CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Warta

Indonesia–Jepang Perkuat Kerja Sama Konservasi Orangutan, Bagaimana Kondisi Populasinya di Alam?

Penulis: dhiya 18 Jan 2026 4 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Pendiri taman safari indonesia tsi jansen manansang kiri berfoto bersama gubernur prefektur ehime jepang tokihiro nakamura tengah dan direktur konservasi spesies dan genetik direktorat jenderal konservasi sumber daya alam dan ekosistem ksdae kementerian kehutanan ahmad munawir kanan saat kerjasama internasional program cooperative breeding untuk konservasi orangutan di tsi cisarua bogor jawa barat jumat 1612026 Tsi memperkuat kerja sama dengan jepang dalam upaya konservasi satwa orangutan melalui program cooperative breeding yang bertujuan meningkatkan satwa orangutan dan mencegah kepunahan serta membina hubungan baik antara indonesia dan jepang Antara megapolitanarif firmansyah
Pendiri Taman Safari Indonesia (TSI) Jansen Manansang (kiri) berfoto bersama Gubernur Prefektur Ehime, Jepang Tokihiro Nakamura (tengah) dan Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan Ahmad Munawir (kanan) saat kerjasama internasional program Cooperative Breeding untuk konservasi orangutan di TSI, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Jumat (16/1/2026). TSI memperkuat kerja sama dengan Jepang dalam upaya konservasi satwa orangutan melalui program Cooperative Breeding yang bertujuan meningkatkan satwa orangutan dan mencegah kepunahan serta membina hubungan baik antara Indonesia dan Jepang. ANTARA Megapolitan/Arif Firmansyah.
Bagikan:
0

catrawarta.com - Kerja sama internasional untuk konservasi orangutan kembali menjadi sorotan setelah Kerja sama internasional konservasi orangutan di Taman Safari Bogor digelar di Taman Safari Indonesia, Bogor pada Jumat, 16 Januari 2026. Dalam kesempatan itu, Taman Safari Indonesia (TSI) melakukan program Cooperative Breeding bersama Tobe Zoo dari Prefektur Ehime, Jepang, termasuk mengirim seekor orangutan betina bernama Jennifer untuk dijodohkan dengan pejantan di Jepang sebagai bagian dari upaya menjaga keanekaragaman genetik spesies ini.

Inisiatif seperti ini bukan sekadar pertukaran satwa di kebun binatang. Ia mencerminkan ketergantungan strategis pada kolaborasi lintas negara demi masa depan primata endemik Asia Tenggara yang semakin terancam punah.

Tiga Spesies Orangutan Di Ambang Risiko

Orangutan merupakan salah satu primata besar yang hanya ditemukan di Asia Tenggara, tepatnya di pulau Sumatra dan Borneo. Ilmuwan membedakan tiga spesies dengan status konservasi yang berbeda namun semuanya terancam serius:

Baca Juga
5 artikel
  1. Warta Pernikahan Gusti Sura dan Adimas Rosdian November 2026, Padukan Adat Mangkunegaran dan Tradisi Katolik? →
  2. Warta Cuaca Ekstrem Mengintai Jabodetabek 10-11 Oktober, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak →
  3. Warta Tiga Kakak Beradik Meninggal Ditabrak Truk Saat Pastikan Sekolah Libur akibat Kabut Asap Karhutla →
  4. Warta Yusril: Silahkan Polisi hingga KPK Usut Klaster Mewah Lapas Cibinong →
  5. Warta Rocky Gerung Singgung Posisi Wantimpres Saat Komentari Polemik Ijazah Gibran →

1. Orangutan Bornean (Pongo pygmaeus)

Orangutan Bornean
  • Status IUCN: Endangered
  • Perkiraan populasi di alam: ±104.700 individu.
  • Ancaman utama: Deforestasi untuk perkebunan kelapa sawit, pembalakan liar, dan fragmentasi habitat.
    Spesies ini tersebar di berbagai bagian Kalimantan tetapi menghadapi tekanan kehilangan hutan yang tinggi.

2. Orangutan Sumatran (Pongo abelii)

Orangutan Sumatra
  • Status IUCN: Critically Endangered
  • Perkiraan populasi di alam: ±13.000–14.000 individu.
  • Ancaman utama: Konversi hutan primer menjadi lahan pertanian dan perkebunan sawit.
    Spesies ini hidup di hutan utara Sumatra dan kini hanya ditemukan di wilayah yang semakin terfragmentasi.

3. Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)

Orangutan Tapanuli
  • Status IUCN: Critically Endangered (tertinggi dari tiga spesies)
  • Perkiraan populasi di alam: kurang dari 800 individu.
  • Ancaman utama: Kerusakan habitat dan fragmentasi akibat pembangunan infrastruktur, termasuk proyek energi yang memecah hutan.
    Sebagai spesies yang secara resmi diakui ilmuwan terakhir (1997) dan memiliki populasi paling kecil, Tapanuli berada dalam risiko kepunahan yang sangat tinggi.

Kerja Sama Internasional: Upaya Tapi Tak Cukup

Program Cooperative Breeding antara Indonesia dan Jepang menggambarkan salah satu upaya yang lebih taktis: mempertahankan keragaman genetik populasi orangutan melalui kolaborasi global, bukan hanya konservasi habitat lokal. Pada acara di Bogor, Gubernur Prefektur Ehime, Tokihiro Nakamura, hadir untuk menandai kerja sama tersebut — sebuah simbol penting hubungan bilateral melalui konservasi satwa.

Kolaborasi semacam ini penting karena:

  • Populasi orangutan yang sangat kecil meningkatkan risiko inbreeding (perkawinan sesama kerabat) di alam bebas.
  • Reproduksi orangutan di alam sangat lambat (satu anak dapat lahir setiap 6–8 tahun pada betina dewasa).
  • Fragmentasi habitat membuat individu terisolasi dan mengurangi peluang bertemu pasangan tak terkait darah.

Namun kerja sama kebun binatang saja tidak menyelesaikan akar masalah: hilangnya rumah alami orangutan. Di habitatnya, deforestasi terus berlangsung, sementara perubahan iklim dan tekanan manusia mengikis hutan primer lebih cepat dari kemampuan spesies untuk beradaptasi.


Menghubungkan Edukasi dengan Aksi Nyata

Upaya internasional seperti yang dilakukan Taman Safari dan mitranya di Jepang harus dipandang sebagai bagian dari strategi konservasi jangka panjang, bukan semata pertukaran satwa. Ada kebutuhan kuat untuk:

  • Memperluas kawasan lindung yang efektif.
  • Memulihkan koridor hutan agar populasi di alam tetap terkoneksi.
  • Melibatkan masyarakat lokal dalam konservasi sebagai bagian dari manfaat ekonomi dan keanekaragaman hayati.

Organisasi seperti Borneo Orangutan Survival Foundation telah lama bekerja di bidang rehabilitasi dan pelepasliaran kembali orangutan yang diselamatkan dari perdagangan ilegal, dan bahwa konservasi tidak bisa berjalan sendiri tanpa keterlibatan berbagai pihak.

Menjaga yang Terancam untuk Masa Depan Bersama

Orangutan bukan hanya ikon hutan hujan tropis; mereka adalah penyebar benih, pembentuk ekosistem, dan indikator kesehatan lingkungan. Kehilangan satu individu berarti hilangnya potensi generasi baru yang bisa membawa genetic diversity yang berharga bagi spesiesnya.

Ketika kerja sama internasional berkembang, dan satu orangutan seperti Jennifer diperjalanan ke Jepang demi masa depan genetisnya, perlu diingat bahwa konservasi tidak cukup di kamar negosiasi atau kandang kebun binatang. Ia harus hidup di hutan, bebas dan produktif, tumbuh di kanopi yang bergema dengan suara satwa lain — bukan di balik pagar.

Dalam menghadapi krisis biologis global, nasib orangutan adalah cermin dari komitmen kita terhadap alam yang lebih besar: apakah kita hanya ingin menyimpan kenangan satwa yang indah di buku foto, atau benar-benar melestarikannya sehingga generasi mendatang masih dapat mendengar suara jeritan rimba dan melihat orangutan bergelantungan di atas pohon?

Tags:
#Jepang #orangutan #taman safari
Penulisdhiya
Jurnalis lulusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga 2025.
EditorYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Warta

Prabowo Lantik Pratikno sebagai Kepala Wantimpres, Rocky Gerung Jadi Anggota

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
Warta

Jokowi Hormati Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran

Siswantini Suryandari • 8 Okt 2026
Warta

Tiga Kakak Beradik Meninggal Ditabrak Truk Saat Pastikan Sekolah Libur akibat Kabut Asap Karhutla

Wiwit • 10 Okt 2026
Warta

Denny Indrayana: KPU Korbankan Independensi demi Loloskan Gibran

Siswantini Suryandari • 6 Okt 2026
Warta

Bupati Gowa Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan Izin dan TPPU

Siswantini Suryandari • 30 Sep 2026
Warta

Cuaca Ekstrem Mengintai Jabodetabek 10-11 Oktober, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak

Wiwit • 10 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Two men balance on a pile of branches in a smoke filled forest one wearing a uniform and face mask the other in a brown shirt nearby
Warta

Palangka Raya Perpanjang Status Darurat, Warga Luapkan Keluh Kesah Hadapi Kabut Asap Karhutla

Wiwit • 10 Okt 2026
Two story brick house with white and blue accents turquoise balcony railing and arched windows
Warta

BGN Tegaskan Bangunan Tempat Penemuan Mayat Terborgol di Kendal Bukan Dapur MBG

Wiwit • 10 Okt 2026
Kebakaran hutan dan lahan
Warta

Bendung Api Karhutla, BNPB Uji Material Realiza Anti Chamas 

Mutia • 10 Okt 2026
Ilustrasi orangutan
Warta

Orangutan Korban Karhutla di Kalbar Dipulangkan ke Habitat Alami di Batu Nyambu

Mutia • 10 Okt 2026
Gunungkidul night carnival 2026
Catra Wisata

Gunungkidul Night Carnival di Wonosari Hari Ini 10 Oktober 2026, Catat Rutenya 

Mutia • 10 Okt 2026
Untuk mencegah bertambahnya angka perceraian kantor urusan agama kua kecamatan kaliori bekerja sama dengan takmir masjid menghadirkan inovasi kurma
Warta

KUA Kaliori Buka Konsultasi Keluarga di Masjid, Tekan Angka Perceraian

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
Selama 15 tahun pilot berkostum bangau menggunakan pesawat ultraringan untuk mengajari anak anak bangau amerika whooping crane bermigrasi dari wisconsin menuju florida amerika serikat
Catra Cendekia

Pulihkan Populasi, Pilot Berkostum Bangau Ajari Burung Langka Bermigrasi ke Florida

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
Sebanyak 2 762 perusahaan atau 504 persen dari total 5 476 perusahaan yang mengikuti program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup proper 20242025 masih memperoleh peringkat merah
Catra Cendekia

50,4 Persen Perusahaan Peserta PROPER 2025 masih Berperingkat Merah

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Tim Temukan Lokasi Kecelakaan, Pesawat ATR 42-500 Tabrak Gunung
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network