CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Warta

Bonobo dan Mitos Dominasi Jantan

Penulis: dhiya 14 Feb 2026 3 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Bonobo
Bonobo.
Bagikan:
0

Di hutan Afrika Tengah, betina memimpin kelompok dan kekerasan nyaris tak terjadi. Sebuah cermin sunyi bagi peradaban manusia yang masih memuja kuasa maskulin.

catrawarta.com - Pagi itu, seekor bonobo jantan muda mencoba merebut buah dari tangan betina dewasa. Gerakannya agresif, seolah siap memicu perkelahian. Namun sebelum keributan pecah, dua betina lain merapat, berdiri bahu-membahu membentuk aliansi sunyi. Si jantan berhenti, lalu mundur. Tak ada pukulan. Tak ada teriakan. Konflik reda hanya dalam hitungan detik.

Di hutan tropis Republik Demokratik Kongo, kekuasaan tidak ditentukan oleh otot, melainkan oleh solidaritas. Dominasi jantan—yang lama kita anggap hukum alam—ternyata hanya mitos.

Bonobo adalah salah satu kerabat genetik terdekat manusia. Kesamaan DNA keduanya mencapai 98–99 persen. Secara biologis, jarak kita dengan mereka nyaris setipis garis rambut. Namun dari selisih tipis itulah lahir perbedaan sosial yang mencolok.

Baca Juga
5 artikel
  1. Warta Pernikahan Gusti Sura dan Adimas Rosdian November 2026, Padukan Adat Mangkunegaran dan Tradisi Katolik? →
  2. Warta Cuaca Ekstrem Mengintai Jabodetabek 10-11 Oktober, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak →
  3. Warta Tiga Kakak Beradik Meninggal Ditabrak Truk Saat Pastikan Sekolah Libur akibat Kabut Asap Karhutla →
  4. Warta Yusril: Silahkan Polisi hingga KPK Usut Klaster Mewah Lapas Cibinong →
  5. Warta Rocky Gerung Singgung Posisi Wantimpres Saat Komentari Polemik Ijazah Gibran →

Jika banyak spesies primata mengandalkan hierarki keras dan adu kekuatan, bonobo justru membangun masyarakat yang relatif egaliter. Betina membentuk koalisi, saling berbagi makanan, merawat anak bersama, dan secara kolektif membatasi agresivitas jantan. Posisi sosial tidak semata ditentukan oleh tubuh paling besar, melainkan oleh jejaring relasi.

Primatolog Frans de Waal, yang meneliti perilaku kera besar selama puluhan tahun, menggambarkan bonobo sebagai primata paling kooperatif. Dalam banyak pengamatannya, konflik di antara mereka jarang berujung kekerasan. Ketegangan justru diredakan lewat sentuhan, afeksi, dan kedekatan sosial. “Hubungan sosial lebih penting daripada kekuatan fisik,” tulisnya dalam berbagai publikasi ilmiah.

Dengan kata lain, yang berkuasa adalah yang mampu merawat hubungan, bukan yang paling menakutkan.

Bandingkan dengan manusia.

Sejarah peradaban kita nyaris selalu ditulis oleh dominasi maskulin: perang, perebutan wilayah, perebutan tahta. Politik identik dengan adu kuasa. Kepemimpinan sering dimaknai sebagai kemampuan menundukkan lawan. Dari ruang rapat hingga medan tempur, agresi dianggap sifat alamiah.

Patriarki pun lama dibenarkan sebagai “kodrat biologis”—seolah-olah laki-laki memang ditakdirkan memimpin karena evolusi.

Namun bonobo menghadirkan bantahan yang sunyi.

Jika spesies dengan DNA hampir sama dapat membangun komunitas yang stabil di bawah koalisi betina, maka dominasi jantan jelas bukan satu-satunya jalan yang disediakan alam. Ia mungkin hanya konstruksi budaya yang kita wariskan turun-temurun.

Pada bonobo, jantan yang terlalu agresif justru tersisih. Tanpa dukungan sosial betina, mereka kehilangan akses pada makanan dan pasangan. Kekerasan menjadi strategi yang merugikan. Yang bertahan adalah empati dan kerja sama.

Primatolog Jane Goodall pernah menyebut kera besar sebagai cermin evolusi manusia. Dari mereka, kita bisa membaca bukan hanya masa lalu, tetapi juga kemungkinan masa depan: tentang bagaimana masyarakat dapat hidup dengan lebih sedikit ketakutan dan lebih banyak solidaritas.

Sayangnya, ironi tak terhindarkan.

Spesies yang mungkin paling damai itu justru berada di ambang kepunahan. Lembaga konservasi International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan bonobo dalam daftar terancam punah. Deforestasi, perburuan liar, dan konflik bersenjata terus menggerus habitat mereka. Hutan tempat mereka berbagi buah kini berubah menjadi tambang dan kebun industri.

Manusia—spesies yang gemar berperang—justru mengancam keberadaan primata yang hampir tak mengenal perang.

Kontras itu terasa getir.

Kita menyebut diri makhluk paling rasional. Kita membangun kota, teknologi, dan sistem hukum. Namun dalam urusan paling dasar—mengelola konflik tanpa kekerasan—barangkali kita masih tertinggal dari sepupu jauh di hutan Afrika.

Bonobo tak mengenal istilah kesetaraan gender, tak menulis konstitusi, tak menggelar seminar tentang kepemimpinan inklusif. Mereka sekadar hidup dengan satu prinsip sederhana: bertahan bersama lebih penting daripada menang sendiri.

Mungkin, selama ini kita keliru membaca alam. Bukan kekuatan yang membuat spesies bertahan, melainkan kemampuan bekerja sama.

Di bawah kanopi hutan yang lembap itu, mitos dominasi jantan runtuh pelan-pelan. Dan dari sana, sebuah pertanyaan mengendap: jika bonobo bisa membangun dunia yang lebih lunak dan setara, mengapa manusia tidak?

Tags:
#biologi #bonobo #fauna #hewan #konservasi #Sains #satwa liar
Penulisdhiya
Jurnalis lulusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga 2025.
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Warta

Prabowo Lantik Pratikno sebagai Kepala Wantimpres, Rocky Gerung Jadi Anggota

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
Warta

Jokowi Hormati Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran

Siswantini Suryandari • 8 Okt 2026
Warta

Tiga Kakak Beradik Meninggal Ditabrak Truk Saat Pastikan Sekolah Libur akibat Kabut Asap Karhutla

Wiwit • 10 Okt 2026
Warta

Denny Indrayana: KPU Korbankan Independensi demi Loloskan Gibran

Siswantini Suryandari • 6 Okt 2026
Warta

Bupati Gowa Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan Izin dan TPPU

Siswantini Suryandari • 30 Sep 2026
Warta

Cuaca Ekstrem Mengintai Jabodetabek 10-11 Oktober, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak

Wiwit • 10 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Two men balance on a pile of branches in a smoke filled forest one wearing a uniform and face mask the other in a brown shirt nearby
Warta

Palangka Raya Perpanjang Status Darurat, Warga Luapkan Keluh Kesah Hadapi Kabut Asap Karhutla

Wiwit • 10 Okt 2026
Two story brick house with white and blue accents turquoise balcony railing and arched windows
Warta

BGN Tegaskan Bangunan Tempat Penemuan Mayat Terborgol di Kendal Bukan Dapur MBG

Wiwit • 10 Okt 2026
Kebakaran hutan dan lahan
Warta

Bendung Api Karhutla, BNPB Uji Material Realiza Anti Chamas 

Mutia • 10 Okt 2026
Ilustrasi orangutan
Warta

Orangutan Korban Karhutla di Kalbar Dipulangkan ke Habitat Alami di Batu Nyambu

Mutia • 10 Okt 2026
Gunungkidul night carnival 2026
Catra Wisata

Gunungkidul Night Carnival di Wonosari Hari Ini 10 Oktober 2026, Catat Rutenya 

Mutia • 10 Okt 2026
Untuk mencegah bertambahnya angka perceraian kantor urusan agama kua kecamatan kaliori bekerja sama dengan takmir masjid menghadirkan inovasi kurma
Warta

KUA Kaliori Buka Konsultasi Keluarga di Masjid, Tekan Angka Perceraian

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
Selama 15 tahun pilot berkostum bangau menggunakan pesawat ultraringan untuk mengajari anak anak bangau amerika whooping crane bermigrasi dari wisconsin menuju florida amerika serikat
Catra Cendekia

Pulihkan Populasi, Pilot Berkostum Bangau Ajari Burung Langka Bermigrasi ke Florida

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
Sebanyak 2 762 perusahaan atau 504 persen dari total 5 476 perusahaan yang mengikuti program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup proper 20242025 masih memperoleh peringkat merah
Catra Cendekia

50,4 Persen Perusahaan Peserta PROPER 2025 masih Berperingkat Merah

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Logo Hari Jadi ke-271 DIY, Sarat Falsafah Jawa
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network