CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Milenia

Tragedi Buku & Pena di Nusa Tenggara Timur

Penulis: dhiya 4 Feb 2026 3 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Ilustrasi kasus anak SD di NTT bunuh diri.
Bagikan:
0

catrawarta.com - Di selembar kertas lusuh, seorang anak sekolah dasar menulis perpisahan. Huruf-hurufnya sederhana, tidak rapi, namun jujur dan menyayat. Di samping kalimat-kalimat itu, tergambar sosok kecil yang menangis—dirinya sendiri. Bukan ilustrasi tugas sekolah, melainkan bahasa batin seorang anak yang kelelahan menanggung rasa kecewa.

Anak itu berinisial YBR. Usianya terlalu dini untuk memahami arti putus asa, tetapi cukup dewasa untuk merasakan kekecewaan yang tak tertanggungkan. YBR menulis surat itu untuk ibunya, Mama Reti. “Mama galo zee,” tulisnya. (Mama pelit sekali).

Kalimat tersebut bukan tuduhan bernalar dewasa. Dengan bahasa polos anak itu sedang berusaha memahami keterbatasan hidup. Di baris berikutnya, nada surat berubah. Lebih lembut, lebih pasrah. “Mama baik sudah. Kalau saya meninggal, mama jangan menangis. Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya. Selamat tinggal, Mama.”

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Milenia Mantan Model Auk Murat Meninggal Dunia, Dimakamkan di TPU Kampung Kandang →
  2. Catra Milenia MotoGP Indonesia 2026 di Mandalika Dimulai Hari Ini  →
  3. Catra Milenia Israel Houghton Batal Tampil di Jakarta, Menko Kumham Imipas Tegaskan RI di Sisi Palestina  →
  4. Catra Milenia Ketika Leonardo DiCaprio Miris Saksikan Nasib Orangutan di Kalimantan  →
  5. Catra Milenia Indonesia Tembus 10 Top Negara di Berlin Marathon, Kedubes Jerman di RI: Visa 1.005 WNI Dirilis →

Tak ada amarah berlebihan. Tak ada ancaman. Yang ada justru permohonan agar sang ibu tidak bersedih. Sebuah paradoks yang menyakitkan. Seorang anak kecil mencoba menghibur orang dewasa, bahkan saat ia hendak mengakhir hidupnya.

Belum ada kepastian tunggal tentang pemicu tragedi ini. Namun kabar yang beredar menyebutkan kekecewaan YBR bermula dari permintaannya akan buku tulis dan pena yang tidak terpenuhi. Benda-benda kecil yang bagi sebagian orang nyaris tak berarti, tetapi bagi seorang anak adalah jembatan menuju dunia belajar—dan pengakuan bahwa mimpinya layak diperjuangkan.

Bahasa Anak, Luka Orang Dewasa

Anak-anak memiliki kepekaan emosional yang tinggi dan nalar yang kritis dengan caranya sendiri. Mereka mengekspresikan perasaan melalui tulisan dan gambar—sebagai protes, permohonan, sekaligus bentuk kreativitas. Kertas bagi mereka bukan sekadar alat belajar, melainkan ruang aman untuk bersuara.

Masalah sering kali tidak berhenti pada permintaan yang tak terpenuhi, melainkan pada cara keterbatasan itu disampaikan. Ketika orang tua—dalam tekanan ekonomi dan kelelahan hidup—menjawab dengan bentakan atau kekerasan, emosi anak dan orang tua saling berbenturan. Tak ada yang menang. Anak terluka, orang tua pun memikul penyesalan yang datang terlambat.

Padahal, anak-anak sejatinya mampu berempati. Mereka bisa menerima penjelasan tentang keterbatasan jika disampaikan dengan bahasa kasih, dengan perhatian, dengan upaya melihat dari sudut pandang mereka terlebih dahulu—sebelum logika dewasa dipaksakan masuk ke perasaan kecil yang sedang bergolak. Kepercayaan anak kepada orang tua itu rapuh. Sekali retak, yang tersisa hanyalah rasa bersalah dan kehilangan arah.

Negara yang Memberi Makan Perut

Ironis. Kita hidup di negeri yang mengklaim keberpihakan pada anak. Sekolah dasar disebut gratis. Program makan siang digulirkan. Perut anak diperhatikan. Namun buku dan pena tetap harus dibeli. Makanan tersedia di sekolah, tetapi alat untuk berpikir—untuk belajar, menulis, dan bermimpi—tak selalu terjangkau keluarga miskin. Negara memberi makan tubuh, tetapi belum sepenuhnya memberi makan otak, apalagi nurani.

Bagi keluarga yang hidup “hari ini untuk makan hari ini”, kasih sayang bukan tidak ada. Ia hanya sering tak sempat tersampaikan. Tak menemukan cara menjembatani harapan seorang anak kecil yang mungkin saat itu hanya ingin satu buku dan satu pena.

Tragedi ini bukan soal harga sepuluh ribu rupiah. Ia adalah akumulasi kekecewaan yang lama tertahan—tentang rasa bersalah yang pelan-pelan melucuti semangat dan daya hidup seorang anak. Tentang dunia yang terlalu berat bagi bahu kecil.

Selamat jalan, adik kecil. Semoga engkau berpindah ke dunia yang tak mengenal lapar dan keterbatasan. Dan semoga, di dunia yang kita tinggali hari ini, lebih banyak mata yang terbuka, telinga yang mau mendengar, dan tangan yang ringan membantu—agar tak ada lagi surat perpisahan yang ditulis dengan huruf anak-anak.

Tags:
#anak SD #bunuh diri #kecewa #Negara #nusa tenggara timur
Penulisdhiya
Jurnalis lulusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga 2025.
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Milenia

Emas Setelah 28 Tahun, Prabowo Telepon Tim Bulu Tangkis Indonesia

Siswantini Suryandari • 25 Sep 2026
Catra Milenia

Mantan Model Auk Murat Meninggal Dunia, Dimakamkan di TPU Kampung Kandang

Siswantini Suryandari • 9 Okt 2026
Catra Milenia

MotoGP Indonesia 2026 di Mandalika Dimulai Hari Ini 

Mutia • 9 Okt 2026
Catra Milenia

Israel Houghton Batal Tampil di Jakarta, Menko Kumham Imipas Tegaskan RI di Sisi Palestina 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Milenia

Ketika Leonardo DiCaprio Miris Saksikan Nasib Orangutan di Kalimantan 

Mutia • 4 Okt 2026
Catra Milenia

Indonesia Tembus 10 Top Negara di Berlin Marathon, Kedubes Jerman di RI: Visa 1.005 WNI Dirilis

Mutia • 30 Sep 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Kasus pembunuhan brigadir polisi nofriansyah yosua hutabarat atau brigadir j kembali menjadi perhatian setelah diangkat dalam film dokumenter skenario sang jenderal general mayhem the killing of brigadier j
Catra Milenia

Skenario Sang Jenderal, Film Dokumenter Kasus Brigadir J Nomor 1 di Netflix Indonesia

Siswantini Suryandari • 25 Sep 2026
Nene royal di panggung americas got talent 2026
Catra Milenia

Nene Royal Diguyur Rp18 Miliar, Keluarga Tajir Thailand Tambah Hadiah Mewah 

Mutia • 25 Sep 2026
Female singerguitarist performing on a stage under red lights with a striped backdrop behind her
Catra Milenia

Nene Royal Jadi Juara America’s Got Talent 2026, Orang Thailand Pertama yang Guncang Panggung Amerika 

Mutia • 25 Sep 2026
Presiden prabowo subianto menghubungi tim bulu tangkis indonesia melalui sambungan telepon untuk menyampaikan apresiasi dan memberikan semangat kepada para atlet yang tengah berjuang membawa nama merah putih di asian games 2026 aichi nagoya jepang
Catra Milenia

Emas Setelah 28 Tahun, Prabowo Telepon Tim Bulu Tangkis Indonesia

Siswantini Suryandari • 25 Sep 2026
Di sebuah desa terpencil di tepian sungai kapuas kalimantan barat hutan bukan sekadar bentang alam
Catra Milenia

Ketika Warga Dibayar untuk Mengamati Satwa, KehatiKu Jaga Hutan dari Nanga Embaloh

Siswantini Suryandari • 19 Sep 2026
Meta meluncurkan fitur pengawasan orang tua parental supervision di threads untuk kawasan asia pasifik
Catra Milenia

Meta Perketat Pengawasan Remaja di Threads, Kini Hadir di Asia Pasifik

Siswantini Suryandari • 18 Sep 2026
Tur ed sheeran di amerika utara dan selatan mengalami perubahan setelah empat musisi pendukung memutuskan mundur sebagai bentuk solidaritas terhadap rapper macklemore yang dikeluarkan dari rangkaian tur karena pernyataan pro palestina di atas panggung
Catra Milenia

Empat Musisi Mundur dari Tur Ed Sheeran, Solidaritas untuk Macklemore

Siswantini Suryandari • 16 Sep 2026
Two men backstage laughing together one wears glasses and a hooded jacket the other in a black shirt with a dog tag necklace
Catra Milenia

Oasis, Don’t Look Back in Anger: ketika Dua Saudara Kembali Menemukan Jalan Pulang

Siswantini Suryandari • 14 Sep 2026
0
Follow us on
Up Next: Pemerintah Tegaskan Komitmen Transformasi Ekonomi Perbatasan Papua
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network