CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Menuju Hari Batik National, Kurator Ungkap Sejarah Menarik di Balik Adaptasi Kain Tradisional Belanda di Indonesia 

Penulis: Mutia 29 Sep 2026 3 menit baca
Sejarah menarik di balik adaptasi kain tradisional belanda di indonesia
Sejarah Menarik di Balik Adaptasi Kain Tradisional Belanda di Indonesia. (Sumber: dok. Instagram @ambabarco).
Bagikan:
0

catrawarta.com - Menyongsong Hari Batik Nasional, dunia tekstil Nusantara kembali mengenang salah satu babak sejarah yang paling unik dan memikat. Salah satu warisan budaya silang yang kerap menarik perhatian para kolektor adalah kehadiran ragam tekstil klasik masa lampau. 

Kurator batik terkemuka, Asti Suryo A, mengungkapkan berbagai fakta menarik di balik akulturasi budaya tersebut. Eksplorasi mendalam ini membuka wawasan baru mengenai bagaimana bangsa Eropa ikut memperkaya khazanah seni rupa lokal. 

Jadi, seperti apa eksplorasi mendalam mengenai batik di masa lampau yang turut membentuk perkembangan batik dari masa ke masa ini? Berikut ulasannya. 

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Sejarah dan Definisi Batik Belanda

Perkembangan ragam tekstil bernuansa kolonial ini tercatat berlangsung secara masif pada kurun waktu 1840 hingga 1910. Jenis batik tersebut tercipta jauh sebelum masyarakat Indonesia memiliki banyak pilihan kain untuk digunakan seperti saat ini. 

Asti Suryo A menjelaskan bahwa pengaruh budaya asing tersebut hadir karena interaksi panjang selama masa penjajahan yang mencapai tiga setengah abad. Intensitas hubungan sosial dan budaya yang begitu lama tentu meninggalkan jejak yang sangat kuat pada berbagai motif tradisional. 

“Pengaruh budaya lain terhadap batik di Indonesia tentunya ada dari Belanda karena mereka telah menjajah Indonesia selama 350 tahun. Jadi cukup lama sehingga pengaruh yang diadopsi dalam pola-pola batiknya ini juga sangat intens,” ungkap Asti dalam keterangannya, dikutip dari unggahan akun Instagram salah satu lini usaha Dabtive di bidang batik, Ambabar melalui @ambabarco. 

Meski demikian, perlu dipahami dengan cermat bahwa istilah tersebut merujuk pada karya yang dibuat di Nusantara pada era kolonial. Jadi, kreasi indah ini sama sekali bukan produk tekstil yang diproduksi secara massal di negara kincir angin sana.

“Yang dimaksud Batik Belanda ini adalah batik yang dibuat pada masa penjajahan Belanda, bukan batik yang dibuat di Belanda,” sambung Asti. 

Ada Cerita yang Terselip

Keunikan paling mencolok dari karya klasik ini terletak pada visualisasi naratif yang mengadaptasi berbagai kisah fiksi barat. Asti Suryo A menyebutkan bahwa pola-pola kain tersebut sering kali menampilkan ilustrasi cerita rakyat terkenal dari daratan Eropa. 

Masyarakat masa itu dapat menemukan lembaran kain bergambar narasi si Kerudung Merah, Snow White, hingga Hansel and Gretel. Adaptasi kisah anak-anak ke dalam cantingan malam tentu menjadi sebuah inovasi estetika yang sangat luar biasa. 

“Nah Batik Belanda yang paling telrihat bahwa batik itu memiliki pengaruh Eropa adalah batik dengan cerita. jadi ada cerita-cerita tentang si kerudung merah, snow white, sampai hansel and gretel yang diadopsi pada pola-pola batik,” cerita Asti. 

Karakteristik Bunga Buket dan Makhluk Hidup

Selain kisah fiksi, ciri khas lain yang menonjol adalah penggunaan rangkaian bunga atau buket yang disusun secara sangat indah. Asti Suryo A menambahkan bahwa pola buket bunga tersebut kemudian turut diadopsi oleh para pengusaha tekstil keturunan Tionghoa. 

“Kemudian rangkaian-rangkaian bunga atau buket, itu juga menjadi ciri khas dari batik Belanda meskipun setelahnya juga diadopsi oleh pengusaha Tionghoa,” lanjutnya. 

Perbedaan filosofis juga tampak jelas pada penggambaran makhluk hidup secara utuh tanpa ada reka bentuk stilasi. Latar belakang keyakinan Kristiani membuat para perajin masa itu merasa leluasa menampilkan figur manusia dan hewan secara realistis. 

“Ciri khas lainnya juga Batik Belanda ini juga menggambarkan adanya makhluk hidup secara utuh. Jadi karena mereka nasrani, bagi mereka itu tidak masalah menggambarkan makhluk hidup dalam bentuk utuh,” tandas Asti. 

Seluruh elemen estetika ini berpadu harmonis dan memperkuat posisi batik sebagai warisan dunia yang kaya makna. Hingga saat ini, jenis Batik Belanda tersebut masih dapat ditemui namun cukup langka dan bahkan dikategorikan sebagai kain antik hingga koleksi museum. 

Beberapa hasil karya di masa lampau ini dapat ditemui di sejumlah titik lokasi seperti Museum Batik Pekalongan yang sarat menghadirkan nuansa Belanda di kain tradisional khas Indonesia ini. 

Tags:
#Batik #batik ambabar #Hari Batik #hari batik nasional
Smiling woman wearing a beige hijab, black jacket, striped shirt, and a watch, standing against a dark textured wall.
PenulisMutia
Penulis yang telah mendalami bidang jurnalistik sejak 2015. Sedang mendalami isu-isu di bidang sosial, budaya, dan kebijakan publik di Yogyakarta serta nasional.
Sketched-style portrait of a man with glasses, smiling, outdoors with palm trees in the background.
EditorWicaksana
Jurnalis senior, tinggal di Yogyakarta.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Ilustrasi kekeringan ekstrem Kekeringan Ekstrem, Kulon Progo Perpanjang Status Siaga Darurat hingga Akhir Tahun 
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network