memuat budaya dan tradisi masyarakat prasejarah di kawasan Gunungkidul dan sekitarnya.

Baca Juga
5 artikel
  1. Warta Pernikahan Gusti Sura dan Adimas Rosdian November 2026, Padukan Adat Mangkunegaran dan Tradisi Katolik? →
  2. Warta Cuaca Ekstrem Mengintai Jabodetabek 10-11 Oktober, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak →
  3. Warta Tiga Kakak Beradik Meninggal Ditabrak Truk Saat Pastikan Sekolah Libur akibat Kabut Asap Karhutla →
  4. Warta Yusril: Silahkan Polisi hingga KPK Usut Klaster Mewah Lapas Cibinong →
  5. Warta Rocky Gerung Singgung Posisi Wantimpres Saat Komentari Polemik Ijazah Gibran →

Dalam penelitian lanjutan, Situs Sokoliman ini terungkap memiliki benda-benda megalitikum yang berasal dari zaman prasejarah. Beberapa di antaranya yakni waruga, arca, menhir, pecahan gerabah, hingga artefak logam.

Paniradya Pati Kaistimewaan DIY Kurniawan mengungkap, Situs Sokoliman yang berisi peninggalan itu merupakan simbol betapa istimewanya kawasan DIY dan sekitarnya. Situs ini disebutnya menyimpan banyak pembelajaran, terutama soal perkembangan kebudayaan masyarakat dari masa bercocok tanam hingga perundagian.

“Situs ini menunjukkan betapa DIY memang istimewa. Situs ini bisa menjadi sumber keilmuan, yang menunjukkan perkembangan kebudayaan masyarakat prasejarah dari masa bercocok tanam hingga perundagian,” jelas Kurniawan, seperti yang dikutip dari RRI, Kamis (16/7).

Di sisi lain, ditemukan pula beberapa batuan yang menyerupai menhir atau meja besar yang dianggap sebagai altar. Menhir ini berjumlah lima sehingga disebut sokoliman. Selain temuan berupa peninggalan batuan yang tersusun, di kawasan Sokoliman juga ditemukan sebuah goa purbakala.

Goa ini memiliki bentuk unik seperti beberapa batuan raksasa yang disusun sehingga menjadi rumah prasejarah. Di dekat situs goa purbakala juga terdapat sumur. Sumur tersebut yang menandakan adanya aktivitas hidup manusia pada masa itu.

Selaras Dengan Alam

Tak cuma menyimpan beberapa koleksi seperti yang disebutkan di atas, Situs Sokoliman ini juga merupakan punya kuburan prasejarah yang berbentuk kubur batu dengan batu-batuan lonjong dan lempeng batu menyerupai nisan.

Lokasinya terletak di lahan terbuka dataran Aluvial Cekungan Wonosari, tepatnya sebelah timur Sungai Oyo. Manusia purba yang mendiami wilayah ini diduga bermigrasi dari gua-gua karst di Perbukitan Gunung Sewu menuju kawasan terbuka di dataran aluvial Cekungan Wonosari.

Perpindahan ini didorong oleh kesadaran ekologis untuk mencari lahan yang lebih subur guna menunjang tradisi baru mereka, yaitu bercocok tanam. Terletak tepat di sebelah timur Sungai Oyo, wilayah ini menyediakan pasokan air tanpa batas, tanah yang subur dari endapan sungai, serta jalur transportasi alami.

Pada saat itu juga, masyarakat prasejarah dalam mendirikan bangunan megalitik sama sekali tidak merusak alam atau mendatangkan material asing, tapi justru memanfaatkan formasi batu kapur yang berada di sekitarnya. Batuan itu dipahat dengan tangan hingga menjadi peninggalan di masa kini.

Soal pangan bagi masyarakat prasejarah, alam bahkan bukan sekadar latar belakang tempat tinggal hingga mendapatkan makanan semata, melainkan entitas hidup yang keramat. Pendirian menhir raksasa seperti yang berukuran lebih dari 4 meter seolah menjadi simbol harmonisasi antara alam semesta dan manusia.

Peninggalan ini begitu jelas menggambarkan kondisi kehidupan dan kepercayaan masyarakat prasejarah kala itu. Menurut Kurniawan, area situs makam ini merupakan simbol dari terintegrasinya sistem kehidupan, kepercayaan, dan pemanfaatan ruang yang baik.

“Betapa mereka telah membangun sistem kehidupan, kepercayaan, dan pemanfaatan ruang,” katanya.

Dia menyoroti jika hasil terintegrasinya ketiga hal ini membuat kehidupan masyarakat prasejarah justru sangat selaras dengan kondisi alam sekitarnya.

“Dan hasilnya terlihat sangat selaras dengan kondisi alam sekitarnya,” tandas Kurniawan.

Tags:
#Budaya #gunungkidul #situs peninggalan prasejarah #situs sokoliman
Smiling woman wearing a beige hijab, black jacket, striped shirt, and a watch, standing against a dark textured wall.
PenulisMutia
Penulis yang telah mendalami bidang jurnalistik sejak 2015. Sedang mendalami isu-isu di bidang sosial, budaya, dan kebijakan publik di Yogyakarta serta nasional.
Male singer on stage, wearing a white robe and head wrap, holding a microphone and raising one arm.
EditorWahjudi Djaja
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Dancer in a gold white and silver costume stands center stage with arms wide a decorative circular backdrop above him and performers in blue outfits and props around him
Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Interior of an art gallery with a large colorful mural hanging above a wooden table displaying glassware and small sculptures on a white walled backdrop
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Portrait of an older person wearing large glasses and a patterned high collar outfit looking to the left against a dark background
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Filolog jawa kuno manu jayaatmaja widyaseputra
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Rumaket 2026 oleh dinas kebudayaan kota yogyakarta
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Ilustrasi ledakan yang terjadi di sejumlah gudang amunisi milik tni di sejumlah titik penyimpanan di tanah air Rentetan Kasus Gudang Amunisi Meledak dalam Beberapa Tahun Terakhir
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network