catrawarta.com - Pemerintah dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diminta bersiap menghadapi ancaman krisis air yang kian membayangi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi DIY secara resmi menetapkan status ”Awas” atas potensi bencana kekeringan meteorologis yang meluas di seluruh kabupaten dan kota se-DIY.
Peringatan dini tersebut berlaku efektif mulai Dasarian I September 2026 seiring menguatnya anomali iklim di wilayah selatan ekuator.
Kondisi cuaca ekstrem yang membakar wilayah Yogyakarta tersebut dipicu oleh tingginya aktivitas fenomena El Nino yang melintasi samudra. Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY, Mamenun, membeberkan bahwa hasil pemantauan indikator fisis atmosfer dan dinamika laut pada akhir Agustus menunjukkan peningkatan skala ancaman yang tidak bisa dianggap remeh.
”Indeks ENSO (El Nino Southern Oscillation) saat ini berada dalam kondisi sangat kuat dan berpeluang berlangsung hingga awal tahun 2027 mendatang,” ujar Mamenun pada Senin (31/8/2026).
DIY Kering hingga Dua Bulan
Selain tingginya indeks ENSO, Monsun Australia yang membawa hembusan angin timur terpantau mendominasi wilayah Indonesia bagian selatan. Walaupun anomali suhu muka air laut di Perairan Selatan DIY tercatat berada pada kisaran 26°C hingga 28°C atau kategori netral hingga hangat, fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) justru tidak aktif. Kondisi ini diperparah oleh Dipole Mode Index (DMI) yang berpotensi bergeser ke fase positif hingga akhir tahun nanti.
Kombinasi berbagai anomali atmosfer tersebut mengunci pembentukan awan dan menekan intensitas curah hujan di DIY secara drastis. Mamenun menyebutkan bahwa sebagian besar wilayah Yogyakarta akan mengalami masa-masa paling kering selama dua bulan ke depan.
”Jadi selama bulan September hingga Oktober 2026, prediksinya akumulasi curah hujan hanya berkisar 0 hingga 20 mm per bulan. Kondisi musim kemarau tahun 2026 ini diprediksi jauh lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya,” tegas Mamenun.
Hujan pada November
Lebih lanjut, BMKG mencatat sebanyak 87,5 persen wilayah zona musim di DIY dipastikan mengalami sifat hujan Bawah Normal (BN) dengan durasi kemarau yang berlangsung panjang, yakni berkisar antara 19 hingga 21 dasarian.
Peningkatan curah hujan diperkirakan baru akan mulai terasa memasuki bulan November 2026 dengan akumulasi sekitar 100 mm, yang sekaligus menandai berakhirnya musim kemarau pada dasarian I dan II November dengan total curah hujan 250 hingga 400 mm.
Menghadapi potensi bencana yang mengintai sektor pertanian, pasokan air bersih, serta ancaman kebakaran hutan dan lahan, BMKG meminta seluruh pemangku kebijakan di DIY untuk segera mengambil tindakan penanganan darurat dan langkah mitigasi yang terukur.
”Kami mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk segera mengantisipasi dampak kekeringan ini melalui pengelolaan sumber daya air secara bijak dan efisien, serta menyesuaikan ragam aktivitas sesuai kondisi wilayah masing-masing,” tutur Mamenun memungkasi.









