catrawarta.com - Menyongsong Hari Batik Nasional, dunia tekstil Nusantara kembali mengenang salah satu babak sejarah yang paling unik dan memikat. Salah satu warisan budaya silang yang kerap menarik perhatian para kolektor adalah kehadiran ragam tekstil klasik masa lampau.
Kurator batik terkemuka, Asti Suryo A, mengungkapkan berbagai fakta menarik di balik akulturasi budaya tersebut. Eksplorasi mendalam ini membuka wawasan baru mengenai bagaimana bangsa Eropa ikut memperkaya khazanah seni rupa lokal.
Jadi, seperti apa eksplorasi mendalam mengenai batik di masa lampau yang turut membentuk perkembangan batik dari masa ke masa ini? Berikut ulasannya.
Sejarah dan Definisi Batik Belanda
Perkembangan ragam tekstil bernuansa kolonial ini tercatat berlangsung secara masif pada kurun waktu 1840 hingga 1910. Jenis batik tersebut tercipta jauh sebelum masyarakat Indonesia memiliki banyak pilihan kain untuk digunakan seperti saat ini.
Asti Suryo A menjelaskan bahwa pengaruh budaya asing tersebut hadir karena interaksi panjang selama masa penjajahan yang mencapai tiga setengah abad. Intensitas hubungan sosial dan budaya yang begitu lama tentu meninggalkan jejak yang sangat kuat pada berbagai motif tradisional.
“Pengaruh budaya lain terhadap batik di Indonesia tentunya ada dari Belanda karena mereka telah menjajah Indonesia selama 350 tahun. Jadi cukup lama sehingga pengaruh yang diadopsi dalam pola-pola batiknya ini juga sangat intens,” ungkap Asti dalam keterangannya, dikutip dari unggahan akun Instagram salah satu lini usaha Dabtive di bidang batik, Ambabar melalui @ambabarco.
Meski demikian, perlu dipahami dengan cermat bahwa istilah tersebut merujuk pada karya yang dibuat di Nusantara pada era kolonial. Jadi, kreasi indah ini sama sekali bukan produk tekstil yang diproduksi secara massal di negara kincir angin sana.
“Yang dimaksud Batik Belanda ini adalah batik yang dibuat pada masa penjajahan Belanda, bukan batik yang dibuat di Belanda,” sambung Asti.
Ada Cerita yang Terselip
Keunikan paling mencolok dari karya klasik ini terletak pada visualisasi naratif yang mengadaptasi berbagai kisah fiksi barat. Asti Suryo A menyebutkan bahwa pola-pola kain tersebut sering kali menampilkan ilustrasi cerita rakyat terkenal dari daratan Eropa.
Masyarakat masa itu dapat menemukan lembaran kain bergambar narasi si Kerudung Merah, Snow White, hingga Hansel and Gretel. Adaptasi kisah anak-anak ke dalam cantingan malam tentu menjadi sebuah inovasi estetika yang sangat luar biasa.
“Nah Batik Belanda yang paling telrihat bahwa batik itu memiliki pengaruh Eropa adalah batik dengan cerita. jadi ada cerita-cerita tentang si kerudung merah, snow white, sampai hansel and gretel yang diadopsi pada pola-pola batik,” cerita Asti.
Karakteristik Bunga Buket dan Makhluk Hidup
Selain kisah fiksi, ciri khas lain yang menonjol adalah penggunaan rangkaian bunga atau buket yang disusun secara sangat indah. Asti Suryo A menambahkan bahwa pola buket bunga tersebut kemudian turut diadopsi oleh para pengusaha tekstil keturunan Tionghoa.
“Kemudian rangkaian-rangkaian bunga atau buket, itu juga menjadi ciri khas dari batik Belanda meskipun setelahnya juga diadopsi oleh pengusaha Tionghoa,” lanjutnya.
Perbedaan filosofis juga tampak jelas pada penggambaran makhluk hidup secara utuh tanpa ada reka bentuk stilasi. Latar belakang keyakinan Kristiani membuat para perajin masa itu merasa leluasa menampilkan figur manusia dan hewan secara realistis.
“Ciri khas lainnya juga Batik Belanda ini juga menggambarkan adanya makhluk hidup secara utuh. Jadi karena mereka nasrani, bagi mereka itu tidak masalah menggambarkan makhluk hidup dalam bentuk utuh,” tandas Asti.
Seluruh elemen estetika ini berpadu harmonis dan memperkuat posisi batik sebagai warisan dunia yang kaya makna. Hingga saat ini, jenis Batik Belanda tersebut masih dapat ditemui namun cukup langka dan bahkan dikategorikan sebagai kain antik hingga koleksi museum.
Beberapa hasil karya di masa lampau ini dapat ditemui di sejumlah titik lokasi seperti Museum Batik Pekalongan yang sarat menghadirkan nuansa Belanda di kain tradisional khas Indonesia ini.









