CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Tradisi Tarawih PP Al Munawwir, Dua Kali Khatam di Bawah Cahaya Ramadhan

Penulis: dhiya 21 Feb 2026 3 menit baca
Tradisi tarawih di Masjid Jami' Al Munawwir PP Al Munawwir Krapyak Panggungharjo Sewon Bantul setiap hari 20 raka'at mengkhatamkan dia kali. Setiap hari 1,5 juz di 20 malam dan 3 juz setiap hari di 10 malam terakhir. Foto: Yuliantoro
Bagikan:
0

catrawarta.com - Rabu, 19 Februari 2026, menjelang malam, halaman Pesantren Al-Munawwir mulai dipenuhi jamaah. Tua-muda, laki-laki dan perempuan, berjalan menuju Masjid Jami’ Al-Munawwir. Malam itu, Tarawih Ramadhan 1447 H dimulai.

Dari mihrab, ayat demi ayat Al-Qur’an dibaca lancar oleh para imam yang hafal tiga puluh juz. Sepuluh rakaat pertama dipimpin KH. R. Abdul Hamid AQ, sepuluh rakaat berikutnya oleh Ustaz Abdul Jalil Muhammad. Setiap malam, 1,5 juz dituntaskan. Dalam waktu sekitar satu jam, dua puluh rakaat Tarawih dan tiga rakaat witir selesai. Pola ini dijaga sejak malam pertama. Tepat pada malam ke-20 Ramadhan, satu kali khatam tercapai.

Tradisi ini berakar panjang. Dalam catatan K.M. Mas’udi Fathurrahman pada buku Romo Kyai Qodir, disebutkan kebiasaan KH. Abdul Qodir, putra pendiri pesantren, yang membaca 1,5 juz setiap Tarawih dan mengkhatamkan Al-Qur’an tepat pada malam ke-20. Tradisi tersebut kemudian semakin menguat pada masa kepengasuhan KH. Ali Maksum dan terjaga hingga hari ini.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Pada malam ke-20 ratusan jamaah akan memadati masjid dua lantai itu hingga meluber ke halaman dan bangunan pondok di sampingnya. Usai tarawih dan witir, majelis tahlil digelar, dilanjutkan doa khatmil Qur’an dan makan bersama. Bagi para hadirin malam ke-20 bukan sekadar penanda selesai satu putaran bacaan Al Quran tapi juga menjadi tanda bahwa separuh Ramadhan telah dijalani dengan konsisten.

Memasuki sepuluh malam terakhir, bacaan digandakan menjadi tiga juz setiap malam. Durasi shalat memanjang hingga sekitar dua jam. Jamaah telah memahami pola ini. Mereka datang dengan persiapan fisik dan menjaga stamina. Meski punggung terasa pegal dan kaki letih, sholat  tetap ditegakkan. Ada kesadaran bahwa sepuluh malam terakhir adalah bagian penting Ramadhan.

Tarawih pada fase ini dipimpin KHR. Muhammad Najib Abdul Qodir, cucu pendiri pesantren. Ia membaca dengan metode hadr—cepat namun tetap tartil dan sesuai tajwid. Bacaan terjaga, tempo stabil, dan jamaah mengikuti dengan khusyuk. Pada malam-malam ganjil, jumlah jamaah meningkat. Banyak yang datang dari luar Krapyak untuk mengikuti khataman kedua hingga malam terakhir.

Sejak berdiri pada 1911, Al-Munawwir memusatkan pendidikan pada Al-Qur’an—hafalan dan ragam qira’at. KH. Muhammad Munawwir -Mbah Munawwir- pendiri pondok berpesan bahwa hafizh Al-Qur’an yang diakuinya adalah mereka yang berakhlak baik dan menjadikan hafalannya sebagai bacaan Tarawih. Hafalan tidak cukup disimpan, tetapi harus dipakai dalam ibadah.

Pesan itu dijaga dari generasi ke generasi. Di Krapyak, Ramadhan bukan hanya bulan puasa. Dua kali khatam adalah tradisi baik yang dijalankan bersama, menempatkan Al-Qur’an dalam ibadah keseharian.

Masjid Jami’ Al Munawwir PP Al Munawwir Krapyak Panggungharjo Sewon Bantul – Foto: Yuliantoro
Majelis Ilmu Kitab Kuning Bakda Subuh selama Bulan Ramadhan. Foto: Yuliantoro

Tags:
#Al Munawwir #Khatam #PP Krapyak #ramadhan #Tarawih
Penulisdhiya
Jurnalis lulusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga 2025.
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Tingkatkan Kewaspadaan, Kematian akibat Virus Nipah Capai 75 Persen
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network