CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Obrolan Kecil di Yogyakarta, Mimpi Besar Merajut Indonesia

Penulis: dhiya 12 Apr 2026 3 menit baca
Anggota Koseta DIY foto bareng usai acara syawalan. Foto: Tor
Bagikan:
0

catrawarta.com - Di sebuah sudut Gallery Saptohoedojo, Minggu siang itu (12/4/2026), tak ada panggung megah atau seremoni yang berjarak. Yang ada justru lingkaran percakapan—hangat, setara, dan terbuka. Para seniman, akademisi, dan pegiat budaya duduk berdampingan, saling menyapa, saling mendengar. Dari ruang sederhana inilah, gagasan besar tentang Indonesia sebagai “rumah kebhinekaan” dirajut.

Nama-nama seperti Yani Saptohoedojo, Sri Suryawidati, Taufik Rahzen, Yudiaryani, hingga Yatik Pesek hadir bukan sekadar sebagai pembicara, melainkan sebagai bagian dari percakapan itu sendiri. Tak ada sekat formalitas—yang ada hanya keinginan untuk memahami satu sama lain di tengah perbedaan.

Di tengah suasana itulah, Sigit Sugito, Ketua KOSETA DIY, menyebut bahwa apa yang terjadi hari itu bukan sekadar forum diskusi. Ia menyebutnya sebagai upaya kecil namun penting untuk menghidupkan kembali tradisi dialog di tengah masyarakat yang mulai terfragmentasi. “Masalah kita hari ini bukan semata perbedaan, tapi hilangnya ruang untuk mempercakapkan perbedaan itu,” ujarnya.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Dari sinilah program “Salaman Istimewa: Merajut Indonesia Rumah Kebhinnekaan” menemukan relevansinya. Alih-alih menggurui, forum ini memilih jalan yang lebih membumi. Mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda dalam suasana yang cair dan setara. Dialog dijadikan jembatan, bukan debat yang saling meniadakan.

Fenomena intoleransi dan polarisasi sosial yang belakangan menguat memang tak bisa diselesaikan dengan pendekatan formal semata. Sigit melihat, akar persoalannya justru terletak pada minimnya interaksi lintas identitas yang autentik. Ketika orang jarang bertemu, prasangka mudah tumbuh.

Karena itu, KOSETA DIY mendorong hadirnya “Rumah Kebhinekaan”—bukan hanya sebagai ruang fisik, tetapi sebagai ekosistem percakapan yang hidup. Sebuah ruang di mana perbedaan tidak disembunyikan, melainkan dirayakan dan dipahami bersama.

Yang menarik, forum ini tidak berhenti sebagai peristiwa sesaat. Ia dirancang menjadi gerakan berkelanjutan—forum bulanan yang terus mempertemukan pelajar, mahasiswa, tokoh agama, komunitas budaya, hingga masyarakat umum. Mereka diposisikan sebagai aktor utama dalam menjaga kohesi sosial, bukan sekadar peserta pasif.

Bagi generasi muda, pesan yang dibawa cukup tegas: keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan. Namun kekuatan itu hanya akan nyata jika diolah melalui edukasi dan pengalaman langsung dalam berinteraksi.

Untuk memperluas dampaknya, KOSETA DIY menggandeng Indonesia Rumah Kebhinekaan serta didukung RRI dan TVRI. Lewat siaran publik, percakapan dari ruang kecil di Yogyakarta ini diharapkan menjangkau ruang yang lebih luas—hingga ke tingkat nasional.

Namun pada akhirnya, kekuatan utama gerakan ini tetap bertumpu pada hal sederhana: keberanian untuk duduk bersama dan berbicara. Tanpa itu, kebhinekaan hanya akan tinggal sebagai slogan.

Dari obrolan kecil di Yogyakarta, sebuah pengingat kembali ditegaskan—bahwa Indonesia tidak dibangun dari keseragaman, melainkan dari kemampuan untuk merawat perbedaan.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh konflik identitas, yang kita butuhkan justru lebih banyak ruang seperti ini – tempat untuk saling menyapa, bukan saling curiga.

Panggung hiburan nyanyi bersama para seniman dan budayawan di acara syawalan Koseta DIY, Minggu 12 April 2026. Foto: tor

Tags:
#budayawan #KOSETA #Seniman #Syawalan #yogyakarta
Penulisdhiya
Jurnalis lulusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga 2025.
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Mediasi Islamabad Gagal, AS dan Iran Tak Capai Kesepakatan
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network