CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Warta

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Klaim ‘Londo Ireng’ Prabowo sebatas Candaan

Penulis: Mutia 7 Agu 2026 4 menit baca
Diperbarui Agustus 7, 2026
Two men in white uniforms standing outdoors and smiling
BERCANDA: Fadli Zon yang sejak lama dekat dengan Prabowo Subianto menyebut istilah 'londo ireng' hanya candaan.(Sumber: Dok Instagram @fadlizon).
Bagikan:
0

catrawarta.com - Sebutan ‘londo ireng’ yang terkesan ditudingkan Presiden Prabowo Subianto ke sejumlah profesi mendapat banyak sorotan tajam. Menanggapi hal ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon angkat bicara.

Fadli menilai, pidato Prabowo soal ‘londo ireng’ ini disampaikan hanya sebatas candaan semata untuk mencairkan suasana. Dia bahkan memberi klaim kenal Prabowo sejak lama hingga paham konteks isi pidato yang disampaikan.

”Saya kenal Pak Prabowo sudah sangat lama. Pak Prabowo sebenarnya orangnya sangat humoris. Jadi kalau mengatakan seperti itu adalah mendekatkan untuk keakraban, ice breaking, dan lain-lain,” terang Fadli pada acara Bincang Santai di Kantor Kementerian Kebudayaan di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Baca Juga
5 artikel
  1. Warta Pernikahan Gusti Sura dan Adimas Rosdian November 2026, Padukan Adat Mangkunegaran dan Tradisi Katolik? →
  2. Warta Cuaca Ekstrem Mengintai Jabodetabek 10-11 Oktober, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak →
  3. Warta Tiga Kakak Beradik Meninggal Ditabrak Truk Saat Pastikan Sekolah Libur akibat Kabut Asap Karhutla →
  4. Warta Yusril: Silahkan Polisi hingga KPK Usut Klaster Mewah Lapas Cibinong →
  5. Warta Rocky Gerung Singgung Posisi Wantimpres Saat Komentari Polemik Ijazah Gibran →

‘Londo Ireng’ Masih Ada

Politisi Partai Gerindra ini menambahkan, istilah ‘londo ireng’ ini diucap Prabowo untuk mengingat pada sejarah di masa lalu jika ada warga Indonesia yang membelot dan lebih memprioritaskan kepentingan kolonial.

Kini, Fadli menyebut konsep ‘londo ireng’ yang dimaksudkan sebagai pengkhianat ini masih ada dan bahkan ada dimana-mana.

”Kalau dulu orang menjadi kolaborator dengan Belanda, dengan penjajah, kemudian menjadi kolaborator dengan Jepang untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya. Jadi jangan lupa, pengkhianat itu ada dimana-mana,” ujarnya.

Sehingga, dia menegaskan jika masyarakat tak perlu merasa tersinggung selama mereka bukan orang yang dimaksud di dalam pidato.

”Jadi menurut saya sih biasa-biasa saja itu. Kalau misalnya bukan pengkhianat, enggak usah tersinggung gitu ya kalau menurut saya,” imbuhnya.

Man in a gray suit and round glasses speaks into a microphone at a panel with an indonesia placard on the table in front
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. (Sumber: Dok Gerindra)

Prabowo Singgung ‘Londo Ireng’

Sebelumnya, Prabowo Subianto berpidato dengan istilah ‘londo ireng’ dalam acara puncak Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026) lalu.

Istilah ini digunakan Prabowo untuk merujuk pada mereka yang lebih mengutamakan pengabdian kepada bangsa lain daripada Indonesia sendiri. Hal ini diklaimnya sengaja dilakukan untuk melemahkan bangsa.

Dalam istilah ini, Prabowo menyebut sejumlah profesi yang dituding memiliki jiwa pengkhianat. Beberapa di antaranya adalah wartawan, pengamat, hingga pekerja Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

“Hanya dia (londo ireng) sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah, kita tahu kan,” kata Prabowo dalam pidatonya.

Bahaya Pelabelan dan Rasis Pemimpin

Pidato Prabowo Subianto menjadi bahan diskusi panjang usai disorot tajam oleh berbagai kalangan. Soal kemunculan isu pelabelan dan rasisme yang terucap dari pemimpin bangsa ini bisa dilihat dari kacamata prasangka sosial yang dibentuk oleh kepribadian otoritarian, seperti yang dijelaskan oleh Adorno, Frenkel-Brunswik, Levinson, dan Sanford.

Kepribadian otoritarian ini dijelaskan sebagai karakteristik yang mengakui penghargaan terhadap otoritarisme, obsesi terhadap status, kecenderungan untuk mengungkapkan kemarahan, menimbulkan tindakan yang didasarkan pada ketidaksukaan terhadap pihak yang lemah, dan toleransi rendah.

Kepribadian ini dalam teori tersebut bisa memicu sikap negatif terhadap kelompok yang dianggap mengancam sosial, ketertiban, dan stabilitas. Sehingga, mereka pada umumnya lebih memiliki prasangka buruk dan diskriminatif terhadap kelompok yang dikategorikan mengancam.

Bisa Berdampak Destruktif

Akademisi Universitas Islam Malang (Unisma) Imam Alfafan Yakub menilai, rasisme rasanya tak pantas keluar dari seorang pemimpin. Sebab, keberagaman mulai dari agama, warna kulit, suku, dan bahasa sejatinya merupakan perbedaan yang harus dilihat sebagai harmoni.

Jika pemimpin absen melihat ini dan cenderung rasis, maka ada dampak destruktif yang bisa mendatangkan kekacauan di dalam masyarakat. Bisa saja hal ini mendatangkan dampak negatif yang panjang bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

”Ini adalah hukum alam yang telah ada sejak manusia pertama diciptakan dan akan terus ada hingga akhir zaman. Mencoba menolak atau menentang kebhinekaan sama halnya dengan menentang hukum alam itu sendiri, sesuatu yang tidak hanya sia-sia tetapi juga dapat membawa dampak destruktif bagi kehidupan bermasyarakat,” katanya, demikian dikutip dari laman resmi UNISMA, Jumat (7/8/2026).

Tekanan Psikologis Besar

Sama halnya ketika pemimpin memiliki stereotip dan terjebak pada penilaian yang subjektif, maka dinamika lingkungannya menjadi tak lagi sehat dan inklusif.

Hal ini seperti yang disampaikan Claude Steele (1997) yang menyebut jika pemimpin melabeli kelompok tertentu dengan stereotip negatif, maka ada kecenderungan soal tekanan psikologis yang besar bagi anggota.

Sehingga, pelabelan dan rasisme yang ada di dalam konsep istilah ‘londo ireng’ bisa berpotensi memberikan pandangan kabur mengenai kepemimpinan yang netral dan inklusif. Meski dinilai Fadli Zon sebatas candaan, namun nyatanya ucapan yang telah dilontarkan Prabowo bisa memiliki makna dan dampak yang berkepanjangan.

Tags:
#Fadli Zon #londo ireng #Prabowo Subianto #presiden prabowo subianto #rasisme
Smiling woman wearing a beige hijab, black jacket, striped shirt, and a watch, standing against a dark textured wall.
PenulisMutia
Penulis yang telah mendalami bidang jurnalistik sejak 2015. Sedang mendalami isu-isu di bidang sosial, budaya, dan kebijakan publik di Yogyakarta serta nasional.
Sketched-style portrait of a man with glasses, smiling, outdoors with palm trees in the background.
EditorWicaksana
Jurnalis senior, tinggal di Yogyakarta.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Warta

Prabowo Lantik Pratikno sebagai Kepala Wantimpres, Rocky Gerung Jadi Anggota

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
Warta

Jokowi Hormati Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran

Siswantini Suryandari • 8 Okt 2026
Warta

Tiga Kakak Beradik Meninggal Ditabrak Truk Saat Pastikan Sekolah Libur akibat Kabut Asap Karhutla

Wiwit • 10 Okt 2026
Warta

Denny Indrayana: KPU Korbankan Independensi demi Loloskan Gibran

Siswantini Suryandari • 6 Okt 2026
Warta

Bupati Gowa Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan Izin dan TPPU

Siswantini Suryandari • 30 Sep 2026
Warta

Cuaca Ekstrem Mengintai Jabodetabek 10-11 Oktober, BMKG Ungkap Wilayah Terdampak

Wiwit • 10 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Two men balance on a pile of branches in a smoke filled forest one wearing a uniform and face mask the other in a brown shirt nearby
Warta

Palangka Raya Perpanjang Status Darurat, Warga Luapkan Keluh Kesah Hadapi Kabut Asap Karhutla

Wiwit • 10 Okt 2026
Two story brick house with white and blue accents turquoise balcony railing and arched windows
Warta

BGN Tegaskan Bangunan Tempat Penemuan Mayat Terborgol di Kendal Bukan Dapur MBG

Wiwit • 10 Okt 2026
Kebakaran hutan dan lahan
Warta

Bendung Api Karhutla, BNPB Uji Material Realiza Anti Chamas 

Mutia • 10 Okt 2026
Ilustrasi orangutan
Warta

Orangutan Korban Karhutla di Kalbar Dipulangkan ke Habitat Alami di Batu Nyambu

Mutia • 10 Okt 2026
Gunungkidul night carnival 2026
Catra Wisata

Gunungkidul Night Carnival di Wonosari Hari Ini 10 Oktober 2026, Catat Rutenya 

Mutia • 10 Okt 2026
Untuk mencegah bertambahnya angka perceraian kantor urusan agama kua kecamatan kaliori bekerja sama dengan takmir masjid menghadirkan inovasi kurma
Warta

KUA Kaliori Buka Konsultasi Keluarga di Masjid, Tekan Angka Perceraian

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
Selama 15 tahun pilot berkostum bangau menggunakan pesawat ultraringan untuk mengajari anak anak bangau amerika whooping crane bermigrasi dari wisconsin menuju florida amerika serikat
Catra Cendekia

Pulihkan Populasi, Pilot Berkostum Bangau Ajari Burung Langka Bermigrasi ke Florida

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
Sebanyak 2 762 perusahaan atau 504 persen dari total 5 476 perusahaan yang mengikuti program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup proper 20242025 masih memperoleh peringkat merah
Catra Cendekia

50,4 Persen Perusahaan Peserta PROPER 2025 masih Berperingkat Merah

Siswantini Suryandari • 10 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Smiling man in a gray suit and glasses posed against a green background with circular wave design Siapa IWD Pemilik 995 Senjata di Sekolah Swasta Jakarta Selatan?
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network