catrawarta.com - 17 Juli selalu mengingatkan dunia pada tragedi kelam yang harus dihadapi kaisar terakhir Rusia Bernama Tsar Nicholas II. Hidupnya yang sempat di atas awan ini terpaksa berakhir dengan tragis.
Selama pemerintahannya, Tsar Nicholas II memang seringkali harus berhadapan langsung dengan dinamikan politik yang ekstrem. Ada krisis hingga perang yang menyeretnya jauh lebih dalam ke lembah gelap bernama eksekusi mati oleh kaum Bolshevik.
Semua tragedi ini bermula sejak pemerintahan Nicholas II yang memang sudah mendapat ketidakpercayaan dari rakyat. Dia bahkan dibenci oleh rakyat sendiri.
Sebagai putra mahkota dari Kaisar Alexander III, dia diangkat sebagai raja selanjutnya tanpa persiapan matang untuk memimpin negara Rusia yang tengah dilanda dinamika politik tingkat tinggi. Gejolak inipun juga disebabkan oleh sang ayah yang kala itu memerintah rezim dengan metode otokrat sangat ketat.
Akibat dari kebijakan pelarangan bahasa non-Rusia, melemahkan lembaga politik rakyat, hingga menutup kebebasan pers lambat laun membuat jalan buntu bagi sang putra mahkota sendiri.
Bahkan ketika usai dinobatkan pada tahun 1894, Nicholas harus menghadapi peristiwa menegangkan sekaligus pilu dimana lebih dari1.400 rakyat tewas dalam sebuah penyerbuan di Moskow.
Buntutnya, rakyat semakin tak percaya pada pemerintahan Nicholas. Jurang kedekatan rakyat dengan sang Kaisar baru ini kian jauh.
Alih-alih memberi ketenangan dan membuat kebijakan bersifat perdamaian, Nicholas justru menampik perlawanan dan kritikan dengan kebrutalan. Dia dilaporkan dalam catatan sejarah tak segan membantai lebih dari 100 demonstran tak bersenjata yang berlangsung pada tahun 1905.
Kondisi negara kian berkecamuk dengan adanya Perang Dunia I. Rakyat menilai, Rusia tidak siap untuk berperang lantaran gejolak politik dalam negeri pun tak kunjung padam.
Hingga pada akhirnya, Nicholas dipaksa turun tahta pada Maret 1917 sebagai buntut dari tekanan dan kekacauan yang terjadi. Dia dan seluruh anggota keluarga ditahan di tempat tersembunyi. Lalu kaum Bolshevik resmi memegang rezim.
Tragedi Berdarah 17 Juli

Tragedi berdarah pun dimulai pada 17 Juli 1918 malam. Dokter istana Bernama Eugene Botkin membangunkan Nicholas dan keluarga dan memberi informasi jika keluarga bangsawan akan dievakuasi usai kekacauan di Yekaterinburg.
Mereka diperintah untuk masuk ke dalam ruangan bawah tanah berukuran 6 x 5 meter. Di sinilah, Nicholas dan semua keluarganya diserang oleh kaum revolusioner Bolshevik.
Nicholas dan keluarga yang sama sekali tak bersenjata harus berhadapan dengan banyak orang bersenapan. Tak puas dengan senjata, bahkan Nicholas dan keluarga disebut juga menerima pukulan keras dan bayonet.
Dalam waktu singkat, Nicholas dan keluarganya tewas. Jasad sang kaisar terakhir, permaisuri, putra mahkota, empat putri Nicholas, serta empat anggota kerajaan lainnya lalu dipindahkan ke sebuah tambang yang berjarak 14 km dari lokasi.
Tubuh mereka yang telah tewas lalu disiram menggunakan bahan bakar lalu dibakar. Demi menghapus jejak, kaum Bolshevik juga meninggalkan cairan asam sulfat.
Sisa jasad dari Nicholas dan keluarganya lalu dikubur secara sembunyi-sembunyi di hutan. Setelah ditelusuri, aksi penyerbuan yang brutal ini didalangi langsung oleh Yakov Yurovsky, seseorang revolusioner dengan mata dan pemikiran yang cermat.
Hingga beberapa dekade kemudian, tepatnya pada tahun 1991, sisa dari jasad mereka berhasil ditemukan melalui penelitian dan tes DNA. Usai serangkaian penelitian dilakukan, sisa jasad keluarga bangsawan ini lantas dimakamkan secara layak di Kapel St. Catherine di dalam Benteng Peter dan Paul, Katedral St. Petersburg, tepat 80 tahun kemudian usai tragedi pembunuhan yang menewaskan mereka.
Hingga kini mulai tahun 2000 lalu, Gereja Ortodoks Rusia menganugerahi mereka dengan gelar ‘orang suci’ dan dianggap sebagai martir.
Meski Nicholas II tewas dibantai bersama keturunannya, namun nyatanya segelintir anggota Romanov lainnya berhasil menyelamatkan diri dan hidup dengan berketurunan hingga saat ini. Di kalangan keluarga bangsawan, institusi monarki itu masih eksis dan dibanggakan meski warga sipil tak lagi memberi sorotan istimewa di tengah hukum negara Rusia modern.









