catrawarta.com - Di sebuah rumah beratap jerami berbentuk bulat tanpa jendela di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), seorang ibu bersama bayinya berdiam selama masa pemulihan setelah melahirkan.
Rumah berbentuk bulat tersebut dikenal masyarakat Timor sebagai Ume Kbubu, rumah tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.
Di rumah inilah tradisi Sei dijalankan, yakni praktik pascapersalinan yang menempatkan ibu dan bayi di dalam Ume Kbubu selama periode tertentu. Secara tradisional, praktik tersebut dapat berlangsung hingga 40 hari.
Menjaga Kehangatan Tubuh usai Persalinan
Tradisi Sei menjadi perhatian Dra Rachmalina Soerachman MSc PH, peneliti ahli madya di Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Penelitian mengenai tradisi tersebut dilakukan pada 2009-2011 melalui program bertajuk “Advocate Program for Healthy Traditional Houses, Ume Kbubu, in a Timor Community: Preserving Traditional Behavior and Promoting Improved Health Outcomes.”
Kepada Catrawarta.com, Senin (17/8/2026), Rachmalina yang akrab disapa Ina menjelaskan, dalam tradisi Sei, ibu dan bayi berada di dalam Ume Kbubu untuk menjaga kehangatan tubuh setelah persalinan.
”Di dalam rumah bulat itu, ada tradisi untuk menyalakan api atau bara untuk menjaga kehangatan karena masyarakat meyakini setelah melahirkan ibu mengalami kondisi ‘dingin’ dan membutuhkan panas untuk memulihkan tubuh,” ujar Ina.
Selama menjalani tradisi tersebut, ibu dan bayi juga tidak diperbolehkan keluar rumah karena masyarakat meyakini hal itu dapat mengganggu kesehatan dan proses pemulihan.

PENELITIAN: Dra Rachmalina Soerachman MSc PH, peneliti ahli madya di Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (Sumber: Dok Rachmalina Soerachman)
Rumah Tanpa Jendela dan Asap Tungku
Di balik tradisi tersebut, penelitian menemukan persoalan kesehatan yang cukup serius. Ina menjelaskan, Ume Kbubu memiliki ventilasi yang sangat terbatas dan umumnya tidak memiliki jendela. Di dalam rumah juga terdapat tungku atau sumber api yang digunakan untuk menghasilkan panas.
Rumah tradisional tersebut sekaligus digunakan untuk menyimpan stok pangan, terutama jagung. Jagung yang disimpan kemudian diolah menjadi bubur dan menjadi salah satu makanan sehari-hari selama masa pemulihan.
Kondisi rumah yang tertutup, ditambah aktivitas pembakaran kayu, menyebabkan polusi udara di dalam rumah menjadi tinggi.
Risiko Gangguan Kesehatan
”Kondisi tersebut menyebabkan tingginya polusi udara di dalam rumah dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi ibu dan bayi, termasuk keluhan pernapasan seperti batuk dan sesak,” kata Ina.
Penelitian awal pada 2009 melibatkan 358 ibu yang pernah menjalankan tradisi Sei. Selain melakukan wawancara, peneliti juga mengukur kualitas udara di sejumlah Ume Kbubu.
Hasil pengukuran menunjukkan kadar PM10 di rumah-rumah tersebut berada pada kisaran 155-1.370 mg/m³, lebih tinggi dibandingkan batas yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan sebesar 150 mg/m³.

Tradisi Tidak Dihapus, tetapi Diubah
Meski menemukan risiko kesehatan, penelitian tersebut tidak mengambil pendekatan untuk menghapus tradisi Sei. Sebaliknya, peneliti menggunakan komunikasi perubahan perilaku dan pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, keluarga, serta pemimpin komunitas.
”Tujuannya adalah mencari cara agar tradisi tetap dihargai, tetapi risiko kesehatannya dapat dikurangi,” ungkap Ina.
Salah satu hasil intervensi tersebut adalah pengembangan Ume Kbubu yang lebih sehat, dengan ventilasi dan jendela yang lebih baik. Namun, fungsi dan unsur penting rumah tradisional tetap dipertahankan.
Waktu Menjalani Sei Berkurang
Masyarakat juga dilibatkan secara langsung dalam proses perancangan sehingga perubahan tidak datang secara sepihak dari luar komunitas.
Pendekatan tersebut kemudian menunjukkan adanya perubahan perilaku. Rata-rata lama menjalankan tradisi Sei berkurang dari 26 hari pada penelitian awal menjadi 21 hari pada evaluasi. Bahkan, sekitar 15 persen responden mulai menjalankan Sei selama empat hari atau kurang.
Sebagian keluarga juga mulai mengurangi paparan asap dengan mengganti kayu bakar dengan bara arang serta mengurangi penggunaan api, terutama pada malam hari.
Kualitas Udara Membaik
Perubahan juga terlihat dari hasil pengukuran kualitas udara. Median kadar PM10 turun dari 315 mg/m³ pada penelitian awal menjadi 122 mg/m³ pada penelitian lanjutan. Rumah tradisional yang telah didesain ulang juga menunjukkan kadar polutan lebih rendah dibandingkan rumah tradisional yang belum diperbaiki.
Namun, Ina mengingatkan bahwa hasil tersebut masih bersifat indikatif karena jumlah sampel pengukuran udara relatif kecil. Karena itu, temuan tersebut belum dapat dianggap sebagai bukti yang konklusif.
Menurut Ina, penelitian tersebut memberikan pelajaran penting bahwa perubahan perilaku yang berkaitan dengan tradisi tidak efektif jika dilakukan dengan cara menghilangkan atau menolak budaya masyarakat.
”Tradisi Sei tidak bisa dihapuskan. Hampir semua warga di sana menjalani tradisi Sei ini. Waktu itu kepala dinas kesehatan juga menjalani tradisi itu,” ujarnya.
Tradisi Sei atau praktik panggang api bagi ibu dan bayi hingga kini masih dilakukan, terutama di wilayah Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara.
Mengubah Perilaku dengan Menghormati Budaya
Bagi Ina, pengalaman penelitian tersebut menunjukkan bahwa intervensi kesehatan harus mempertimbangkan nilai budaya masyarakat.
”Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih efektif adalah memahami alasan masyarakat mempertahankan tradisi, melibatkan mereka dalam mencari solusi, serta menawarkan inovasi yang tetap sesuai dengan nilai budaya setempat,” katanya.
Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa peningkatan kesehatan tidak selalu harus berhadapan dengan tradisi. Dengan komunikasi yang tepat dan keterlibatan masyarakat, praktik budaya yang telah berlangsung turun-temurun dapat diarahkan agar lebih aman bagi kesehatan.
Ina berharap penelitian mengenai tradisi Sei dan Ume Kbubu dapat dilanjutkan dalam skala yang lebih besar. Ia juga mendorong kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat, tenaga kesehatan, peneliti, tokoh adat, tokoh agama, dan berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, penelitian lanjutan diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih kuat mengenai praktik Sei, kualitas udara di dalam Ume Kbubu, serta dampaknya terhadap kesehatan ibu dan bayi.









