CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Pena Catra

Ketika Negara Diperbincangkan

Penulis: Wahjudi Djaja 30 Mei 2026 4 menit baca
A large formal meeting with dozens of men in white robes around a long table in a sunlit conference room
Ilustrasi Sidang BPUPKI. (Sumber: catrawarta)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Kalau mau tahu betapa cerdasnya para pendiri bangsa, bisa dilacak dari arsip persidangan BPUPKI. Di lembaga bentukan Jepang ini, para tokoh bangsa dari berbagai latar belakang saling berdiskusi bahkan berdebat tentang beragam tema menyangkut negara yang mau didirikan.

Dalam persidangan BPUPKI yang demokratis masing-masing anggota diberi hak untuk menyampaikan gagasannya. Mereka meletakkan pemikirannya berdasar argumentasi ilmiah yang rasional. Benar mereka berada dalam pengawasan tentara Jepang, tetapi tak terlihat mereka keder dan takut. Rata-rata mereka dididik di sekolah atau universitas papan atas, baik di dalam maupun luar negeri, yang mengedepankan kecendekiaan.

Soekarno alumni Techniche Hoogeschool te Bandung (yang kita kenal dengan ITB). Bung Hatta alumni Erasmus University Rotterdam Belanda. Soepomo alumni Universitas Leiden, Belanda. Muhammad Yamin Rechtshoogeschool te Batavia. Sekedar menyebut tokoh yang banyak menelorkan pemikiran selama persidangan. Mereka mempunyai kompetensi yang berlainan, tetapi soal nasionalisme dan masa depan Indonesia, komitmen mereka tak perlu diragukan. Begitu pula dengan para anggota yang lain.

Baca Juga
5 artikel
  1. Pena Catra Teladan Kejujuran →
  2. Pena Catra Keluar dari ”Sarang Penyamun” →
  3. Pena Catra Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan →
  4. Pena Catra Korupsi Bukan Dominasi Elite →
  5. Pena Catra Etika Petinggi Negeri →

Bahwa Indonesia adalah negara yang didesain dengan ilmu oleh para cendekiawan generasi pertama negeri ini. Diskusi dan perdebatan menjadi bagian dari karakter mereka, tetapi tak satupun yang menjadikan itu sebagai urusan pribadi. Kedewasaan mereka telah teruji sejak masa pergerakan nasional. Keluar masuk penjara karena mengkritisi kekuasaan Belanda adalah konsekuensi logis dari sebuah perjuangan. Dan itu amat mereka sadari sejak awal.

Bukan hanya mereka yang siap secara mental ketika harus dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda. Keluarga mereka pun amat paham dan siap menghadapi masa-masa sulit ketika yang bersangkutan dipenjara atau diasingkan. Lahir dan tumbuh di zaman penjajahan, dengan tetap memegang cintanya pada negeri ini, adalah sebagian karakter yang melekat pada generasi emas bangsa ini.

Generasi yang tidak tunduk takluk pada kepentingan bangsa penjajah. Generasi yang berani menatap tegak kolonialisme demi perjuangan kemerdekaan bangsanya. Silakan baca pidato pembelaan Bung Karno di landraad Bandung berjudul Indonesia Menggugat yang berani menampar praktik kolonialisme Belanda di depan para hakim Belanda. Silakan simak pidato pledoi Bung Hatta berjudul “Indonesie Vrij” (Indonesia Merdeka) yang dibacakan pada 9 Maret 1928 di pengadilan Den Haag Belanda.

Pidato mereka menjadi referensi bagi siapapun yang ingin belajar tentang kekuasaan, perjuangan dan kolonialisme. Ilmunya tak lekang oleh waktu. Sikap mereka menjadi teladan perjuangan. Dan cara mereka mengelola kekuasaan, pada periode berikutnya, menjadi cermin yang tak pernah buram.

Akhir Mei sampai awal Juni pada 1945, para cendekiawan kita memeras otak untuk menemukan formula terbaik bagi Indonesia. Mereka kesampingkan segala kepentingan sempit, seperti golongan dan latar belakang, demi tercipta persatuan. Jangankan memikirkan diri sendiri, kepentingan keluarga pun tak pernah singgah di benak mereka. Indonesia adalah rumah dan payung bagi kehidupan semua anak bangsa tanpa membeda-bedakan latar belakang. Pancasila menjadi dasar yang disepakati bersama.

Lalu, bandingkan itu semua dengan kondisi saat ini. Makin hari elite kita makin jauh dari laku hidup Pancasila. Ucapan bertentangan dengan tindakan, kepentingan kroni dan keluarga diutamakan, jangankan menjauh dari praktik korupsi sedang kekayaan alam pun mereka perdagangkan tanpa merasa bersalah. Di sisi lain, kekuasaan menjadi antikritik dan cenderung menumpulkan nalar.

Susah payah bangsa ini berjuang meraih kemerdekaan dari tangan penjajah. Tak pernah terbayang jika kemudian kita seperti dijajah oleh bangsa sendiri. Tak salah kata-kata Bung Karno kepada Megawati, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”.

Hampir di semua level kekuasaan kita temukan penyimpangan dan penyelewengan. Bukannya menjadi efek jera, jika ada yang tertangkap dan dipenjara, tetapi tanpa rasa malu dan takut justru diulang dan diulangi lagi. Hukum dan keadilan memang tengah menjauh dari kehidupan rakyat. Merasa menjadi pemilik kedaulatan tetapi nyaris tak bisa apa-apa selama lima tahun. Didekati hanya menjelang pemilu lalu ditinggal begitu saja nampaknya sudah menjadi nasib rakyat.

Kadang bertanya, sudah merdekakah bangsa ini? Kemana larinya kekayaan alam, hutan dan laut yang nyaris tak ada duanya di dunia ini, yang diamanatkan konstitusi untuk kepentingan kemakmuran rakyat? Mengapa utang dari tahun ke tahun semakin besar sedang kehidupan rakyat kian terjal jalannya? Kita makin asing dengan moralitas dan karakter elite kita. Entah sampai kapan.

Hidup dilarang pesimis. Tetapi melihat cara elite memperpanjang kekuasaan, yang cenderung menghalalkan segala cara, rasanya seperti melihat langit yang semakin rendah. Tak ada cakrawala. Tak ada harapan. Sedang hidup harus terus dilanjutkan.

Ksatrian Sendaren, 29 Mei 2026

Tags:
#Belanda #BPUPKI #Indonesia #megawati #Moh Hatta #Soekarno
Male singer on stage, wearing a white robe and head wrap, holding a microphone and raising one arm.
PenulisWahjudi Djaja
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Pena Catra

Teladan Kejujuran

Wicaksana • 7 Okt 2026
Pena Catra

Keluar dari ”Sarang Penyamun”

Wicaksana • 4 Okt 2026
Pena Catra

Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan

Wahjudi Djaja • 24 Sep 2026
Pena Catra

Korupsi Bukan Dominasi Elite

Wicaksana • 21 Sep 2026
Pena Catra

Etika Petinggi Negeri

Wicaksana • 15 Sep 2026
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
A magnifying glass over a cafeteria tray highlighting a pile of rice on the top compartment with bread and a mug in the background
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026
Firefighter climbs a towering wall of stacked papers as flames rage in the background with people observing from the top
Pena Catra

Kegagapan Menghadapi dan Mengatasi Bencana

Wicaksana • 31 Agu 2026
Wide city avenue leads to a neoclassical government building as journalists with cameras and microphones line the street awaiting a press statement under a red flag
Pena Catra

Akhir Cerita ‘Demonstrasi’

Wicaksana • 28 Agu 2026
Children in white shirts carry buckets and try to douse flames as a wildfire ravages a forest behind them
Pena Catra

Pemadaman Kebakaran Hutan, Jangan Libatkan Anak-Anak!

Wicaksana • 24 Agu 2026
Protesters stand on the roof of a neoclassical government building raising fists beside the indonesian garuda emblem amid cracks and torn banners
Pena Catra

Mengapa Mereka Marah?

Wicaksana • 17 Agu 2026
Rocket bound by chains within a red no entry circle over a city skyline conveying a prohibition or ban on missiles
Pena Catra

Nuklir untuk Perdamaian

Wicaksana • 9 Agu 2026
Indonesian official in a beige uniform and black peci sits at a desk with a microphone tablet papers and a small indonesian flag
Pena Catra

Komunikasi Nirempati

Wicaksana • 3 Agu 2026
Stylized portrait of a high ranking officer in a dark green ceremonial uniform with gold epaulettes medals and a sword seated in a carved chair
Pena Catra

Wirya, Arta dan Winasis

Wahjudi Djaja • 22 Jul 2026
0
Follow us on
Up Next: Woman in a lavender hijab speaks to the camera gesturing toward a red vertical pole beside a brick wall background Teror Hantu Pocong dan Tongkat Bisbol Mak Jas
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network