catrawarta.com - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) dengan kabut asap tebal yang meresahkan warga.
Dampak dari bencana tahunan yang sudah berlangsung sejak Juli hingga September 2026 ini tak hanya mengancam kesehatan masyarakat akibat penurunan kualitas udara, tetapi juga mengganggu kelancaran transportasi darat dan udara hingga memicu kecelakaan lalu lintas.
Memasuki bulan ketiga paparan asap, kepungan kabut tebal pada pagi hari kian memburuk dan melumpuhkan jarak pandang para pengendara di jalan raya. Situasi berbahaya tersebut memicu gelombang keluhan warga di berbagai platform media sosial saat mereka harus menembus jalanan tanpa jarak pandang yang aman.
Asap Tebal Parah
“POV Kalimantan Selatan setelah ba’da Subuh. Asap karhutla parah banget,” tulis akun Threads @yuda_andika91 pada Selasa, 22 September 2026. Dia juga memperlihatkan rekaman saat kesulitan memantau kondisi jalan di depannya sewaktu berangkat bekerja.
“Ini gue berangkat kerja kayak gini, jarak pandang paling cuma 1 meter. Enggak keliatan apa-apa, ini mobil tangki di depan juga enggak keliatan, makanya hati-hati,” ujarnya.
Kondisi senada dirasakan oleh warganet lain, @ems***b, yang terpaksa melajukan kendaraannya dalam kecepatan amat rendah demi menghindari benturan.
“Mau dibiarkan sampai kapan kebakaran di wilayah kami? Korban sudah banyak, warga jatuh sakit ISPA, kerugian ekonomi karena transportasi darat & udara nyaris lumpuh,” keluhnya sembari menambahkan keterangannya saat melintas.
“Enggak bisa cepat, jalan 10 km/h aja. Full asap, enggak kelihatan,” sambungnya.
Jarak Pandang Terbatas
Terbatasnya pandangan di jalan raya terbukti memicu insiden lalu lintas di kawasan Banjarbaru, tempat satu unit armada truk dilaporkan terbalik karena pengemudi kehilangan arah.
“Truk terbalik saking tebalnya asap, warga Kalimantan hati-hati saat beraktivitas pagi karena jarak pandang tertutup kabut asap,” tulis akun Threads @ahm*********1. Perekam video di lokasi insiden itu turut menyuarakan kepanikannya. “Posisi jalan enggak kelihatan terbalik di daerah sini, minta tolong orangnya tapi enggak kelihatan. Instansi terkait tolong,” ujar sang perekam.
Dampak kesehatan dan lamanya durasi karhutla juga mendulang kepasrahan warga yang saban hari terpaksa menghirup udara beracun.
“Sudah berbulan-bulan enggak ada perubahan, bayangin aja gimana kami di sini nafasnya,” tulis akun @fftw, yang disahuti oleh akun @khaz.
“Kami menghirup asap seperti ini setiap hari dan hari ini Banjarmasin pekat sekali,” paparnya.
Dirikan Rumah Oksigen
Menanggapi krisis kesehatan yang memburuk, Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan telah bergerak mendirikan 127 rumah oksigen, dengan 38 unit difokuskan di Banjarbaru dan sisanya disebar ke Kabupaten Banjar serta Kabupaten Tanah Laut.
“Layanan lapangan siaga karhutla telah menjangkau 46.347 jiwa melalui 90 titik kegiatan selama periode Juli hingga September 2026,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Diauddin, dalam keterangannya pada Selasa, 22 September 2026.
Kondisi udara yang masih jauh dari kata aman turut memaksa Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin memperpanjang pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa PAUD, SD, hingga SMP sampai 23 September 2026. Keputusan yang diambil untuk ketiga kalinya ini didasarkan pada Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Banjarmasin yang hingga Minggu, 20 September 2026 masih bertahan pada kategori berbahaya bagi kesehatan anak-anak.









