CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Revitalisasi Ketoprak: Ahmad Dahlan Jadi Simbol Cahaya dalam Karya Kreatif Inovatif

Penulis: Giffari Ighfirlana 5 Mei 2026 3 menit baca
Panel of five people seated at a conference table one man in batik and headscarf speaks into a microphone while others listen water bottles and yellow snack boxes on the table in a meeting room
Suasana Forum Group Discussion (FGD) bertajuk 'Penciptaan Karya Kreatif Inovatif ' (Istimewa)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Seni tradisi ketoprak kembali digelorakan melalui upaya kreatif yang memadukan akar budaya dengan semangat kebangsaan. Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Penciptaan Karya Kreatif Inovatif” baru-baru ini digelar di Kantor Dinas Kebudayaan Bantul, menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah, akademisi, tokoh budaya, hingga pelaku seni ketoprak.

Kegiatan ini digagas  Warsana SSN MSn, Dosen Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, yang juga merupakan penerima Program Pendanaan Indonesiana 2026 untuk kategori penciptaan karya inovatif yang digagas Kementerian Kebudayaan dan didanai LPDP. Acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Yanatun Yunadiana, serta Sekretaris Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Sarjiman SIP.

Dalam FGD, Warsana didampingi penulis naskah Susilo Nugroho, atau yang akrab dikenal sebagai Den Baguse Ngarso, memaparkan konsep karya terbaru berjudul “Suryaning Baskoro: Ahmad Dahlan sebagai Metafora Cahaya dalam Kehidupan Bangsa.” Karya ini menghadirkan figur K.H. Ahmad Dahlan sebagai simbol pencerahan, diolah melalui metafora “cahaya” yang merepresentasikan perjalanan bangsa.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Ketoprak kreasi ini memadukan berbagai elemen pertunjukan, mulai dari dramaturgi, musik tradisional, ekspresi tubuh, hingga tata cahaya. Pendekatan intersemiotik tersebut diharapkan mampu menyampaikan pesan secara simbolik dan emosional, sekaligus memperkaya pengalaman estetis penonton.

Keunikan karya ini terletak pada kemampuannya menjembatani warisan budaya lokal dengan narasi nasional yang inspiratif. Nilai-nilai kejujuran, keberanian, keterbukaan, dan semangat pembaruan yang melekat pada sosok Ahmad Dahlan diolah menjadi struktur dramatik yang menghibur, edukatif, sekaligus reflektif.

Dalam penulisan naskah, Susilo Nugroho menghadirkan perspektif “orang luar,” sehingga makna sosok Ahmad Dahlan bisa ditafsirkan secara lebih universal. Selain itu, penggunaan biola sebagai medium musikal menjadi simbol ekspresi lintas budaya, tanpa meninggalkan esensi tembang ketoprak. 

Tema pendidikan dan keagamaan menjadi benang merah, dengan penekanan pada dakwah yang inklusif, dialogis, dan harmonis. Hasilnya adalah naskah setebal 21 halaman dengan durasi pementasan antara 40–60 menit, dirancang sebagai ketoprak kreasi yang tetap menjaga unsur tradisional namun terbuka pada inovasi artistik.

Peserta FGD memberikan masukan konstruktif, termasuk pentingnya pemilihan pemeran yang tepat, penguatan unsur tembang, visualisasi tokoh yang lebih kuat, serta kemungkinan pengembangan karya menjadi serial. Diskusi juga menyinggung estetika penggunaan biola dalam konteks budaya ketoprak.

Menanggapi hal tersebut, Warsana dan Susilo menjelaskan bahwa penggunaan biola dimaksudkan untuk menghadirkan ekspresi universal, tetap selaras dengan tembang sebagai roh pertunjukan. Masukan terkait durasi, aspek visual, serta penguatan nilai religius dan kultural akan dijadikan bahan penyempurnaan dalam produksi selanjutnya.

Karya “Suryaning Baskoro” menjadi bukti bahwa ketoprak dapat bertransformasi menjadi media edukatif, reflektif, dan inspiratif, tanpa kehilangan akar tradisi.

Inisiatif ini sekaligus menegaskan bahwa seni tradisional tetap relevan sebagai ruang dialog kebangsaan dan sarana inovasi kreatif bagi generasi masa kini.

Tags:
#Budaya #FGD #Kethoprak #Pertunjukan #Seni budaya
PenulisGiffari Ighfirlana
Alumnus Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Budaya UIN Sunan Kalijaga
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Ilustrasi sampah Investasi Rp17 Triliun untuk Sampah Jakarta, Negara Ubah Krisis Lingkungan Jadi Instrumen Ekonomi
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network