CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

‘Mepe’ Jaran Kepang, Kehangatan Merawat Warisan yang Terus Dilestarikan

Penulis: Giffari Ighfirlana 29 Mar 2026 2 menit baca
Diperbarui Maret 30, 2026
Seniman jaran kepang dari berbagai kabupaten berkumpul ‘mepe jaran’ di Desa Ketitang, Kecamatan Jumo, Temanggung. (Istimewa)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Di tengah tanah lapang Desa Ketitang, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah seniman kuda lumping dari berbagai penjuru kabupaten dan sejumlah kabupaten tetangga menggelar tradisi ‘mepe‘ (menjemur) jaran kepang, Minggu (29/3/2026).

Di tempat itu, kuda-kuda lumping anyaman berjejer rapi. Warnanya terang mencolok, sehingga nampak jelas terlihat, bahkan dari kejauhan sekalipun. Beberapa di antaranya baru saja selesai menjalani ritual jamasan, yakni dimandikan penuh keseriusan. Setelah itu kuda-kuda kepang itu dijemur. “Setelah proses dimandikan kemudian dilanjutkan ‘mepe’,” begitu mereka  menyebutnya.

Tapi bukan sekadar menjemur properti. Ada sesuatu yang lebih dalam. Karena, konon ada jeda sakral, mendiamkan sebentar kuda lumping sebelum digunakan. Saat digunakan menari itu energi meledak lewat hentakan tari, tabuhan gamelan dan trance (ndadi), seperti terkena pengaruh makhluk lain, sehingga membuat bulu kuduk merinding. Dari sunyi menuju riuh. Dari tenang ke magis.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Di sela-sela mereka menjemur kuda kepang terkadang terdengar suara tawa dan obrolan hangat. Para seniman, komunitas, dan warga duduk tanpa sekat. Ada yang berteduh di bawah pohon seadanya, ada pula yang tetap tegak berdiri di bawah sengatan matahari, seolah panas tak menjadi masalah. “Ini bukan cuma untuk pelaku seni. Siapapun yang suka jaran kepang,  silakan datang,” ujar Supri Wanto, salah satu seniman yang ikut menggagas acara ini.

Ruang Bertemu atau Kopi Darat

Baginya, mepe jaran kepang lebih dari sekadar agenda rutin. Ini adalah ruang temu atau kopi daratnya budaya. Tempat di mana tradisi dirawat bersama-sama, bukan sendirian. Dari Temanggung, semangat ini mulai menjalar ke Magelang, Semarang, hingga Boyolali.
Hari itu, sekitar seribu orang hadir. Mereka datang dari Demak, Banjarnegara, Wonosobo dan berbagai penjuru lain. Jarak bukan halangan kalau yang dipanggil adalah rasa memiliki.

Seniman lain, yang ikut adalah Firman yang meski peluh bercucuran, kulit memerah terkena matahari, tapi langkahnya tetap ringan. Itu pertanda,  tradisi ini benar-benar hidup. Bukan di dalam ruangan ber-AC, bukan di atas panggung megah, tapi di tengah lapang, di bawah terik yang menyengat, bersama orang-orang yang memilih setia menjaganya tetap bernapas. “Di tengah panas mepe jaran kepang justru memberi satu kehangatan yang berbeda, yakni ada kebersamaan,” katanya

Ia mengatakan, menjadi sebuah pengingat, bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu. “Ini adalah pertemuan antara leluhur dan kita, antara kita dan anak cucu, antara kenangan dan harapan yang terus dijaga, dijemur di bawah terik matahari yang sama,” ucapnya penuh pesan.

Tags:
#Jaran Kepang #Mepe #Rawat Warisan #Temanggung
PenulisGiffari Ighfirlana
Alumnus Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Budaya UIN Sunan Kalijaga
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Indonesia vs Bulgaria, Pelatih Jonh Herdman Ubah Komposisi Pemain
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network