CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Wayang Ajen, Inovasi Wayang Golek Mendunia

Penulis: Siswantini Suryandari 13 Jun 2026 5 menit baca
Diperbarui Juni 13, 2026
Lahir sebuah inovasi bernama wayang ajen yang digagas oleh wawan gunawan atau ki wawan ajen
Pertunjukan Wayang Ajen oleh dalang Ki Wawan Ajen. (dok. Wawan Ajen)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Jawa Barat dikenal sebagai tanah kelahiran wayang golek dengan sejumlah dalang legendaris seperti Asep Sunandar Sunarya, Dadan Sunandar, Cecep Supriadi, dan Ade Kosasih. Di tengah tradisi yang kuat tersebut, lahir sebuah inovasi bernama Wayang Ajen yang digagas oleh Wawan Gunawan atau Ki Wawan Ajen.

Gagasan Wayang Ajen muncul saat Wawan menempuh pendidikan S-1 Seni Pertunjukan, khususnya seni pedalangan, di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 1992. Selama kuliah, ia menemukan bahwa tradisi wayang golek tidak hanya berkembang di Jawa Barat, tetapi juga ditemukan di sejumlah daerah lain seperti Kebumen dan Yogyakarta.

Saat itu, nama-nama dalang besar sudah memiliki identitas yang kuat. Setiap pertunjukan wayang selalu melekat dengan karakter sang dalang. Berangkat dari situ, Wawan yang bercita-cita menjadi dalang mulai memikirkan ciri khas yang dapat menjadi identitas dirinya.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Ia kemudian berkonsultasi dengan Prof. Arthur Supardan Nala, Guru Besar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang saat itu masih bernama STSI Bandung.

“Saya bertanya kepada Pak Arthur, setelah lulus saya harus membawa apa ketika kembali ke Bandung. Beliau berpesan, ‘Wawan harus membawa sesuatu yang berbeda’,” kata Wawan, Jumat (12/6/2026).

Pesan tersebut menjadi titik awal lahirnya Wayang Ajen. Wawan kemudian menciptakan konsep baru yang menggabungkan unsur wayang, musik, tari, dan tata panggung dalam satu pertunjukan yang lebih dinamis.

Ki wawan ajen bersama karya inovasinya wayang jumbo d'Bring. (dok Wawan Ajen)
Ki Wawan Ajen bersama karya inovasinya Wayang Jumbo D’Bring. (dok Wawan Ajen)

Nama Wayang Ajen sendiri diberikan oleh Arthur. Kata “Ajen” berasal dari istilah Sunda “ajenan” yang berarti menghargai atau memberi nilai terhadap berbagai cabang seni yang dipadukan dalam pertunjukan tersebut.

Menurut Wawan, inovasi dalam dunia wayang bukan hal baru. Berdasarkan hasil risetnya, setiap generasi dalang selalu menghadirkan pembaruan yang kemudian menjadi pakem masing-masing.

“Yang membedakan Wayang Ajen dengan wayang golek lainnya adalah konsep dramaturgi. Semua pertunjukan dibangun berdasarkan riset. Saya tidak melanggar pakem para pendahulu, tetapi saya juga memiliki pakem sendiri,” ujarnya.

Pakem Spirit Sapta Ajen

Pakem tersebut disebut Spirit Sapta Ajen, yakni tujuh nilai yang menjadi landasan setiap pertunjukan, meliputi spiritualitas, budaya, kreativitas, ekonomi, komunikasi, komitmen, dan keberlanjutan. Setiap lakon yang dipentaskan harus mengandung ketujuh nilai tersebut.

Perjalanan memperkenalkan Wayang Ajen tidak selalu mudah. Pada awal kemunculannya, Wawan menghadapi kritik dan penolakan dari sebagian kalangan pecinta wayang maupun sesama dalang. Namun ia tetap konsisten melakukan riset dan inovasi.

“Dua tahun pertama penuh tantangan, lima tahun mulai stabil, dan setelah 10 tahun konsisten, Wayang Ajen akhirnya diterima,” katanya.

Konsistensi tersebut membuahkan hasil. Wayang Ajen telah tampil di berbagai negara di Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Timur, hingga Eropa. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika tampil di Siberia dalam sebuah festival yang didukung UNESCO.

Wayang Ajen juga meraih penghargaan internasional, termasuk medali emas dalam kompetisi seni budaya di Vietnam dan Prancis. Bagi Wawan, inovasi tidak berarti meninggalkan tradisi. Ia meyakini seni bersifat dinamis dan selalu berkembang mengikuti zaman.

“Wayang harus mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat tanpa kehilangan ruh dan nilai budayanya,” ujarnya.

Prinsip inovasi, adaptasi, kolaborasi, implementasi, dan keberlanjutan menjadi dasar pengembangan Wayang Ajen. Tokoh-tokoh pewayangan klasik tetap dipertahankan, namun dikemas dengan cerita yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Melalui tokoh Pandawa dan Kurawa, misalnya, Wawan mengangkat berbagai isu kontemporer seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), korupsi, hingga kesenjangan akses pendidikan.

“Saya meminjam tokoh-tokoh pewayangan untuk menyampaikan pesan yang dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini,” katanya.

Selain menghadirkan karakter ikonik bernama Ajen, Wayang Ajen juga memiliki dua tokoh komikal, SIGA (Si Gacor dan Si Gayor). Kedua tokoh tersebut digambarkan sebagai sosok kritis, jujur, cerdas, merakyat, tetapi kerap menjadi korban kesewenang-wenangan kaum yang berkuasa.

Young dancer in ornate red traditional costume and gold headdress performing a martial arts pose on a colorful stage
Pertunjukkan wayang Ajen dengan pencahayaan dan tari golek. (dok Wawan Ajen)

Bahasa Fleksibel

Dari sisi bahasa, Wayang Ajen bersifat fleksibel dan tidak terbatas pada bahasa Sunda. Pengalaman membuka sekolah dalang di berbagai daerah membuat Wawan memberi kebebasan kepada murid-muridnya menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Di Bekasi, misalnya, seorang murid dari keluarga Batak diperbolehkan mendalang menggunakan bahasa Batak. Sementara seorang mahasiswa Sastra Rusia Universitas Indonesia pernah membawakan pertunjukan menggunakan bahasa Rusia untuk komunitas penutur bahasa tersebut.

Bahkan, Wawan pernah menampilkan dalang cilik yang menggunakan empat bahasa sekaligus, yakni bahasa pedalangan, bahasa Indonesia, Mandarin, dan bahasa Inggris. Ia pun akan merancang cerita yang dibawakan oleh orang Yunani dengan bahasa Yunani, karena negara tersebut memiliki pertunjukkan teater boneka sejak ribuan tahun lalu.

“Bahasa pedalangan tetap dipakai, tetapi suluk disesuaikan dengan karakter penonton. Generasi Z umumnya tidak menyukai suluk yang terlalu panjang,” ujarnya.

Inovasi juga dilakukan pada unsur musik. Lagu-lagu yang digunakan disesuaikan dengan selera penonton. Salah satu eksperimennya adalah menampilkan tokoh Cepot bermain skateboard dengan iringan lagu La Bamba yang dipadukan dengan irama kendang Sunda.

Konsep tersebut mendapat sambutan meriah dari penonton dan kemudian dikembangkan dalam berbagai pertunjukan Wayang Ajen. Pada aspek visual, pertunjukan didukung teknologi modern seperti layar LED berukuran besar, tata cahaya digital, hingga efek visual yang memperkuat suasana pementasan.

Inovasi lainnya adalah penciptaan Wayang Jumbo D’Bring, yaitu wayang golek tiga dimensi berukuran besar yang menjadi daya tarik tersendiri dalam setiap pertunjukan.

Profil Singkat Wawan Gunawan

Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M. lahir di Ciamis pada 11 Desember 1969. Selain dikenal sebagai dalang dan budayawan, ia juga merupakan akademisi dan birokrat yang memiliki pengalaman panjang di bidang pariwisata dan kebudayaan.

Sejak Januari 2025, ia menjadi dosen Program Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung. Di pemerintahan, Wawan pernah menjabat sebagai Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata (2015–2018) dan Direktur Pengembangan Destinasi Pariwisata pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI (2018–2023).

Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Seni Pertunjukan di ISI Yogyakarta, Magister Manajemen di Institut Pengembangan Wiraswasta Indonesia (IPWIJA) Jakarta, serta meraih gelar doktor bidang Kajian Budaya dan Pariwisata dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran pada 2015.

Tags:
#Jawa Barat #kesenian wayang #Ki Wawan Ajen #Wayang Ajen #Wayang Golek
Siswantini Suryandari
PenulisSiswantini Suryandari
Jurnalis senior, alumi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada
Male singer on stage, wearing a white robe and head wrap, holding a microphone and raising one arm.
EditorWahjudi Djaja
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Daftar lima tuntutan publik indonesia hentikan pemborosan apbn turunkan harga kebutuhan pokok dan bbm hentikan program mbg dan pembangunan koperasi desa merah putih hentikan militerisme di ranah sipil prabowo berhenti mengelak dan mengakui kesalahannya Aliansi Rakyat Memanggil Gelar Aksi di Jogja
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network