CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Pena Catra

Bisakah PSI Jadi Pioner Integritas Berdemokrasi?

Penulis: Yuliantoro 1 Feb 2026 6 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
ilustrasi
Bagikan:
0

catrawarta.com - Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep menyatakan kesiapan “memeras seluruh darahnya” demi kemenangan partai. Begitu pun Presiden ke-7 RI Joko Widodo akan bekerja secara maksimal untuk PSI. Hal ini disampaikan saat Rapat Kerja Nasional Partai Solidaritas Indonesia (PSI), 28 Januari–1 Februari 2026 di Makassar. Statement Kaesang itu langsung mendapat tanggapan dari publik. Publik mempertanyakan, apakah PSI yang mengklaim diri “super terbuka” benar-benar menawarkan pembaruan politik atau hanya mereproduksi pola lama dengan kemasan baru.

Sejak awal berdiri PSI memosisikan diri sebagai partai progresif yang mengusung keterbukaan, meritokrasi, dan demokrasi modern. Platform politiknya jelas. Pemberantasan korupsi, penolakan terhadap intoleransi, perlindungan hak asasi manusia, modernisasi pelayanan publik berbasis teknologi, serta reformasi birokrasi yang bersih dan efisien. Segmentasi pemilih diarahkan pada kelompok muda, perempuan, dan masyarakat urban dengan mekanisme rekrutmen terbuka dan klaim kepemilikan kolektif bahwa partai tidak dikuasai oleh segelintir elite.

Demokrasi Beretika Tanpa Politik Uang

Secara konseptual platform tersebut relevan dengan kebutuhan demokrasi Indonesia yang mengalami kelelahan struktural akibat dominasi oligarki dan praktik politik transaksional. Namun demokrasi tidak diukur dari dokumen ideologis melainkan dari konsistensi praktik. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah PSI mampu meraih dukungan elektoral melalui mekanisme yang sepenuhnya demokratis—tanpa politik uang, tanpa manipulasi kekuasaan, menjunjung etika politik dan tanpa eksploitasi wilayah abu-abu etik.

Baca Juga
5 artikel
  1. Pena Catra Teladan Kejujuran →
  2. Pena Catra Keluar dari ”Sarang Penyamun” →
  3. Pena Catra Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan →
  4. Pena Catra Korupsi Bukan Dominasi Elite →
  5. Pena Catra Etika Petinggi Negeri →

Di titik inilah integritas PSI diuji. Kemenangan yang dicapai melalui cara-cara problematik hanya akan menjadikan PSI sebagai reinkarnasi partai lama. Modern secara retorika, tetapi konvensional dalam praktik.

Pemilu 2024 menyisakan pertanyaan serius terkait PSI. Secara visual, atribut partai—bendera, baliho, dan spanduk—terdistribusi luas dari desa hingga kota. Namun secara sosiologis, kehadiran kader dan basis massa relatif tidak tampak. Kampanye terbuka terbatas, konsolidasi akar rumput minim, tetapi perolehan suara menunjukkan capaian yang tidak kecil. Fenomena “menang tanpa proses yang terlihat” ini merupakan anomali politik yang sah untuk dikritisi secara terbuka.

Apabila PSI sungguh-sungguh ingin tampil sebagai pelopor partai demokratis dan bersih, maka ukuran keberhasilannya tidak boleh direduksi pada hasil elektoral semata. Indikator yang lebih substansial terletak pada kapasitas organisasi dan fungsi edukatif partai. Kemenangan politik bermartabat harus bertumpu pada berfungsinya infrastruktur partai. Ranting aktif di tingkat kelurahan, kecamatan hidup dengan diskursus publik, serta kepengurusan kabupaten dan provinsi menjalankan pendidikan politik secara berkelanjutan. Partai politik kuat adalah partai dengan kader yang hadir dan bekerja di tengah masyarakat. Bukan sekadar partai yang mendominasi ruang visual publik.

Klaim Partai Super Terbuka Bisa Runtuh

Pemilu 2029, peluang elektoral PSI memang terbuka. Namun peluang tersebut hanya memiliki legitimasi jika ditempuh melalui prosedur yang transparan dan etis. PSI perlu membuktikan bahwa pendidikan politik lebih bernilai daripada politik uang, kerja kader lebih menentukan daripada efek figur, dan integritas lebih utama daripada kemenangan pragmatis.

Ketika PSI tergoda mengulang pola lama seperti memanfaatkan kekuasaan, menggantungkan diri pada figur dominan, atau menormalisasi praktik abu-abu, maka klaim sebagai partai super terbuka akan runtuh oleh kontradiksi internalnya sendiri.

Rakernas bukan sekedar forum konsolidasi internal, tetapi sekaligus momentum evaluasi publik terhadap konsistensi politik. Pengujian sejauh mana prinsip keterbukaan, etika politik, dan kerja organisasi benar-benar diwujudkan dalam praktik, bukan sekadar dikampanyekan sebagai slogan.

Rakernas Makassar seharusnya menjadi titik transisi strategis, dari partai yang berfokus pada konstruksi citra menuju partai yang secara serius membangun kesadaran kewargaan. Bertolak dari inilah arah masa depan PSI dipertaruhkan. Demokrasi Indonesia tidak sekadar membutuhkan partai yang mampu menang dalam pemilu, melainkan partai yang jujur dalam proses dan bermartabat dalam tujuan.

Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep menyatakan kesiapan “memeras seluruh darahnya” demi kemenangan partai. Begitu pun Presiden ke-7 RI Joko Widodo akan bekerja secara maksimal untuk PSI. Hal ini disampaikan saat Rapat Kerja Nasional Partai Solidaritas Indonesia (PSI), 28 Januari–1 Februari 2026 di Makassar. Statement Kaesang itu langsung mendapat tanggapan dari publik. Publik mempertanyakan, apakah PSI yang mengklaim diri “super terbuka” benar-benar menawarkan pembaruan politik atau hanya mereproduksi pola lama dengan kemasan baru.

Sejak awal berdiri PSI memosisikan diri sebagai partai progresif yang mengusung keterbukaan, meritokrasi, dan demokrasi modern. Platform politiknya jelas. Pemberantasan korupsi, penolakan terhadap intoleransi, perlindungan hak asasi manusia, modernisasi pelayanan publik berbasis teknologi, serta reformasi birokrasi yang bersih dan efisien. Segmentasi pemilih diarahkan pada kelompok muda, perempuan, dan masyarakat urban dengan mekanisme rekrutmen terbuka dan klaim kepemilikan kolektif bahwa partai tidak dikuasai oleh segelintir elite.

Demokrasi Beretika Tanpa Politik Uang

Secara konseptual platform tersebut relevan dengan kebutuhan demokrasi Indonesia yang mengalami kelelahan struktural akibat dominasi oligarki dan praktik politik transaksional. Namun demokrasi tidak diukur dari dokumen ideologis melainkan dari konsistensi praktik. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah PSI mampu meraih dukungan elektoral melalui mekanisme yang sepenuhnya demokratis—tanpa politik uang, tanpa manipulasi kekuasaan, menjunjung etika politik dan tanpa eksploitasi wilayah abu-abu etik.

Di titik inilah integritas PSI diuji. Kemenangan yang dicapai melalui cara-cara problematik hanya akan menjadikan PSI sebagai reinkarnasi partai lama. Modern secara retorika, tetapi konvensional dalam praktik.

Pemilu 2024 menyisakan pertanyaan serius terkait PSI. Secara visual, atribut partai—bendera, baliho, dan spanduk—terdistribusi luas dari desa hingga kota. Namun secara sosiologis, kehadiran kader dan basis massa relatif tidak tampak. Kampanye terbuka terbatas, konsolidasi akar rumput minim, tetapi perolehan suara menunjukkan capaian yang tidak kecil. Fenomena “menang tanpa proses yang terlihat” ini merupakan anomali politik yang sah untuk dikritisi secara terbuka.

Apabila PSI sungguh-sungguh ingin tampil sebagai pelopor partai demokratis dan bersih, maka ukuran keberhasilannya tidak boleh direduksi pada hasil elektoral semata. Indikator yang lebih substansial terletak pada kapasitas organisasi dan fungsi edukatif partai. Kemenangan politik bermartabat harus bertumpu pada berfungsinya infrastruktur partai. Ranting aktif di tingkat kelurahan, kecamatan hidup dengan diskursus publik, serta kepengurusan kabupaten dan provinsi menjalankan pendidikan politik secara berkelanjutan. Partai politik kuat adalah partai dengan kader yang hadir dan bekerja di tengah masyarakat. Bukan sekadar partai yang mendominasi ruang visual publik.

Klaim Partai Super Terbuka Bisa Runtuh

Pemilu 2029, peluang elektoral PSI memang terbuka. Namun peluang tersebut hanya memiliki legitimasi jika ditempuh melalui prosedur yang transparan dan etis. PSI perlu membuktikan bahwa pendidikan politik lebih bernilai daripada politik uang, kerja kader lebih menentukan daripada efek figur, dan integritas lebih utama daripada kemenangan pragmatis.

Ketika PSI tergoda mengulang pola lama seperti memanfaatkan kekuasaan, menggantungkan diri pada figur dominan, atau menormalisasi praktik abu-abu, maka klaim sebagai partai super terbuka akan runtuh oleh kontradiksi internalnya sendiri.

Rakernas bukan sekedar forum konsolidasi internal, tetapi sekaligus momentum evaluasi publik terhadap konsistensi politik. Pengujian sejauh mana prinsip keterbukaan, etika politik, dan kerja organisasi benar-benar diwujudkan dalam praktik, bukan sekadar dikampanyekan sebagai slogan.

Rakernas Makassar seharusnya menjadi titik transisi strategis, dari partai yang berfokus pada konstruksi citra menuju partai yang secara serius membangun kesadaran kewargaan. Bertolak dari inilah arah masa depan PSI dipertaruhkan. Demokrasi Indonesia tidak sekadar membutuhkan partai yang mampu menang dalam pemilu, melainkan partai yang jujur dalam proses dan bermartabat dalam tujuan.

Tags:
#jokowi #Kaesang #Partai #politik #PSI
PenulisYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Pena Catra

Teladan Kejujuran

Wicaksana • 7 Okt 2026
Pena Catra

Keluar dari ”Sarang Penyamun”

Wicaksana • 4 Okt 2026
Pena Catra

Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan

Wahjudi Djaja • 24 Sep 2026
Pena Catra

Korupsi Bukan Dominasi Elite

Wicaksana • 21 Sep 2026
Pena Catra

Etika Petinggi Negeri

Wicaksana • 15 Sep 2026
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
A magnifying glass over a cafeteria tray highlighting a pile of rice on the top compartment with bread and a mug in the background
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026
Firefighter climbs a towering wall of stacked papers as flames rage in the background with people observing from the top
Pena Catra

Kegagapan Menghadapi dan Mengatasi Bencana

Wicaksana • 31 Agu 2026
Wide city avenue leads to a neoclassical government building as journalists with cameras and microphones line the street awaiting a press statement under a red flag
Pena Catra

Akhir Cerita ‘Demonstrasi’

Wicaksana • 28 Agu 2026
Children in white shirts carry buckets and try to douse flames as a wildfire ravages a forest behind them
Pena Catra

Pemadaman Kebakaran Hutan, Jangan Libatkan Anak-Anak!

Wicaksana • 24 Agu 2026
Protesters stand on the roof of a neoclassical government building raising fists beside the indonesian garuda emblem amid cracks and torn banners
Pena Catra

Mengapa Mereka Marah?

Wicaksana • 17 Agu 2026
Rocket bound by chains within a red no entry circle over a city skyline conveying a prohibition or ban on missiles
Pena Catra

Nuklir untuk Perdamaian

Wicaksana • 9 Agu 2026
Indonesian official in a beige uniform and black peci sits at a desk with a microphone tablet papers and a small indonesian flag
Pena Catra

Komunikasi Nirempati

Wicaksana • 3 Agu 2026
Stylized portrait of a high ranking officer in a dark green ceremonial uniform with gold epaulettes medals and a sword seated in a carved chair
Pena Catra

Wirya, Arta dan Winasis

Wahjudi Djaja • 22 Jul 2026
0
Follow us on
Up Next: Ribuan Warga Aceh Masih di Pengungsian
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network