CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Radjiman, Dari Ruang Kemanusiaan ke Gerakan Kebangsaan

Penulis: Wahjudi Djaja 29 Mei 2026 6 menit baca
Makam krt radjiman wedyodiningrat di kalurahan sendangadi mlati sleman diy dok Catrawarta
Makam KRT Radjiman Wedyodiningrat di Kalurahan Sendangadi, Mlati, Sleman, DIY (Dok. Catrawarta)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Para pendiri negara ini kebanyakan terdiri atas para cendekiawan yang ahli di bidangnya. Anehnya, bukannya mereka mencari kekayaan dan kekuasaan bersama Belanda, tetapi memilih jalan menanjak bersama rakyat terjajah untuk meraih kemerdekaan.

Satu di antaranya adalah Dr. Radjiman. Lahir dari kalangan rakyat biasa, anak Ki Sutodrono pada 1 April 1879. Soal tempat lahir ada beberapa versi. Saat penulis ziarah ke makamnya di Sendangadi, Mlati, Sleman, Jumat (29/5/2026) yang tak jauh letaknya dari rumah, tercatat lahir di Lempuyangan Kota Yogyakarta. Data tercatat pada tugu di bagian depan kompleks makam Wahidin Sudirohusodo dan dibuat Dinas Kebudayaan Sleman.

Sedangkan pada buku DR. K.R.T Rajiman Wedyodiningrat: Hasil Karya dan Pengabdiannya yang ditulis Drs. AT. Sugito, S.H., (untuk Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Depdikbud 1985/1986), Radjiman lahir di Desa Melati, Kampung Gelondongan, Kota Yogyakarta. Menilik lokasinya, kini menjadi Mlati Glondong, Kalurahan Sendangadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Ki Sutodrono adalah bekas tentara Belanda KNIL, keturunan ke tujuh Kraeng Naba (saudara Kraeng Galesong yang sempat melawan Mataram bersama Trunojoyo). Visi Ki Sutrodono relatif maju, menginginkan anaknya bisa sekolah dan berpendidikan. Radjiman kemudian bisa sekolah di Tweede Europese Lagere School atau Sekolah Rendah Belanda di Yogyakarta. Lulus pada 1893, Radjiman pergi ke Batavia dan diterima di Sekolah Dokter Jawa. Berteman Sulaeman, anak Wahidin Sudirohusodo, menekuni sekolah dokter hingga lulus pada 22 Desember 1889.

Pada usia 20 tahun Radjiman sudah bergelar dokter Jawa dan pada 1899 diangkat sebagai Gubermen yang bekerja pada Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ) yakni Rumah Sakit Umum Pusat di Batavia, kini menjadi RS Tjipto Mangunkusumo. Radjiman kemudian mengabdikan diri sebagai dokter di Banyumas, Purworejo, Semarang dan Madiun. Selama menjadi dokter itu, Radjiman melihat sendiri bagaimana penderitaan rakyat dijajah Belanda. Keprihatinan melahirkan kesadaran, kesadaran melahirkan gerakan.

Saat menjadi assisten leraar atau asisten guru di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) pada 1903-1904, Radjiman banyak berdiskusi dan berinteraksi dengan para mahasiswa dan tokoh pergerakan nasional. Sambil menjadi asisten, Radjiman memperdalam ilmunya di STOVIA dan memperoleh gelar Indisch Art (gelar untuk lulusan sekolah kedokteran pada masa Hindia Belanda) pada 1904. Lalu menikah dengan Rohani, gadis asal Pekalongan yang tinggal di Batavia. Radjiman kemudian melanjutkan pengabdian dan perjuangan kemanusiaan antara lain menjadi dokter di Malang dan Sragen.

Pada saat para mahasiswa STOVIA mendirikan organisasi kebangsaan pertama Budi Utomo pada 20 Mei 1908, atas inspirasi Wahidin Sudirohusodo, Radjiman mendukung sepenuhnya. Dalam Kongres Budi Utomo di Yogyakarta pada 3 Oktober 1908, Radjiman menjadi salah satu narasumber. Beliau menyampaikan perlunya mengangkat peradaban Jawa. Bahkan kemudian tercatat sebagai Wakil Ketua Budi Utomo (1914-1923). Radjiman juga terpilih sebagai anggota Volksraad (1918-1921) dari unsur Budi Utomo. Ada pergeseran orientasi hidup, dari ruang kemanusiaan ke gerakan kebangsaan.

Berkat pertemuannnya dengan Bupati Sragen KRMT Panji Sumonegoro (1903-1933), Radjiman diminta menjadi dokter Keraton Surakarta. Pekerjaan di Dinas Gubermen dilepas dan mengabdi sebagai dokter keraton sampai 1934. Radjiman sempat memperdalam ilmu kedokteran di Amsterdam (1910), Berlin (1911), kembali kuliah di Amsterdam (1919-1920), dan Amerika (1930) serta Paris (1931). Radjiman tercatat merintis Rumah Sakit Panti Raga, yang kemudian menjadi Rumah Sakit Kadipolo. Sayangnya, meski menjadi bangunan cagar budaya, kondisinya kini tak terawat.

Sri Susuhunan Paku Buwono X amat terkesan dengan pengabdian Radjiman. Sinuwun kemudian menganugerahi gelar Kanjeng Raden Tumenggung Wedyodiningrat, sehingga nama lengkapnya menjadi KRT Radjiman Wedyodiningrat. Pensiun dari dokter pada usia 55 tahun, Radjiman memilih bercocok tanam di daerah dingin Tretes Jawa Timur selama lima tahun, lalu pindah ke Kampung Dirgo, Walikukun, Ngawi, Jawa Timur.

Sesuai janji politik pemimpin Jepang, dibentuklah Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 29 April 1945. Kecakapan dan kewibawaan Radjiman teruji di lembaga yang isinya para tokoh pergerakan ini. Radjiman dipilih bukan karena paling tua tetapi pengalaman dan pemahamannya atas sendi dasar kenegaraan. Dalam sebuah persidangan BPUPKI, setelah kurang puas dengan pidato beberapa anggota BPUPKI, Radjiman melontarkan pertanyaan, “Apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?”.

Ada tiga tokoh yang mampu menjawab pertanyaan menukik dari Radjiman. Pada 29 Mei 1945, Muhammad Yamin menjawabnya dengan mengusulkan lima dasar negara, yakni Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Pada 31 Mei 1945 Soepomo mengusulkan konsep negara integralistik dengan dasar Persatuan, Kekeluargaan, Keseimbangan lahir dan batin, Musyawarah, dan Keadilan sosial. Dan pada 1 Juni 1945 Soekarno mengusulkan lima dasar negara, yakni Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan yang berkebudayaan. Soekarno menamai lima dasar itu dengan Pancasila.

Pertanyaan Radjiman yang filosofis itu dijawab pula oleh ketiga tokoh dengan rangkaian paparan yang filosofis. Ada keseriusan dalam mendesain sebuah negara baru, yang bukan seperti Belanda atau Jepang. Ada harapan bahwa Indonesia yang kaya dan luas akan menjadi negara kuat. BPUPKI di bawah kepemimpinan Radjiman Wedyodiningrat kemudian membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dengan ketua Ir. Soekarno. Panitia ini kemudian membentuk Panitia Kecil (dikenal dengan Panitia Sembilan) yang berhasil menyepakati rumusan dasar negara sekaligus Preambule UUD 1945.

Bersama Bung Karno dan Bung Hatta, Radjiman sempat diundang Marsekal Terauchi (Panglima Bala Tentara Jepang di Asia Tenggara) di Dalat Vietnam pada 11Agustus 1945. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Radjiman terpilih menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Pada 1950-1952 sempat menjadi anggota DPR.

Pada pertengahan September 1952 Bung Karno sedang mengadakan kunjungan kerja di Surakarta. Mendapat kabar bahwa Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat meninggal dunia pada 20 September 1952, maka beliau mengubah semua rencana dan melayat ke rumah duka di Kampung Dirgo Widodaren Ngawi. Beliau amat kehilangan pada sosok yang sangat dihormati, bukan saja karena lebih senior tetapi kecakapan dan kewibawaan Radjiman yang mampu menakodai Indonesia menjelang kelahirannya. Bung Karno melepas jenazah KRT Radjiman Wedyodiningrat dengan berat dan sedih.

Jenazah KRT Radjiman Wedyodiningrat disemayamkan di Rumah Sakit Kadipolo Surakarta sebagai penghormatan atas dedikasi perjuangan beliau selama 28 tahun menjadi dokter keraton. Selanjutnya dibawa ke Mlati, Sleman, Yogyakarta dimakamkan di samping Dr. Ng. Wahidin Sudirohusudo, pamannya yang telah membukakan jalan hidup baginya.

Presiden Soeharto menetapkan 29 Mei sebagai Hari Lanjut Usia Nasional di Semarang pada 1996. Pertimbangannya terletak pada kepeloporan Dr. Radjiman Wedyodiningrat yang mampu memimpin BPUPKI pada masa krusial pada usia 66 tahun. Presiden Susilo Bambang Yudoyono kemudian menganugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 6 November 2013.

Pada 1 Juni 2026 bertempat di Museum Dr. Radjiman Wedyodiningrat digelar Festival Budaya Pancasila. Lokasinya berada di Desa Kauman, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Sebuah upaya untuk menjaga nyala api perjuangan sekaligus menghidupkan museum sebagai bagian pendidikan karakter bangsa.
(*)

Tags:
#BPUPKI #Budi Utomo #dr radjiman #pahlawan #radjiman wedyodiningrat #STOVIA
Male singer on stage, wearing a white robe and head wrap, holding a microphone and raising one arm.
PenulisWahjudi Djaja
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Silhouetted trees along the horizon under a dusky blue sky with a large pale sun low on the horizon Bluemoon Terlihat Biru saat Krakatau Meletus
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network