catrawarta.com - Sebutan ‘londo ireng’ yang terkesan ditudingkan Presiden Prabowo Subianto ke sejumlah profesi mendapat banyak sorotan tajam. Menanggapi hal ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon angkat bicara.
Fadli menilai, pidato Prabowo soal ‘londo ireng’ ini disampaikan hanya sebatas candaan semata untuk mencairkan suasana. Dia bahkan memberi klaim kenal Prabowo sejak lama hingga paham konteks isi pidato yang disampaikan.
”Saya kenal Pak Prabowo sudah sangat lama. Pak Prabowo sebenarnya orangnya sangat humoris. Jadi kalau mengatakan seperti itu adalah mendekatkan untuk keakraban, ice breaking, dan lain-lain,” terang Fadli pada acara Bincang Santai di Kantor Kementerian Kebudayaan di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
‘Londo Ireng’ Masih Ada
Politisi Partai Gerindra ini menambahkan, istilah ‘londo ireng’ ini diucap Prabowo untuk mengingat pada sejarah di masa lalu jika ada warga Indonesia yang membelot dan lebih memprioritaskan kepentingan kolonial.
Kini, Fadli menyebut konsep ‘londo ireng’ yang dimaksudkan sebagai pengkhianat ini masih ada dan bahkan ada dimana-mana.
”Kalau dulu orang menjadi kolaborator dengan Belanda, dengan penjajah, kemudian menjadi kolaborator dengan Jepang untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya. Jadi jangan lupa, pengkhianat itu ada dimana-mana,” ujarnya.
Sehingga, dia menegaskan jika masyarakat tak perlu merasa tersinggung selama mereka bukan orang yang dimaksud di dalam pidato.
”Jadi menurut saya sih biasa-biasa saja itu. Kalau misalnya bukan pengkhianat, enggak usah tersinggung gitu ya kalau menurut saya,” imbuhnya.

Prabowo Singgung ‘Londo Ireng’
Sebelumnya, Prabowo Subianto berpidato dengan istilah ‘londo ireng’ dalam acara puncak Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026) lalu.
Istilah ini digunakan Prabowo untuk merujuk pada mereka yang lebih mengutamakan pengabdian kepada bangsa lain daripada Indonesia sendiri. Hal ini diklaimnya sengaja dilakukan untuk melemahkan bangsa.
Dalam istilah ini, Prabowo menyebut sejumlah profesi yang dituding memiliki jiwa pengkhianat. Beberapa di antaranya adalah wartawan, pengamat, hingga pekerja Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
“Hanya dia (londo ireng) sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah, kita tahu kan,” kata Prabowo dalam pidatonya.
Bahaya Pelabelan dan Rasis Pemimpin
Pidato Prabowo Subianto menjadi bahan diskusi panjang usai disorot tajam oleh berbagai kalangan. Soal kemunculan isu pelabelan dan rasisme yang terucap dari pemimpin bangsa ini bisa dilihat dari kacamata prasangka sosial yang dibentuk oleh kepribadian otoritarian, seperti yang dijelaskan oleh Adorno, Frenkel-Brunswik, Levinson, dan Sanford.
Kepribadian otoritarian ini dijelaskan sebagai karakteristik yang mengakui penghargaan terhadap otoritarisme, obsesi terhadap status, kecenderungan untuk mengungkapkan kemarahan, menimbulkan tindakan yang didasarkan pada ketidaksukaan terhadap pihak yang lemah, dan toleransi rendah.
Kepribadian ini dalam teori tersebut bisa memicu sikap negatif terhadap kelompok yang dianggap mengancam sosial, ketertiban, dan stabilitas. Sehingga, mereka pada umumnya lebih memiliki prasangka buruk dan diskriminatif terhadap kelompok yang dikategorikan mengancam.
Bisa Berdampak Destruktif
Akademisi Universitas Islam Malang (Unisma) Imam Alfafan Yakub menilai, rasisme rasanya tak pantas keluar dari seorang pemimpin. Sebab, keberagaman mulai dari agama, warna kulit, suku, dan bahasa sejatinya merupakan perbedaan yang harus dilihat sebagai harmoni.
Jika pemimpin absen melihat ini dan cenderung rasis, maka ada dampak destruktif yang bisa mendatangkan kekacauan di dalam masyarakat. Bisa saja hal ini mendatangkan dampak negatif yang panjang bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
”Ini adalah hukum alam yang telah ada sejak manusia pertama diciptakan dan akan terus ada hingga akhir zaman. Mencoba menolak atau menentang kebhinekaan sama halnya dengan menentang hukum alam itu sendiri, sesuatu yang tidak hanya sia-sia tetapi juga dapat membawa dampak destruktif bagi kehidupan bermasyarakat,” katanya, demikian dikutip dari laman resmi UNISMA, Jumat (7/8/2026).
Tekanan Psikologis Besar
Sama halnya ketika pemimpin memiliki stereotip dan terjebak pada penilaian yang subjektif, maka dinamika lingkungannya menjadi tak lagi sehat dan inklusif.
Hal ini seperti yang disampaikan Claude Steele (1997) yang menyebut jika pemimpin melabeli kelompok tertentu dengan stereotip negatif, maka ada kecenderungan soal tekanan psikologis yang besar bagi anggota.
Sehingga, pelabelan dan rasisme yang ada di dalam konsep istilah ‘londo ireng’ bisa berpotensi memberikan pandangan kabur mengenai kepemimpinan yang netral dan inklusif. Meski dinilai Fadli Zon sebatas candaan, namun nyatanya ucapan yang telah dilontarkan Prabowo bisa memiliki makna dan dampak yang berkepanjangan.









