catrawarta.com - Seniman, musisi, penari, sekaligus pelukis. Beragam bidang seni melekat pada sosok Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra atau Guruh Soekarnoputra.
Putra bungsu Presiden RI pertama Soekarno dan Fatmawati itu dikenal memiliki perhatian besar terhadap kebudayaan Indonesia. Kecintaannya terhadap Indonesia dituangkan melalui lagu, tarian, lukisan, hingga berbagai karya seni lainnya.
Bagi Guruh, seni bukan sekadar ekspresi. Karya-karyanya juga menjadi medium untuk menyuarakan kegelisahan terhadap kondisi bangsa dan kekhawatirannya atas budaya asli Indonesia yang terus tergerus pengaruh zaman.
Kolaborasi Bersama Musisi
Salah satu karya yang paling membekas bagi saya adalah album Guruh Gipsy, album studio yang dirilis pada 1977. Album tersebut merupakan kolaborasi Guruh Soekarnoputra dengan grup musik Gipsy yang digawangi Keenan Nasution, Chrisye, Abadi Soesman, Oding Nasution, dan Roni Harahap.
Album Guruh Gipsy memadukan musik modern dengan gamelan Jawa dan Bali. Pada masanya, perpaduan tersebut menjadi sesuatu yang inovatif dan kemudian menginspirasi banyak musisi untuk mengeksplorasi pertemuan musik modern dengan musik tradisional.
Majalah Rolling Stone Indonesia pada 2007 bahkan menempatkan Guruh Gipsy sebagai album Indonesia terbaik kedua sepanjang masa.

Album tersebut dibagi menjadi dua bagian, Side A dan Side B. Side A dibuka dengan “Indonesia Maharddhika”, yang menggabungkan nuansa progresif dengan unsur musik tradisional. Lagu ini menggambarkan Indonesia sebagai bangsa yang besar dengan kekayaan budaya dan keberagaman yang dimilikinya.
Berikutnya ada “Chopin Larung”, lagu berbahasa Bali yang dinyanyikan Chrisye. Lagu ini menjadi salah satu karya yang memperlihatkan keberanian Guruh mempertemukan unsur musik Barat dengan tradisi Bali.
Kegelisahan Guruh
Saya masih mengingat wawancara dengan Guruh pada 1996 ketika ia berbicara mengenai album tersebut. Saat itu, ia mengungkapkan kegelisahannya melihat budaya asli Indonesia yang mulai ditinggalkan dan terpengaruh budaya asing.
“Tergerusnya cepat. Saya gelisah bila budaya asli Indonesia mulai ditinggalkan, dilupakan. Album itu mewakili kekhawatiran saya. Bangsa kita bangsa yang ramah dan bangsa yang besar dan bukan bangsa yang lemah,” kata Guruh saat itu.
Kegelisahan tersebut terasa dalam sejumlah lagu di album Guruh Gipsy.
“Chopin Larung”, misalnya, diawali suara deburan ombak, kemudian masuk permainan piano dengan nuansa tangga nada gamelan Bali. Piano solo yang terinspirasi musik Frederic Chopin kemudian berpadu kembali dengan tangga nada gamelan Bali.
Ada pula “Barong Gundah”, karya instrumentalia yang memadukan permainan musik dengan gamelan Bali.
Kecintaan pada Bali
Kecintaan Guruh terhadap Bali bukan sesuatu yang asing. Darah Bali mengalir dari garis ayahnya. Soekarno, ayah Guruh, adalah putra Ida Ayu Nyoman Rai, perempuan asal Buleleng, Bali. Jejak leluhur itu terasa dalam sejumlah karya Guruh yang memberi ruang kuat bagi musik, tari, dan tradisi Bali.
Pada Side B, album dibuka dengan “Janger 1897 Saka”, karya yang merefleksikan tari Janger dari Bali. Lagu ini tidak hanya menghadirkan keriangan khas Janger, tetapi juga membawa kegelisahan tentang perubahan dan pergeseran makna kesenian akibat modernisasi dan industri pariwisata.
Bagi saya, “Janger 1897 Saka” justru terasa menyayat meski dibalut musik yang riang.
Pengulangan “jangi janger” dan “sengsengin sengseng janger” membawa suasana khas tari Janger. Namun di balik keriangan itu, Guruh menyisipkan kritik terhadap perubahan budaya Bali.
Komersialisasi Budaya
Salah satu bagian yang paling kuat adalah penggambaran perubahan fungsi seni dari yang semula menjadi bagian dari kehidupan dan tradisi masyarakat menjadi sesuatu yang disesuaikan dengan kebutuhan pariwisata.
”Dulu memahat buat menghias pura, sekarang memahat untuk wisatawan mancanegara,” tuturnya.
Kalimat tersebut memperlihatkan kegelisahan Guruh terhadap komersialisasi budaya dan perubahan orientasi kesenian.
Vokal dalam album ini didominasi Keenan Nasution dan Hutauruk Sisters, dengan bagian bridge yang dinyanyikan Chrisye.
Album Guruh Gipsy kemudian ditutup dengan “Geger Gelgel”, “Smaradhana”, dan “Sekar Gendotan”, sebuah karya instrumentalia ansambel gamelan karya I Gusti Kompyang Raka.
Karya visual dalam album itu pun tidak lepas dari perhatian terhadap budaya Nusantara. Sampulnya menampilkan kaligrafi Dasabayu atau sepuluh aksara Bali yang dalam tradisi Bali dipercaya memiliki nilai spiritual.
Namun Guruh Gipsy hanyalah salah satu bagian dari perjalanan panjang Guruh dalam berkesenian.

Dia menciptakan banyak lagu yang kemudian dikenal luas, termasuk karya-karya yang menjadi bagian dari film seperti Gita Cinta dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati.
Salah satu karya Guruh yang hingga kini tetap dikenal adalah “Melati Suci”, lagu yang dipersembahkan untuk ibundanya, Fatmawati.
Di bidang tari, Guruh juga melahirkan sejumlah karya, antara lain Tari Puspa Mekar, Tari Rampai Batam, dan Sendratari Legong Untung Surapati.
Karya-karya tersebut memperlihatkan satu benang merah dalam perjalanan keseniannya: kecintaan terhadap Indonesia dan kebudayaannya.
Guruh tidak hanya menciptakan karya untuk dinikmati. Dalam banyak karyanya, ia juga menyampaikan kegelisahan tentang identitas bangsa, perubahan zaman, dan nasib kebudayaan tradisional.
Kini, Guruh telah pergi. Namun lagu, musik, tari, dan gagasan yang pernah dilahirkannya tetap menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan Indonesia.
Selamat jalan, Mas Guruh. Karyamu abadi.









