CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Catra Budaya

Pardiman Djoyonegoro, Ketika Cinta Lahirkan Wirama

Penulis: Wahjudi Djaja 13 Jun 2026 3 menit baca
Diperbarui Juni 13, 2026
Ketekunan pardiman mengajari murid asingnya bermain gamelan dok Catra
Ketekunan Pardiman mengajari murid asingnya bermain gamelan (Dok. Catra)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Suatu kesempatan budayawan Yogyakarta, Bambang Wisnu Handoyo, mengungkap transformasi budaya Jawa. Tiga hal, asma (nama), basa (bahasa), dan busana (pakaian) menjauh dari kehidupan manusia Jawa. Ada satu yang masih bertahan, wirama, sebentuk tempo atau ritme berbasis keselarasan dan harmoni yang menjadi kunci kebahagiaan.

Satu diantara tokoh yang tekun menjaga wirama, dalam segala kesahajaan, adalah Pardiman Djoyonegoro. Nun jauh di pedalaman Karangjati, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul DIY, suara gamelan mengalun jauh terbawa angin. Di padepokan itu, sosok kelahiran 7 Agustus 1968 itu bak sedang memerankan diri sebagai seorang maecenas. Dulu, era Romawi Kuno, Gaius Cilnius Maecenas adalah tokoh sejarah pelindung para penyair dan seniman. Para cantrik berdatangan untuk ngangsu kawruh, belajar dan meneguk beragam ilmu kehidupan.

Ya, bagi orang Jawa hidup itu sesuatu yang utuh, integral dan saling mengisi. Dalam rumah yang didesain menjadi pawiyatan, tempat perguruan, Pardiman mengajarkan olah budaya. Melalui seperangkat gamelan, dia membimbing anak-anak memainkan gamelan. Lebih dari sekedar soal kecerdasan musikal atau psikomotorik, anak-anak dari berbagai daerah dan latar belakang itu dibimbing mengolah rasa, kepekaan mengidentifikasi bebunyian, dan menyeimbangkannya dengan bunyi yang dikeluarkan partner hingga melahirkan harmoni.

Baca Juga
5 artikel
  1. Catra Budaya Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta →
  2. Catra Budaya Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’ →
  3. Catra Budaya Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang  →
  4. Catra Budaya Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia  →
  5. Catra Budaya Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri  →

Semua indera, saat seperti itu, harus dalam kondisi on, menyala dan hidup. Lambat merespon akan melahirkan suara sumbang. Salah memukul, misal terlalu lembut atau terlalu keras, pun akan melahirkan kegaduhan yang mengganggu harmoni irama. Tak harus tegang, tapi mengalir sambil meresapi makna yang terkandung dalam sebuah tembang. Pardiman, dengan tekun dan sabar, tengah merawat akar, menjaga ruh budaya, dan mencoba mengisi ruang kehidupan dengan sesuatu yang asali.

Bangsa ini dibangun di atas pilar suku-suku bangsa. Dan di dalamnya, seni memainkan peran yang amat sentral. Ia mendasari watak dan karakter manusia yang menjadikannya jati diri atau kepribadian. Akar budaya bangsa ini sedang dalam masalah besar. Orientasi bangsa ini sedang keluar, pintu yang mestinya dijaga dan ditutup rapat, dibiarkan terbuka lebar nyaris tanpa pengawalan dan perlawanan.

Dalam konteks itu, kita apresiasi langkah pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang menggerakkan program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Program yang berbasis tiga ajaran leluhur, yakni hamemmayu hayuning bawana, sangkan paraning dumadi, dan manunggaling kasula gusti, hendak diajarkan melalui serangkaian pembelajaran di sekolah. Permasalahannya, mampukah guru membumikan ajaran leluhur itu agar tak hanya tekstual tetapi juga kontekstual dan membumi?

Tunas budaya bangsa tekun berlatih tiap jumat dan minggu di omah cangkem dok Catra
Tunas budaya bangsa tekun berlatih tiap Jumat dan Minggu di Omah Cangkem (Dok. Catra)

Pardiman, pendiri Acapella Mataraman dan inisiator Sragam ABG atau Srawung Gamelan Ayo Bermain Gamelan, tidak saja menyediakan ruang dan padepokan Omah Cangkem untuk, secara mandiri dan swadaya, dijadikan semacam laboratorium kebudayaan. Melalui Sragam ABG Pardiman tekun dan telaten mendidik anak-anak untuk mencintai kebudayaan khususnya gamelan dan tarian. Sesekali dia sendiri menjadi event organizer sekedar pertanggung jawaban publik atas kerja budayanya.

“Ragad déwé mas ini taun ke 4. The power nyéléngi. Metode OCM diserap wong Singapura, Tiongkok, China, Thailand. Pun kulo wénéhké sing gelem, dengan program Sanja Budaya”.

Menghabiskan waktu untuk menemani anak-anak, atas biaya sendiri, dengan metode dan pendekatan yang diinisiasi sendiri, lalu itu dia dermakan kepada orang dan bangsa lain tanpa berhitung untung rugi. Ini laku budaya yang sungguh mengagumkan. Pardiman tengah memberi teladan bagaimana hidup sebagai orang Jawa. Jalan keutamaan yang dia pilih bisa jadi tak mudah untuk ditiru dan diikuti orang lain di Yogyakarta sekalipun sebagai daerah istimewa yang kuat karakter budayanya.

Pardiman, yang alumni SMKI dan ISI, bisa jadi tengah mempraktikkan falsafah Ki Hajar Dewantara terkait pengajaran, yakni wiraga (olahraga), wirasa (olah rasa) dan wirama (olah irama). Melalui metode dan pendekatan yang dia ajarkan, dia sedang membekali anak-anak terkait moral dan karakternya sehingga mereka bisa tumbuh maksimal sesuai kodrat dan bakat yang dititipkan Tuhan pada mereka. Pardiman, adalah manusia Jawa seutuhnya.

Ksatrian Sendaren, 13 Juni 2026

Tags:
#budayawan #gamelan jawa #kesenian jawa #omah cangkem #pardiman djoyonegoro #sanggar budaya
Male singer on stage, wearing a white robe and head wrap, holding a microphone and raising one arm.
PenulisWahjudi Djaja
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Catra Budaya

Wayang Jogja Night Carnival 2026 Sedot Perhatian Ribuan Warga, Ini Target Kota Yogyakarta

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Peringati Usia Ke-44, Bentara Budaya Teropong Masa Depan Yogyakarta Lewat Pameran ‘Mbesuuk’

Wiwit • 8 Okt 2026
Catra Budaya

Sosok Manu Jayaatmaja Widyaseputra, Pakar Sastra Jawa Kuno Penuh Dedikasi yang Telah Berpulang 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Filolog Jawa Kuno Manu Jayaatmaja Widyaseputra Meninggal Dunia 

Mutia • 6 Okt 2026
Catra Budaya

Rumaket 2026: Ketika Warisan Budaya Yogyakarta Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri 

Mutia • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
Sejarah kabupaten siak tidak dapat dilepaskan dari kejayaan kesultanan siak sri indrapura kerajaan melayu islam yang pernah memiliki pengaruh kuat di pesisir timur sumatra dan kawasan selat malaka
Catra Budaya

Sejarah Siak dan Perjuangan Mempertahankan Kepentingan Daerah

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan
Catra Budaya

Festival Dalang Anak Banten, Menjaga Regenerasi Wayang

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Catra Budaya

Ambarketawang, Jejak Kedhaton Hamengku Buwono I Sebelum Pindah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siswantini Suryandari • 5 Okt 2026
Four scene collage from a cultural festival flower garland exchange stacked fruit tower dancers in traditional dress and ceremonial procession with offerings kept in view
Catra Budaya

Gelar Budaya Garebeg Madurejo Gabungkan Atraksi Tradisi dan Peluncuran Wisata Bahari

Wiwit • 4 Okt 2026
Pameran there was something here before karya seniman sekaligus urbanis zahira asmal menelusuri hubungan sejarah indonesia dan cape town afrika selatan
Catra Budaya

There Was Something Here Before, Menelusuri Jejak Indonesia di Cape Town

Siswantini Suryandari • 4 Okt 2026
Mbah leginah meninggal dunia
Catra Budaya

Mbah Leginah, ‘Aktris’ Kondang di Media Sosial Meninggal Dunia

Mutia • 3 Okt 2026
Group of people posing on a stage after an official contract signing ceremony with the garuda emblem above and indonesian flags on either side
Catra Budaya

19 Film Kepahlawanan Siap Diproduksi, Angkat Perjuangan Indonesia 1945-1950

Siswantini Suryandari • 3 Okt 2026
Peringatan hari batik nasional hbn 2026 mengangkat batik tulungagung jawa timur sebagai tema utama
Catra Budaya

Hari Batik Nasional 2026 Angkat Tema Batik Tulungagung

Siswantini Suryandari • 2 Okt 2026
0
Follow us on
Up Next: Lahir sebuah inovasi bernama wayang ajen yang digagas oleh wawan gunawan atau ki wawan ajen Wayang Ajen, Inovasi Wayang Golek Mendunia
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network