CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Pena Catra

Mendengar dengan Nurani – Refleksi Hari Tuli Nasional

Penulis: Yuliantoro 11 Jan 2026 3 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Seorang juru bahasa isyarat menyampaikan pesan kepada audiens sebagai simbol pentingnya akses komunikasi bagi komunitas tuli.
Bagikan:
0

catrawarta.com - Setiap 11 Januari, bangsa ini memperingati Hari Tuli Nasional, bertepatan dengan berdirinya Serikat Kaum Tuli-Bisu Indonesia (SEKATUBI) pada 11 Januari 1960. Peringatan ini bukan sekadar pengingat sejarah perjuangan komunitas tuli, melainkan ajakan untuk merenungkan satu pertanyaan mendasar, ”Apakah kita sungguh telah belajar mendengar dengan nurani?”

Dalam kehidupan berbangsa, mendengar adalah fondasi keadilan. Mendengar berarti mengakui keberadaan, memahami kebutuhan, dan menghadirkan kebijakan yang berpihak. Bagi penyandang tuli, persoalan mendengar tidak semata bersifat biologis, melainkan sosial dan struktural. Ketika negara gagal menyediakan akses, informasi, dan layanan yang setara, sesungguhnya yang bermasalah bukanlah ketulian fisik, melainkan ketulian sistemik.

Secara konstitusional, prinsip kesetaraan dan larangan diskriminasi telah ditegaskan dalam UUD 1945 Bab XA tentang Hak Asasi Manusia. Prinsip ini diperkuat melalui Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, sebagai konsekuensi dari ratifikasi Konvensi Hak Penyandang Disabilitas melalui Undang-Undang No. 19 Tahun 2011. Kerangka hukum ini menegaskan bahwa pemenuhan hak penyandang tuli adalah kewajiban negara, bukan kemurahan hati atau kebijakan tambahan.

Baca Juga
5 artikel
  1. Pena Catra Teladan Kejujuran →
  2. Pena Catra Keluar dari ”Sarang Penyamun” →
  3. Pena Catra Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan →
  4. Pena Catra Korupsi Bukan Dominasi Elite →
  5. Pena Catra Etika Petinggi Negeri →

Undang-undang tersebut secara tegas mengatur hak atas Juru Bahasa Isyarat (JBI) dalam layanan publik, akses informasi dan peradilan, pendidikan yang setara, fasilitas publik yang aksesibel, serta media yang inklusif melalui teks atau JBI. Namun, hukum hanya bermakna ketika dijalankan. Di sinilah nurani diuji. Ketika aksesibilitas masih dianggap beban anggaran, ketika JBI diperlakukan sebagai fasilitas opsional, dan ketika media mengabaikan akses informasi bagi penyandang tuli, sesungguhnya yang terjadi adalah kegagalan untuk mendengar.

Hari Tuli Nasional mengingatkan kita pada bentuk ketulian lain yang lebih berbahaya yaitu tuli nurani. Ketika penguasa, pejabat, dan wakil rakyat tidak lagi mendengar keluhan ekonomi warga, menutup telinga terhadap kritik, dan mengabaikan suara mereka yang terpinggirkan, ketulian itu tidak lagi bersifat individual, melainkan politis dan etis. Ia lahir dari kenyamanan kuasa dan kepentingan sempit, serta menjauh dari rasa keadilan.

Mendengar dengan nurani berarti melampaui prosedur administratif. Ia menuntut empati sebagai dasar kebijakan, keberpihakan sebagai sikap moral, dan konsistensi sebagai ukuran tanggung jawab. Menyediakan JBI, membangun fasilitas aksesibel, serta menghadirkan media yang inklusif adalah perintah hukum. Namun, memastikan semua itu benar-benar bekerja adalah panggilan nurani.

Jika tuli fisik dapat dibantu dengan teknologi, tuli nurani nyaris tak memiliki alat bantu. Ia hanya dapat diatasi dengan kejujuran moral dan keberanian untuk berpihak pada kemanusiaan. Karena itu, Hari Tuli Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau pernyataan simbolik, melainkan menjadi cermin kebijakan dan cermin batin bagi para pengambil keputusan.

Pada akhirnya, kemajuan bangsa tidak diukur dari seberapa canggih regulasi yang dimiliki, melainkan dari kesediaannya untuk mendengar mereka yang selama ini disisihkan. Mendengar dengan nurani adalah syarat dasar keadilan. Selama nurani masih mau mendengar, harapan bagi kemanusiaan – termasuk bagi komunitas tuli- akan selalu terbuka.

Tags:
#Buta #Hati #Mendengar #Nurani #Tuli
PenulisYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Pena Catra

Teladan Kejujuran

Wicaksana • 7 Okt 2026
Pena Catra

Keluar dari ”Sarang Penyamun”

Wicaksana • 4 Okt 2026
Pena Catra

Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan

Wahjudi Djaja • 24 Sep 2026
Pena Catra

Korupsi Bukan Dominasi Elite

Wicaksana • 21 Sep 2026
Pena Catra

Etika Petinggi Negeri

Wicaksana • 15 Sep 2026
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
A magnifying glass over a cafeteria tray highlighting a pile of rice on the top compartment with bread and a mug in the background
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026
Firefighter climbs a towering wall of stacked papers as flames rage in the background with people observing from the top
Pena Catra

Kegagapan Menghadapi dan Mengatasi Bencana

Wicaksana • 31 Agu 2026
Wide city avenue leads to a neoclassical government building as journalists with cameras and microphones line the street awaiting a press statement under a red flag
Pena Catra

Akhir Cerita ‘Demonstrasi’

Wicaksana • 28 Agu 2026
Children in white shirts carry buckets and try to douse flames as a wildfire ravages a forest behind them
Pena Catra

Pemadaman Kebakaran Hutan, Jangan Libatkan Anak-Anak!

Wicaksana • 24 Agu 2026
Protesters stand on the roof of a neoclassical government building raising fists beside the indonesian garuda emblem amid cracks and torn banners
Pena Catra

Mengapa Mereka Marah?

Wicaksana • 17 Agu 2026
Rocket bound by chains within a red no entry circle over a city skyline conveying a prohibition or ban on missiles
Pena Catra

Nuklir untuk Perdamaian

Wicaksana • 9 Agu 2026
Indonesian official in a beige uniform and black peci sits at a desk with a microphone tablet papers and a small indonesian flag
Pena Catra

Komunikasi Nirempati

Wicaksana • 3 Agu 2026
Stylized portrait of a high ranking officer in a dark green ceremonial uniform with gold epaulettes medals and a sword seated in a carved chair
Pena Catra

Wirya, Arta dan Winasis

Wahjudi Djaja • 22 Jul 2026
0
Follow us on
Up Next: Berdayakan Masyarakat Pelosok, Robert Tumbuhkan Harapan Baru
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network